Amsal 10:1 Hikmat yang diteruskan

Amsal-amsal Salomo.

Anak yang bijak mendatangkan sukacita kepada ayahnya,
tetapi anak yang bebal adalah kedukaan bagi ibunya.

Sebagaimana ditandai oleh judul “Amsal-amsal Salomo”, pada ayat ini kumpulan amsal dimulai. Pasal-pasal sebelumnya merupakan pendahuluan tentang pentingnya hikmat.

Namun, amsal ini cocok sebagai amsal yang pertama, karena pp.1-9 banyak membicarakan pendidikan dari orang tua kepada anaknya. Hasil pendidikan itu sangat menentukan bagi orang tua. Maksud ayat ini dapat diperluas untuk merujuk pada generasi. Setiap generasi harus belajar bijak (berhikmat), dan pengajar (seperti saya) paling bersukacita ketika generasi berikut bukan hanya menangkap ilmu tetapi mulai dewasa dan terampil dalam menggunakannya.

Ayat ini memperlihatkan beberapa ciri puisi Ibrani. Baris pertama mengalir, dengan kata sifat dan kata kerja. Baris kedua adalah serangkaian kata benda, “Seorang anak, orang bebal, dukacita ibunya”. Suasana dukacita tercermin dalam susunan kalimat yang kaku. Perhatikan juga “ayah” dan “ibu” yang merupakan pasangan kata. Tentu, maksudnya “orang tua”, bukan bahwa ayah hanya bersangkut paut dengan anak yang bijak dan ibu dengan anak yang bebal. Seperti biasa dalam puisi Alkitab, baris pertama dan kedua sejajar, dan harus diartikan bersama.

Pos ini dipublikasikan di Amsal dan tag . Tandai permalink.

5 Balasan ke Amsal 10:1 Hikmat yang diteruskan

  1. william berkata:

    Minggu kemarin, kita baru mendengarkan khotbah mengenai orangtua dan anak dari Efesus 6:1-4. Menarik karena ayat ini juga sempat dibacakan.

    Dukanya anak bebal tercermin dalam susunan kalimat yang kaku ? Kurang mengerti maksud dari kalimat ini. Tolong diperjelas.

  2. abuchanan berkata:

    Terima kasih masukannya, mudah-mudahan perbaikan lebih jelas. Satu ciri bahasa yang efektif adalah bahwa bentuk bekerja sama dengan isi untuk menyampaikan maksud. Dalam puisi (seperti Amsal) segi bentuk makin penting. Hanya, segi bentuk itu biasanya hilang dalam terjemahan. Solusinya adalah belajar bahasa aslinya. :)

  3. Masa Ulina berkata:

    Halo…. boleh ikutan ya. Pembahasan kalian mendalam sekali ya. Tapi saya coba menterjemahkan dalam kehidupan sehari hari kalau kita punya anak yang bijak kira kira dia adalah seorang anak yang berpikir dan bertindak adil, netral dan biasanya dapat diterima oleh berbagai kalangan. lalu kalau dengan anak yang bebal artinya anak itu tidak dapat menerima masukan atau saran atau informasi dari orang lain, selalu jatuh dalam kesalahan yang sama bukan. Saya hanya sekedar mencoba menterjemahkannya dalam perilaku sehari hari semoga masih bisa tepat menurut anda.

  4. abuchanan berkata:

    Halo, selamat ketemu kembali di blog saya! Ya, kebijakan meliputi banyak hal karena mencerminkan dan menanggapi kemajemukan kehidupan. Termasuk ciri-ciri yang disebutkan, yang pasti bisa ditemukan dalam Amsal pp.10-31. Jadi, hikmat itu mendalam sekaligus praktis.

  5. Kaka berkata:

    Shalom, Orang tua bijak dapat mendidik anak sesuai Firman Tuhan dan dapat memberikan teladan. Contoh: Anak berkata “kata Papa tidak berbohong, tetapi papa berbohong”. Kalau kita tidak bisa menjadi teladan untuk anak kita maka akibatnya anak akan memberontak.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s