Amsal 10:2 Mengapa orang bijak berbuat benar

Harta benda yang diperoleh dengan kefasikan tidak berguna,
tetapi kebenaran menyelamatkan orang dari maut.

Jika ayat pertama berbicara tentang bijak/bebal (terkait dengan hikmat), maka ayat kedua ini berbicara tentang benar/jahat. Hikmat tidak sama dengan kebenaran—hikmat terkait dengan kemampuan/keterampilan mencapai tujuan, sedangkan kebenaran terkait dengan cara hidup dengan sesama dan Tuhan yang tepat. Namun, orang yang benar akan mengejar hikmat supaya perbuatannya makin berguna, dan orang yang sungguh berhikmat akan memahami pentingnya berbuat benar.

Betulkah bahwa orang bijak/berhikmat akan berbuat benar? Soalnya, cukup banyak orang yang memiliki keterampilan dalam berencana, membuat jaringan, dan berelasi yang menggunakannya untuk mengejar harta benda. Malah dianggap bodoh jika kesempatan untuk menjamin kesejahteraan keluarga dilewati demi menjaga kebenaran.

Klaim yang mengejutkan dari baris pertama ialah bahwa harta benda demikian tidak menguntungkan. Sepintas lalu klaim itu tidak masuk akal. Jika ada harta benda (bagaimanapun caranya diperoleh) masakan dibilang bahwa tidak ada gunanya? Baris kedua yang menjelaskan. Hikmat yang sejati melihat ke jangka panjang, bukan hanya jangka pendek. Percuma menjadi kaya kalau kemudian mati. Perumpamaan Yesus tentang orang kaya yang bodoh menggambarkan hal itu (Lk 12:16-21).

Jadi, kuncinya baris kedua. Bagaimana kebenaran menyelamatkan dari maut? Hal itu dapat dilihat dari berbagai segi. Paling praktis, masyarakat yang hidup benar/adil akan mengurangi ketidakadilan yang mematikan dan juga akan menghadapi ancaman bersama dalam solidaritas. Tetapi banyak ancaman maut yang hanya dapat dilewati dengan pertolongan Tuhan. Perhatikan kesalehan mendadak yang muncul pada orang jahat ketika dilanda musibah yang tidak dapat diatasi dengan uang! Pada dasarnya, hidup menurut kehendak Allah menuju ke hidup yang selamat dan sejahtera.

Namun, ketika kita membaca ayat-ayat demikian dalam kitab Amsal, kita harus mengingat perspektif lebih luas. Seperti diakui bahkan dalam kitab Amsal sendiri (13:23), dunia ini tidak selalu berjalan sebagaimana semestinya. Dalam kitab Daniel kematian kaum berhikmat karena dibunuh bermuara pada harapan kebangkitan (Dan 12:1-3). Dalam PB, keselamatan dari maut bukan soal tidak pernah akan mati muda, melainkan janji akan kebangkitan setelah mati. Lebih lagi, kebenaran yang menyelamatkan adalah anugerah dari Allah (Rom 5:9). Perspektif PB ini tidak meniadakan hal-hal praktis tadi, melainkan meneguhkannya, karena meskipun banyak orang fasik kelihatan beruntung sampai mati tua kita tahu bahwa keadilan Allah akan berlaku.

Pos ini dipublikasikan di Amsal dan tag . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s