Dan 1:1-5 Yang mendapat kesempatan…

Penghancuran kerajaan Israel terjadi secara bertahap-tahap. Pada tahun 605 sM, di bawah raja Yoyakim, Nebukadnezar mengepung dan menaklukkan Yerusalem (bnd. 2 Raj 24:1), kemudian merampas Bait Allah dan membawa beberapa pemuda Israel yang pintar (termasuk Daniel) untuk dididik menjadi pegawai istana raja Babel. Delapan tahun kemudian (597 sM), di bawah raja Yoyakhin, Nebukadnezar menyerang Yerusalem kembali, dan membawa lebih banyak orang kelas atas (2 Raj 24:10 dst). Kali ketiga, di bawah raja Zedekia (587 sM), Nebukadnezar datang kembali, dan kali ini menghancurkan seluruh kota termasuk Bait Allah, dan membawa kebanyakan orang Yerusalem ke Babel (2 Raj 25). Pembuangan ini memperhadapkan orang Israel dengan hidup di tengah bangsa-bangsa kafir.

A.2 mengingatkan kita bahwa semua itu terjadi atas keputusan Tuhan. Tema pokok kitab Daniel adalah kerajaan Allah, khususnya bahwa Allah berkuasa bahkan di tengah bangsa-bangsa kafir, dan bahwa kerajaan-Nya akhirnya akan mengalahkan semua pemerintahan yang lain. Daniel beserta ketiga temannya menjadi saksi dan pemberita tentang kerajaan Allah itu kepada orang-orang Babel. Pendirian Daniel disampaikan dalam p.1 dengan kisah tentang makanan raja yang ditolak Daniel karena najis, dan bagaimana Daniel bertindak dengan hikmat dan disertai Tuhan. Syarat utama dalam kitab Daniel untuk menjadi saksi adalah hikmat dari Tuhan.

Syarat yang kedua terdapat dalam a.4. Raja Babel hanya menerima yang unggul baik dari segi penampilan maupun dari segi kecerdasan. Tentu syarat itu menyangkut konteks pembuangan di Babel. Maksudnya, ada banyak tokoh Alkitab yang dipakai Tuhan yang tidak elok dan tidak menonjol dari segi pendidikan! Tetapi, kelebihan-kelebihan manusiawi dapat dipakai Tuhan dalam konteks seperti Babel, asal orangnya berhikmat dalam Tuhan sehingga Tuhan yang dipermuliakan daripada orangnya sendiri.

Dalam konteks Indonesia, perlu lebih banyak orang seperti Daniel, yang tidak malu menonjol dalam keunggulan. Soalnya, banyak yang mencari keunggulan memang mencari kemuliaan diri sendiri, bukan kemuliaan Allah, sehingga sebagian orang yang saleh dan berbakat menganggap mencari keunggulan itu “duniawi”. Adakah cara mencari keunggulan yang baik? Ada, yaitu mencari keunggulan dengan tujuan untuk berpengaruh bagi Kristus, raja kerajaan Allah, dan dengan kerelaan untuk berpendirian tegas seperti Daniel, biar pun dilemparkan ke dalam gua singa atau perapian. Orang seperti itu tidak sombong, melainkan telah menyerahkan semua bakatnya kepada Allah untuk dipakai sesuai dengan kehendak-Nya.

Pos ini dipublikasikan di Daniel dan tag , . Tandai permalink.

Satu Balasan ke Dan 1:1-5 Yang mendapat kesempatan…

  1. tulistulistulis berkata:

    Benar sekali. Ini sudah menjadi keprihatinan yang lama. Kiranya Tuhan memunculkan banyak “Daniel” dkk di berbagai bidang di tanah air.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s