1 Tim 6:2b-10 Pengajar yang hancur

Kepemimpinan yang baik merupakan tantangan di banyak bidang di Indonesia, bahkan di seluruh dunia. Ternyata rasul Paulus menghadapi hal yang sama di Efesus, tempat kadernya Timotius ditinggalkan. 1 Tim 1:3-5 mengantarkan dua segi dari keprihatinannya, ajaran yang sesat dan cara mengajar yang merusak kasih. Karena isi ajaran yang sesat hanya sedikit diuraikan atau ditanggapi dalam surat ini, saya rasa itu cara mengajarlah yang menjadi masalah utama di sana. Setelah berbagai nasihat untuk penertiban hidup berjemaat dalam pp.2-5, Paulus kembali ke tema ini dalam perikop kita secara lebih tajam. Masalah yang dihadapi muncul karena cinta uang.

A.2b merujuk pada semua nasihat sebelumnya, dan dipertegas dalam aa.11dst. Sebelum a.11 Paulus menguraikan masalah ajaran lain. Tolok ukur adalah ajaran Kristus yang terwujud dalam ibadah. Maksud ibadah di sini adalah kesalehan secara menyeluruh, bukan hanya kebaktian formal. Dari 1:5, inti ajaran itu adalah kasih. Gejala penyimpangan adalah keributan karena orang mencari keuntungan (aa.4-5), khususnya uang. Sikap itu dibandingkan dengan sikap yang tepat, yakni rasa cukup (aa.6-8).

Seringkali di gereja, masalah dengan kepemimpinan bukan isi ajaran yang begitu menyimpang melainkan motivasi. Karena beragama penting di Indonesia, gereja menjadi tempat pencarian keuntungan. Misalnya, menjadi pendeta di gereja yang mapan bisa sama penghasilannya dengan menjadi PNS. Menjadi majelis bisa menjadi jalan yang lebih memungkinkan untuk mendapat kedudukan di masyarakat. Malah, menjadi bendahara menjadi jerat bagi beberapa orang. Tentu, masalahnya bukan pada adanya pendapatan atau hormat melainkan pada hati orang.

Kuncinya dalam perikop ini ialah mempertimbangkan hasil. Orang yang sudah belajar, “Asal ada makanan dan pakaian, cukuplah” (a.8), adalah orang yang berbahagia dalam berbagai keadaan. Dia tahu bahwa inti sari manusia bukan kekayaan (karena “kita tidak membawa sesuatu apa ke dalam dunia”) dan bahwa harta dalam dunia mendatang ialah Allah yang kepadanya kita beribadah sekarang (“kitapun tidak dapat membawa apa-apa ke luar”). Itulah sikap iman (a.10). Sebaliknya, hasil orang yang belum belajar demikian ialah nafsu yang hampa, keruntuhan dan duka (aa.9-10). Artinya, orangnya hanya bisa merasa berbahagia sekejap, karena nafsunya tidak pernah puas, dan kejahatannya akan menyusul, entah dalam kehidupan ini entah pada akhirat. Orang-orang yang tidak berbahagia ini yang banyak mengganggu persekutuan jemaat dengan mencari-cari soal, percekcokan dsb.

Tetapi enkau hai manusia Allah, jauhilah semuanya itu…

Iklan
Pos ini dipublikasikan di 1 Timotius dan tag , . Tandai permalink.

4 Balasan ke 1 Tim 6:2b-10 Pengajar yang hancur

  1. Eva Kristiaman berkata:

    Benar, saya sangat diberkati karena mengalami I Tim 6:6 itu. Namun nampaknya perlu dijelaskan lebih lanjut apa yang dimaksud dengan “kesalehan secara menyeluruh” tersebut? Pemahaman saya selama ini “kesalehan” dalam ayat tersebut adalah “berjalan bersama Allah” seperti Henokh. Jadi, “berjalan bersama Allah, disertai rasa cukup (tidak mati kelaparan dan kedinginan), memberi keuntungan/manfaat yang besar”. Berbahagia, karena fokus hidupnya adalah Allah. Jadi BBM atau dollar mau naik atau turun, tidak masalah, karena Allah memelihara dan menyediakan cukup.

  2. abuchanan berkata:

    Ya, itu pengalaman yang menggambarkan maksud Paulus dengan baik. Penjelasan saya bermaksud mencegah pemahaman bahwa ibadah yang dimaksud Paulus hanya soal kebaktian formal saja. Berjalan bersama Allah mencakup semua segi hidup.

  3. Eva Kristiaman berkata:

    Ya, setuju dan tepat. Dari pengalaman yang dibagikan, saya bermaksud mencegah pemahaman bahwa kesalehan sering diartikan secara umum sebagai kebaikan/ hanya berlandaskan kebaikan yang orang itu lakukan; padahal bukan itu yang dimaksud oleh Paulus, kan?

  4. abuchanan berkata:

    Ya, kata yang dipakai dengan jelas merujuk pada kewajiban kepada Allah (atau ilah-ilah kalau orang Yunani di sekitar jemaat).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s