Mrk 10:13-16 Makna menjadi seperti anak

Mengapa murid-murid Yesus memarahi orang yang membawa anak-anaknya? Pembaca Injil langsung teringat akan pasal sebelumnya. Setelah Yesus memberitahu (untuk kedua kalinya) bahwa Dia akan mati baru bangkit, murid-murid-Nya bertengkar soal status. Yesus menjawab dengan menempatkan diri dengan seorang anak (9:37). Hadirat-Nya bukannya ditemukan dalam yang dianggap agung melainkan dalam yang kecil. Status dalam Kerajaan Allah berlaku lain dari dunia. Allah disambut dengan menyambut utusan-Nya Yesus, yang disambut dengan menyambut anak kecil.

Seperti biasa, para murid sudah lupa akan pelajaran Yesus. Daripada menyambut anak dalam nama Yesus, mereka menolaknya. Barangkali mereka menegor orang-orang itu dengan keras karena Yesus berstatus terlalu tinggi untuk direpotkan dengan anak-anak kecil (dan bukankah status mereka bergantung pada status Yesus?).

Kelupaan mereka akan hal yang begitu pokok menjadikan Yesus marah. Soalnya, Dia juga sudah mulai menegaskan kepada mereka pentingnya pertobatan yang sejati supaya masuk ke dalam hidup alias Kerajaan Allah daripada neraka (9:43-48). Ajaran itu juga didahului dengan peringatan agar jangan menyesatkan “salah satu dari anak-anak kecil yang percaya ini” (9:42), yang mulai menempatkan murid sebagai anak kecil. Soal menjadi seperti pelayan dsb bukan sesuatu yang sepele saja.

Oleh karena itu, Yesus memperluas gambaran-Nya tentang anak. Dalam ayat 9:37 menyambut anak adalah menyambut Allah, tetapi di sini menjadi anak adalah menyambut (Kerajaan) Allah. Anak berstatus rendah karena bergantung sepenuhnya, sehingga menjadi cocok sebagai gambaran manusia yang tidak berdaya untuk menyelamatkan diri (bnd. 10:45). Saya duga contoh konkritnya terdapat dalam cerita berikut. Seorang kaya mencari hidup yang kekal, tetapi tidak sanggup melepaskan kebergantungan pada hartanya supaya bergantung pada Allah seperti anak kecil bergantung pada orang tuanya. Atau mungkin dia tidak mau melepaskan statusnya sebagai orang kaya untuk menjadi rendah seperti anak kecil. Atau kedua-duanya! Alhasil, kekayaannya menjadi tangan, kaki atau mata yang menyesatkan tetapi tidak dipotong (9:43-48), sehingga dia tidak masuk ke dalam Kerajaan Allah.

Kemudian Yesus memeluk dan memberkati anak-anak itu. Dengan demikian Dia sendiri menyambut anak kecil, sekaligus memeperlihatkan sikap Ayah-Nya kepada semua yang menyambut Kerajaan-Nya seperti anak kecil.

Jika seandainya ada jemaat yang mengadakan pelayanan sekolah minggu yang asal-asalan dan kurang lebih alasannya supaya anak tidak mengganggu orang tua di kebaktian, apakah hal itu akan menunjukkan hati jemaat yang tidak mau menjadi pelayan kepada yang rendah? Bukan hanya anak, tetapi sikap kita terhadap yang bercacat, kurang waras, tidak berstatus dsb menjadi petunjuk apakah kita sudah menjadi rendah dan bergantung seperti anak. Tidak ada cara lain untuk masuk ke dalam Kerajaan Allah dan menerima berkat Kristus.

Iklan
Pos ini dipublikasikan di Markus dan tag , , , , . Tandai permalink.

Satu Balasan ke Mrk 10:13-16 Makna menjadi seperti anak

  1. tulistulistulis berkata:

    Menarik dan bagus sekali pembahasannya dalam konteksnya soal status. Saya sering membahasnya dalam konteks nilai seorang anak di mata Allah (Matius 18:1-5, dan berikutnya), untuk seorang anak yang percaya kepada-Nya Kristus menyerahkan nyawa-Nya. Sehingga sangat pantas bila seorang menyesatkan seorang anak yang percaya pada Yesus, harus mengganti dengan nyawanya. Benar dan setuju, pelayanan anak harus serius, seserius sikap Allah. Salah satu wujud nyatanya adalah persiapan mengajar yang benar dan hidup sesuai ajarannya, baru mengajar anak.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s