Kej 17:1-14 Allah menjadi Allah kita

Dalam perikop ini janji Allah kepada Abraham dipertegas. Janji Allah pertama-tama disampaikan kepada Abraham ketika dia dipanggil. Kemudian, setelah pernyataan bahwa Abraham dibenarkan karena percaya akan janji Allah (Kej 15:6) Allah mengadakan perjanjian sebagai bentuk hubungan janji dan iman yang sudah dibangun. Selalu janjilah yang pertama dan mendasar. Janji itu adalah respons Allah terhadap keberdosaan manusia yang merusak berkat dan kebaikan ciptaan Allah. Dalam perikop ini berkat itu muncul dalam bentuk beranak cucu (a.6, bnd. Kej 1:28) dan mendiami tanah (kata tanah dan kata bumi dalam 1:28 sama).

Dua hal ditambahkan di sini. Yang pertama ialah adanya raja-raja dalam keturunan Abraham. Hal itu tidak terlepas dari berkat Allah, karena manusia dibuat untuk berkuasa atas bumi (Kej 1:28) tetapi hal itu hancur juga setelah berdosa. Jadi seorang raja dapat memulihkan kuasa manusia itu. Janji raja-raja kemudian dikaitkan dengan keturunan Yehuda (Kej 49:10), yang tentunya digenapi dalam raja Daud, dan setelah kerajaan Israel hancur dalam pembuangan berkembang menjadi harapan Mesias. Kristus Sang Rajalah yang sekarang berkuasa sebagai wakil manusia (bnd. Ibr 2:6-9).

Yang kedua ialah sifat kekal perjanjian itu (a.8, 13). Sifat itu mungkin agak membingungkan jika kita memikirkan bahwa umat Allah tidak lagi terbatas pada tanah Kanaan (sekarang negara Israel di Timur Tengah) ataupun orang Yahudi. Tetapi kitab Wahyu justru membayangkan “suatu kumpulan besar orang banyak yang tidak dapat terhitung banyaknya, dari segala bangsa dan suku dan kaum dan bahasa” (Why 7:9), yang mendapat berkat yang tak terhitung dalam langit dan bumi yang baru (Why 21). Kristus tidak meniadakan janji-janji Allah. Hanya, kita sekarang—seperti Abraham sendiri—ada pada masa penantian. Kita tetap diberkati dengan keturunan—entah lahiriah maupun rohani—sambil menantikan penggenapan janji-janji itu.

Selain menyampaikan janji, perjanjian yang diadakan Allah di sini mengandung bentuk respons Abraham, khususnya sunat sebagai “tanda” (a.11) di dalam daging. Jika janji itu akhirnya menyangkut seluruh dunia, respons ini terkait dengan Israel sebagai bangsa, dan terbatas pada satu tahap dalam sejarah keselamatan. Sekarang iman kepada Kristus yang menentukan siapa yang termasuk dalam tubuh Kristus (Gal 3:26). Memang baptisan berfungsi sebagai tanda keanggotaan itu. Tetapi Yesus mengusulkan saling mengasihi sebagai tanda pengenal yang baru (Yoh 13:34-35; bnd. Gal 5:6), dan barangkali itulah caranya sekarang untuk “hidup dengan tidak bercela” (a.2). Kemudian Paulus, dalam konteks perdebatan tentang sunat untuk bangsa-bangsa, memperlihatkan penderitaan lahiriahnya sebagai pertanda bahwa dia adalah milik Kristus (Gal 6:17).

Adalah suatu anugerah besar bahwa Allah berkenan disebut Allah kita (a.8) dan mengikatkan diri-Nya dengan kita dalam perjanjian, lebih lagi dalam Kristus. Sekiranya kita dapat menangkap dan menghayati identitas itu.

Iklan
Pos ini dipublikasikan di Kejadian dan tag , , , , . Tandai permalink.

2 Balasan ke Kej 17:1-14 Allah menjadi Allah kita

  1. Rahel berkata:

    Halo Ambek, apa kabar? sengan sekali bisa buka blog lagi, dan baca artikel yang meneguhkan tentang janji Allah yang tidak pernah gagal. 2 minggu lalu, berharap bisa buka setelah kembali dari Berlin, tetapi ternyata tidak sempat. tanggal 1 – 5 oktober kami jalan-jalan ke Amsterdam, dan buatku hanya ada satu kata untuk menggambarkan kota tersebut, GILA. apapun yang dicari manusia dalam dunia ini (yang bersifat duniawi) ada di sana. Hari sabtu pagi kami berkunjung ke sebuah gereja besar di pinggiran kota yang bangkunya tinggal beberapa buah, yang menggambarkan jumlah anggota jemaat yang tersisa di gereja itu. menyedihkan. aku jadi bertanya seberapa banyak orang yang masih setia menantikan janji Tuhan di negeri tersebut?

  2. abuchanan berkata:

    Ya, seringkali tidak jauh beda di Australia. Mungkin sekarang Rahel memahami mengapa pernah ada kelompok dari Belanda datang ke jemaat Rantepao membawa 50 kado bagi anak-anak sekolah minggu. Itu banyak di Belanda tetapi sedikit sekali di Rantepao! Tetapi juga, kadangkala benih firman lagi bertumbuh di bawah tanah, misalnya jemaat yang menyewakan gedung sekolah atau jemaat di rumah sehingga tidak menonjol di masyarakat—seperti juga jemaat-jemaat di PB. Gereja mapan lagi dipotong dan ranting-ranting yang lain yang berjiwa misi yang mengambilalih misi itu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s