Kis 17:1-9 Siap menanggung risikonya

Perjalanan misioner kedua yang dijalani Paulus dikisahkan dalam Kis 16-18, dengan serangkaian cerita dalam 16:11-18:16 yang mengikuti pola yang kurang lebih sebagai berikut: Paulus pergi ke tempat yang baru (di sini Tesalonika, a.1); dia menemukan orang Yahudi dalam ibadah dan memberitakan Kristus kepada mereka (a.2-3); ada yang jadi percaya (a.4); dan juga ada yang mengusir (aa.5-9), sehingga Paulus harus pergi ke tempat yang berikut (a.10). Dengan demikian berulang kali kita melihat semangat Paulus dalam menginjili serta keuletannya menghadapi perlawanan.

Dalam peristiwa ini Lukas hanya meringkas pemberitaan Paulus, barangkali karena lengkapnya mirip dengan yang disampaikan di Antiokia Pisidia (13:16-47). Di sini ada dua pokok. Dari PL, yang diterima sebagai kitab suci oleh orang Yahudi, dibuktikan bahwa Mesias harus menderita dan bangkit. Kemudian, diperlihatkan bahwa Yesuslah yang memenuhi nubuatan itu. Kepada orang di Atena Paulus akan memakai cara penyampaian yang lain (17:22dst), karena PL tidak ada artinya bagi mereka. Itulah sifat misioner Paulus yang kontekstual. Namun, tetap penting bagi kita orang non-Yahudi bahwa kedatangan Yesus bukanlah suatu kebetulan, tetapi sudah lama direncanakan Allah.

Yang menjadi soroton dalam perikop ini ialah reaksi orang Yahudi ketika cukup banyak anggotanya bergabung dengan Paulus, khususnya orang Yunani yang sudah lama bergabung di tempat ibadah itu. Cara mereka sudah lazim di Indonesia juga, yaitu mendesak sidang dengan keributan kelompok sewaan. Tuduhan mereka dibuat-buat (aa.6-7), tetapi saya rasa Lukas memuatnya karena ada benarnya juga. Maksudnya, Paulus dkk tidak memberontak terhadap Kaisar dengan mengikuti Yesus, malah orang Kristen justru dipanggil untuk menjadi taat kepada pemerintah. Tetapi pada segi yang lain, kesetiaan orang kristen pertama-tama tertuju kepada Allah, sehingga bukan Kaisar yang dianggap penyelamat, pelindung, sumber kehidupan.

Saya rasa pengalaman Paulus menjadi kemungkinan untuk semua yang memberitakan Kristus. Jika ada yang pindah keyakinan, yang ditinggalkan bisa saja cemburu. (Apakah itu yang melatarbelakangi sebagian penutupan jemaat di Jawa belakangan ini?) Juga, jika hati kita lebih mengandalkan Allah daripada pemerintah, bisa saja pemerintah gelisah. Syukur tidak selalu begitu, sebagaimana dilihat di Berea, kota berikut dalam perjalanan Paulus, di mana orang Yahudi baik hati. Tetapi kita harus siap menanggung risikonya.

Iklan
Pos ini dipublikasikan di Kisah Para Rasul dan tag , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s