1 Sam 14:44-46 Raja Saul tidak dapat diandalkan

Israel dipilih Allah untuk mewakili bangsa-bangsa sebagai “kerajaan imam” (Kel 19:6) supaya janji berkat bagi bangsa-bangsa terwujud (bnd. Kej 12:2-3). Namun, dalam kenyataan Israel menjadi wakil manusia dalam artian yang lain, yakni sebagai pendosa. Terus-menerus Israel bersungut-sungut, tidak percaya dan memberontak. Permintaan untuk memiliki raja adalah bagian dari pola itu. Mereka ingin menjadi seperti bangsa-bangsa yang lain daripada bangsa yang kudus, dengan demikian menolak Allah (1 Sam 8:5-7).

Dalam pp.13-15 Saul tergambar sebagai raja yang tidak tegas, yang cepat mengalah jika rakyat mendesak. Dalam pp.13, 15 sifat itu bermuara pada ketidaktaatan kepada Allah. Dalam p.14 kegelisahan Saul ketika Israel terdesak dalam perang ditanggapi dengan kutuk yang bodoh. Dia tiba-tiba mau tegas pada awal nas kita, tetapi sekali lagi menyerah terhadap permintaan rakyat yang kali ini tepat. Kebodohan dan kelemahannya bercampur di sini. Saul sebagai raja ternyata satu watak dengan umat Israel. Meskipun dia diberkati Tuhan dalam perang (14:47-48), akhirnya dia ditolak Tuhan (p.15).

Sebaliknya, Yonatan adalah pemimpin yang berani dan mengandalkan Tuhan, seperti Daud yang menjadi sahabatnya. Namun, Daud juga jatuh ke dalam dosa, dan Salomo yang mengikutinya. Dalam cerita Alkitab secara keseluruhan, hanya satu yang menjadi orang Israel yang setia dan raja yang sejati, yakni Yesus Kristus.

Tentu melalui contoh buruk Saul dan teladan Yonatan kita dapat belajar tentang kepemimpinan yang semestinya dan menerapkannya kepada pemerintah dan gereja sekarang. Soalnya, kalau sekadar itu penerapannya, bukankah kita akan tenggelam dalam kekecewaan? Kalau seandainya koruptor diganti dengan orang yang lebih baik, toh orang itu juga terbatas. Kekurangan Israel terjawab bukan dengan negeri Indonesia (ataupun AS!) melainkan dengan Kerajaan Allah yang didatangkan oleh Yesus. Konsep kerajaan Allah bukan sekadar kiasan untuk pengalaman religius. Kristus yang bangkit dan diangkat ke sorga adalah Raja yang harus kita taati dan andalkan di atas pemerintah manusia. Dalam keberanian dan pengorbanan Dia seperti Yonatan dan Daud, malah lebih dari mereka karena Dia telah mengalahkan Iblis, dosa dan maut. Jika Dia adalah raja kita, mungkin saja kita akan berani seperti bujang Yonatan untuk ikut dalam perjuangan terhadap hal-hal yang melawan Allah meskipun perjuangan itu secara manusiawi tidak memiliki harapan (14:7).

Selamat berjuang!

Iklan
Pos ini dipublikasikan di 1 Samuel dan tag , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s