12. Amsal

Paulus berdoa untuk jemaat di Filipi, “semoga kasihmu makin melimpah dalam pengetahuan yang benar dan dalam segala macam pengertian” (Fil 1:9). Mengasihi sesama adalah perintah Tuhan, tetapi kasih yang tidak mengetahui dan mengerti keadaan bisa berakibat buruk, sekalipun maksudnya baik. Kemampuan yang dimintakan Paulus itu dapat disebut hikmat.

Kitab Amsal, Ayub dan Pengkhotbah adalah pusat hikmat dalam PL. Sifatnya nampak dalam contoh klasik dari Ams 26:4-5:

Jangan menjawab orang bebal menurut kebodohannya, supaya jangan engkau sendiri menjadi sama dengan dia.

Jawablah orang bebal menurut kebodohannya, supaya jangan ia menganggap dirinya bijak.

Sudah jelas kedua ayat ini bukan perintah, karena kalau demikian maka ada kerancuan besar! Ternyata menanggapi orang bebal dengan tepat bukan soal hukum melainkan soal hikmat, soal mengetahui dan mengerti keadaan sehingga respons tepat untuk keadaan itu. Membaca kedua amsal ini memaksa kita untuk memikirkan kapan masing-masing keadaan yang dibayangkan. Kalau selama ini kita selalu menjawab atau selalu tidak menjawab orang bebal, maka kita akan belajar untuk lebih fleksibel.

Kitab Amsal mulai dengan sembilan pasal untuk memotivasi pembaca untuk menjadi berhikmat. Pasal 8:22dsb menarik, karena menceritakan bagaimana hikmat terlibat dalam dunia sejak dunia diciptakan. Jika dunia diciptakan dengan hikmat, maka cara hidup yang tepat di dunia adalah dengan hikmat. Banyak amsal disampaikan mulai p.10. Ada teka-teki seperti di atas, yang mendorong kita untuk berpikir. Banyak juga yang menyampaikan kebenaran umum, seperti pentingnya hidup dengan rajin (10:4). Kebenaran ini jangan dianggap sebagai janji mutlak—bukankah ada pemalas yang kaya dan orang miskin yang rajin? Tetapi dunia diciptakan sedemikian rupa sehingga pada umumnya pemalas tidak akan berhasil. Hidup rajin adalah hidup yang cocok dengan bagaimana dunia ini diciptakan.

Kitab Ayub dan Pengkhotbah menunjukkan keterbatasan hikmat manusia. Dalam kitab Pengkhotbah kita belajar bagaimana dunia “ditaklukkan kepada kesia-siaan” (Rom 8:20), sehingga hikmat tidak berhasil sebagaimana semestinya. Kitab Ayub menegaskan bahwa penderitaan atau ketidakberhasilan tidak selalu karena alasan yang jelas bagi manusia. Hikmat sangat perlu tetapi hikmat manusia selalu terbatas.

Ketiga kitab hikmat ini penuh dengan hikmat yang praktis dan mengena. Kadangkala khotbah berdasarkan tema mencari-cari nas untuk mendukung tema itu, sehingga cerita dengan makna teologis yang penting dibelokkan untuk melayani tema itu. Sementara tema itu dibahas dengan jelas dan tajam dalam beberapa ayat Amsal! Mencari amsal yang membahas tema tertentu begitu gampang jika memakai konkordansi, dan tinggal memilih dua atau tiga ayat untuk direnungkan dengan teliti. Tidak masalah kalau ketiga ayat tidak berturut-turut. Mulai p.10 dalam kitab Amsal konsep perikop pada umumnya tidak berlaku.

Seri Pemahaman PL

Iklan
Pos ini dipublikasikan di Seri Pemahaman PL dan tag , . Tandai permalink.

Satu Balasan ke 12. Amsal

  1. Ping balik: Amsal 16:20-24 Komunikasi yang berhasil « To Mentiruran

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s