Mzm 119:1-16 Perenungan firman

Berisi 172 ayat, Mzm 119 adalah mazmur terpanjang dalam kitab Mazmur. Mazmur ini sangat teratur dalam bahasa aslinya, karena setiap ayat dalam satu bait (8 ayat per bait) mulai dengan huruf yang sama, secara berturut-turut. Jadi, dalam bacaan kita, aa.1-8 mulai dengan huruf א (aleph), dan aa.9-16 dengan huruf ב (beth). Oleh karena begitu teratur secara formal, dari segi isi puisi itu terasa berbelit-belit. Saya rasa tujuannya bukan untuk mengajukan argumentasi melainkan sebagai bahan untuk perenungan, sebagaimana diusulkan dalam a.15.

Permulaan dengan ucapan “berbahagia” menempatkan mazmur ini sebagai mazmur hikmat, yang berbicara tentang cara hidup yang baik dan buruk dalam dunia ini. Intinya adalah hidup menurut Taurat atau firman Tuhan. Ada 8 kata yang dipakai dalam mazmur ini untuk firman Tuhan. Firman adalah yang paling umum, yang dikenal dalam Taurat (hukum Musa). Taurat menyampaikan bagaimana Allah mengikatkan diri dalam perjanjian dengan umat-Nya, disertai berbagai saksi atau Peringatan. Perjanjian itu terdiri atas Janji, Perintah dan Hukum. Janji adalah dasarnya, karena Allah selalu telah memberi sebelum menuntut. Perintah (dan Titah) merujuk pada otoritas Allah untuk memerintah, sedangkan hukum menyangkut kasus-kasus yang menunjukkan keadilan firman-Nya yang mengatur kehidupan kita dengan baik. Ketetapan berasal dari kata yang berarti menulis dalam batu, sehingga merujuk pada firman Allah yang tidak berubah. Dalam Perjanjian Baru, Injil yang menggenapi Taurat juga adalah firman Allah yang menyampaikan janji-Nya untuk mengatur kehidupan kita. Adalah anugerah yang luar biasa bahwa Allah menyatakan firman-Nya kepada kita.

Bait pertama bertema hasil dari hidup menurut firman. Salah satunya adalah “tidak mendapat malu”. Jika seseorang hidup menurut firman Tuhan, maka dia layak untuk berdiri tegak di depan sesama. Memang, di bawah dalam mazmur ini nampak bahwa bisa saja orang benar dihina oleh orang fasik (aa.21-23). Tetapi rasa malu jangan ditentukan sepenuhnya oleh orang lain. Yang paling penting adalah pujian Allah.

Bait kedua mulai dengan pergumulan orang saleh akan kelemahannya (a.9). Jalan keluarnya terkait dengan membatinkan firman-Nya. Hal itu terjadi ketika firman Allah menjadi suatu kerinduan (a.10), sukacita (aa.12, 14) dan kegemaran (a.16). Hal itu dibantu dengan kegiatan meditasi, dengan menyimpan janji (a.11), membaca firman dengan teliti (a.13) dan perenungan dan pengamatan (a.15). Fokus pada firman Allah akan membentuk kebatinan orang sehingga firman menjadi pokok dalam hidupnya. Dengan demikian kebahagiaan sejati dari Allah akan menjadi makin nyata dalam kehidupan kita.

Pos ini dipublikasikan di Mazmur dan tag , . Tandai permalink.

Satu Balasan ke Mzm 119:1-16 Perenungan firman

  1. Ping balik: MHB Bab 4 « windakris

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s