Kel 23:1-9 Perintah Allah adalah kudus, benar dan baik

Tempat Hukum Taurat dalam kehidupan jemaat pernah saya bahas dengan kesimpulan bahwa HT menyatakan kehendak Allah dengan sempurna, tetapi juga secara kontekstual, yaitu untuk Israel yang belum mengenal Yesus dan masih berbasis suku dan tempat. Jadi, kita menerapkannya bukan sebagai aturan mutlak, melainkan sebagai hikmat. Tentu, hikmat dari Allah jangan diremehkan!

Perikop ini termasuk bagian pertama perincian HT setelah perjanjian diadakan dengan Israel (p.19) dan kesepuluh firman disampaikan (p.20). Artinya bahwa aturan-aturan ini termasuk cara Israel meresponsi anugerah Allah yang membawa mereka keluar dari Mesir (20:2). Bagian ini menyangkut berbagai aturan kehidupan bersama, dan menekankan keadilan dan saling perhatian. Aa.1-3 dan 6-8 menerangkan hukum ke-9, “Jangan mengucapkan saksi dusta tentang sesamamu.” Kesejajaran dengan konteks di Indonesia cukup jelas. Menarik bahwa menyebarkan kabar bohong (alias gosip) tergolong di sini. Gosip di tengah masyarakat bisa justru lebih efektif daripada saksi dusta di pengadilan untuk menghancurkan kedudukan orang, karena tidak ada kesempatan untuk menilai atau membantah gosip. Aa.4-6 memperluas hukum ke-8 untuk jangan mencuri, dengan mengusulkan bagaimana harta benda sesama (bahkan musuh!) diperhatikan. Dalam a.9 Israel harus memperbuat kepada orang asing sama seperti apa yang akan mereka kehendaki diperbuat kepada mereka ketika menjadi orang asing di Mesir.

Penerapan perikop ini dalam masyarakat umum saya rasa jelas, tetapi bagaimana dalam jemaat? Adakah perkara dalam jemaat? Menurut 1 Kor 6 bisa saja, dan Paulus menganggap bahwa jemaat semestinya sanggup menanganinya. Yak 2:1-4 juga menunjukkan bahwa jemaat bisa terjebak dalam berpihak kepada orang kaya (bnd. Kel 23:6). Jangan sampai para pengkhotbah giat mengkritiki selumbar di mata pemerintah dan masyarakat, padahal ada balok di mata jemaat! Tentu, dasar untuk nasihat tadi tetap adalah anugerah Allah yang berpuncak dalam Kristus. Kristus membuktikan bahwa Allah tidak mendustai umat-Nya dengan janji-janji berkat-Nya, dan Kristus menunjukkan bagaimana Allah menolong kita ketika kita masih musuh, sehingga yang terasing dari Allah bisa menjadi dekat.

Pos ini dipublikasikan di Keluaran dan tag . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s