Gal 4,1-11 Setelah genap waktunya…

Kristus membawa kemerdekaan untuk menjadi anak-anak Allah yang dewasa, yang tidak harus dikawal oleh Hukum Taurat lagi karena dosa sudah diatasi. Sayangnya, kita lebih suka aman daripada merdeka, sehingga sistem-sistem keagamaan lebih dipentingkan di atas pengenalan akan Allah. Sifat itu pada gilirannya menghancurkan misi. Kita menjadi terlalu repot mengerjakan sistem untuk menjangkau sesama, dan terlalu kaku menuruti sistem untuk menerima orang yang berbeda dari kita.

Jemaat-jemaat di Galatia sudah mengalami pelepasan dalam Kristus dari dunia yang jahat (1:4) dan hidup baru oleh kuasa Roh Kudus (3:5). Dunia yang jahat barangkali termasuk sistem politik yang bergantung pada kuasa dan jaringan, dan juga roh-roh gelap yang menakutkan. Mereka sudah mengalami identitas dalam Kristus yang aman dari kesewenang-wenangan pelindung, dan kuasa rohani yang meniadakan ancaman kuasa gelap. Kemudian, ada kelompok datang mengusulkan bahwa untuk menjadi pengikut Kristus yang sejati, kita harus menaati Hukum Taurat (HT). Mengapa jemaat tertarik?

Jika tahanan dilepaskan, kita duga bahwa otomatis dia gembira. Tetapi ternyata, sebagian orang demikian jadi stres. Soalnya, selama ditahan, tahanan tidak harus berpikir, mengambil keputusan atau bertanggung jawab. HT juga merincikan bagaimana orang harus menaati Allah. Jika jemaat-jemaat di Galatia sudah gelisah dengan iman kepada Kristus yang sepertinya kurang ritus dan aturan, maka tawaran HT akan menggiurkan.

Paulus menanggapi keinginan itu dengan dua argumen. Yang pertama, dalam rencana keselamatan Allah, HT adalah cocok untuk masa sebelum akil balig. HT berfungsi seperti penuntun dalam keluarga pada saat itu, yang mengawasi anak-anak yang belum siap bertanggung jawab (3:25). Israel belum siap karena di bawah kekuasaan dosa (3:22). Tetapi, setelah genap waktunya, Kristus diutus untuk meniadakan kuasa dosa. Dia datang sebagai orang Israel, di bawah kuasa dosa, untuk menebus Israel yang juga di bawah kuasa HT. Caranya sudah dijelaskan dalam 3:13, yaitu Kristus menanggung kutuk karena dosa. Hal itu memungkinkan pengaliran berkat Allah kepada bangsa-bangsa (3:14), karena HT berfungsi untuk memperjelas keadaan seluruh manusia yang telah jatuh ke dalam dosa dan di bawah kutuk Allah. Dengan akibat dosa sudah ditangani, maka umat Allah sudah boleh akil balig. Sekarang cara menaati Allah adalah dengan iman yang bekerja oleh kasih (5:6). Ketaatan itu akan dinamis dan misioner, sama seperti karya Allah dalam dunia ini dinamis dan misioner.

Argumen yang kedua menyamakan HT dengan sistem-sistem keagamaan yang sudah mereka tinggalkan. Itulah maksud 4:3. Kata “kita” di sini lebih tepatnya “kami” (“kita” dan “kami” tidak dibedakan dalam bahasa Yunani), karena maksud Paulus adalah bahwa Israel belum akil balig sebelum Kristus datang. Sehingga HT adalah semacam ‘roh dunia’, sama seperti dalam a.9 yang terkait dengan berhala-berhala (a.8). Maksud ‘roh dunia’ belum tentu kuasa gelap, melainkan sistem agama/budaya yang menentukan kehidupan manusia. Maksud Paulus ialah bahwa sekalipun Israel memang adalah umat Allah dan bukan budak seperti bangsa-bangsa kafir, akan tetapi hidup beragama di bawah HT praktis sama sifatnya dengan sistem-sistem yang lain, di mana ritus (a.10) dan aturan membatasi kehidupan manusia. Struktur atau sistem yang mereka dambakan akan memperhambakan daripada memerdekakan. Pengenalan akan Allah di dalam Kristus akan dikaburkan oleh sistem itu.

Peringatan Paulus berlaku bagi kita ketika kita mulai mementingkan sistem-sistem keagamaan (baik pribadi maupun gerejawi) di atas Allah yang dikenal dalam Kristus oleh iman. Tentu, sistem dan aturan diperlukan, dan Paulus menegor jemaat Korintus yang terlalu kacau (1 Kor 14:33). Tetapi kita tidak menaati sistem, melainkan menggunakannya. Kita menaati Allah oleh kuasa Roh. Yang penting bukan bahwa jemaat tidak pernah melanggar aturan gereja, melainkan bahwa jemaat bertumbuh dalam kasih. Orang percaya dalam Kristus adalah anak-anak dewasa, sudah akil balig, sanggup menerapkan perintah kasih oleh kuasa Roh tanpa dikawal oleh seperangkat hukum.

Semoga Natal membawa sukacita sebagai anak-anak Allah yang merdeka dari kuasa-kuasa duniawi, baik yang sekular seperti materialisme maupun yang agamawi.

Iklan
Pos ini dipublikasikan di Galatia dan tag , , , , . Tandai permalink.

Satu Balasan ke Gal 4,1-11 Setelah genap waktunya…

  1. eva kristiaman berkata:

    Amin. Selamat Natal! Imanuel.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s