Hermeneutik Misi

Sebuah hermeneutik melukiskan suatu pendekatan untuk menafsir Alkitab, kurang lebih pertanyaan apa saja yang harus diajukan terhadap sebuah perikop untuk menafsirnya dengan tepat. Hermeneutik mendasar mau memahami teks dalam dirinya sendiri, misalnya membaca sebuah surat Paulus sebagai satu kesatuan, sebagaimana dimaksud Paulus sendiri. Tetapi di atas keterampilan mendasar itu, ada banyak pendekatan yang dipakai untuk memaknai Alkitab sekarang. Hermeneutik yang saya pakai dalam renungan di blog ini mungkin bisa disebut hermeneutik teosentris, karena saya bertanya pertama-tama tentang peran Allah dalam sebuah perikop, baru tentang peran manusia. Contoh lain, hermeneutik kecurigaan akan bertanya tentang ketimpangan kuasa yang dinyatakan dalam sebuah teks, dan hermeneutik feminis akan bertanya tentang implikasinya bagi perempuan.

Belakangan ini ada sekelompok sarjana yang mengembangkan hermeneutik misi. Begini empat pertanyaan yang disimpulkan oleh George Hunsberger dari empat penekanan penelitian ini (diterjemahkan dengan agak bebas):

  1. Apa kisah seluruh naratif Alkitab dan bagaimana implikasinya bagi kita? [Terkait dengan missio Dei, yakni misi Allah yang dinyatakan dalam Alkitab]
  2. Apa tujuan dari sebuah tulisan Alkitab dalam kehidupan pendengarnya? [Terkait dengan kita dibentuk dan diperlengkapi untuk berperan dalam misi Allah itu]
  3. Bagaimana gereja dapat membaca Alkitab dengan setia dalam konteks kini dan di sini? [Karena misi terjadi dalam konteks konkret, bukan di awan-awan]
  4. Bagaimana kita dapat menghubungkan tradisi Alkitab dengan konteks kini dan di sini melalui Injil?

Tanggapan Michael Barram menempatkan pertanyaan satu (#1) sebagai kerangka, #2 sebagai tujuan, #3 sebagai pendekatan, dan #4 sebagai lensa (matrix). #3 mau memberi ruang bagi konteks lokal, mengingat bahwa rumusan, program atau tindakan yang cocok di satu tempat (misalnya dunia Barat) belum tentu serba cocok di tempat yang lain (misalnya Toraja). #4 mau melihat Injil sebagai kriterium dalam proses itu. Injil memanggil kita untuk setia kepada Allah; Injil mengaku umum dan universal; Injil menunjukkan kematian dan kebangkitan Kristus sebagai jalan. Kriteria itu dapat membimbing kita untuk memakai Alkitab dengan tepat.

Tanggapan James Brownson menanggapi soal perbedaan yang menurut kaum post-modern akan ditiadakan jika ada kisah besar seperti diandaikan dalam #1. Dia mengusulkan bahwa hermeneutik misi justru menempatkan perbedaan di pusat, karena dalam Kristus ada kesatuan yang tidak meniadakan perbedaan-perbedaan.

Saya rasa tradisi gereja Barat (termasuk yang saya lihat dari keturunannya di Indonesia) pada umumnya sudah biasa dengan #1 dan #2 (di Toraja lebih pada #2, sebenarnya). Akibatnya mengabaikan #3 ialah khotbah yang hanya mengulang jawaban masa lampau. Tetapi jika #3 dilakukan tanpa #4, maka ada relevansi tanpa Injil.

Satu implikasi dari usulan Brownson adalah bahwa tafsiran orang Toraja bagi to toraya sama derajatnya dengan tafsiran orang Barat bagi orang Barat, karena dalam Kristus ada ruang untuk kemajemukan umat Allah.

Iklan
Pos ini dipublikasikan di Teologi dan tag . Tandai permalink.

2 Balasan ke Hermeneutik Misi

  1. Ping balik: Mt 5:17-26 Taurat ala Yesus sebagai sarana misi Allah « To Mentiruran

  2. eva kristiaman berkata:

    Bagus ya, benar, terima kasih. Kalau ada lebih banyak artikel-artikel seperti ini baik sekali.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s