Mt 5:17-26 Taurat ala Yesus sebagai sarana misi Allah

Tempat hukum Taurat kadangkala menjadi pergumulan bagi orang Kristen, lebih lagi bagi orang Toraja jika Taurat dianggap sebagai pengganti Kristen dari aluk sola pemali (adat serta tabunya). Ajaran Yesus lebih halus. Taurat tidak tertinggal, tetapi juga harus dipahami melalui Kristus yang menggenapinya. Aa.17-20 memaparkan prinsip ini, kemudian aa.21-26 menyampaikan contoh pertama Taurat ala Kristus.

Contoh ini menarik, karena Yesus membantah tafsiran ‘hukum positif’ bahwa pembunuhan itu tindakan membunuh saja. Yesus mengajarkan bahwa memarahi dan meremehkan juga tercakup oleh perintah itu. Dasar hukum untuk jangan membunuh adalah Kej 9:6, yaitu karena manusia adalah gambar Allah. Memarahi dan meremehkan orang juga menghina gambar itu (bnd. Yak 3:9). Kemudian, dalam dua cerita pendek yang mengejutkan Yesus mengusulkan jalan lain jika bertentangan dengan orang: berdamai. Hal itu berlaku bagi saudara (aa.23-24) bahkan bagi lawan (aa.25-26). Cerita pertama mengejutkan karena perdamaian diprioritaskan di atas ibadah! Cerita kedua mengejutkan karena lawan itu adalah penagih, yang seringkali tergolong penindas di Galilea. Saya duga bahwa maksud Yesus bukan untuk membenarkan penagih melainkan untuk mengatakan bahwa permusuhan sama dahsyatnya dengan utang kepada penindas. Lebih baik menghargai sesama sebagai gambar Allah dan berdamai.

Nah, jika kita kembali ke posting kemarin, tidaklah sulit untuk mengaitkan ajaran ini dengan perselisihan dan percekcokan yang tidak asing dalam kehidupan sehari-hari di Toraja (dan tentu manusia yang lain—lihat saja komentar di berbagai blog atau koran di internet, bagaimana orang begitu cepat marah dan saling meremehkan). Tetapi hermeneutik misi yang diusulkan kemarin mau memberi kerangka misi Allah bagi nasihat etis ini. Dan saya rasa kerangka ini sangat perlu, karena pada umumnya ajaran etis Yesus dianggap indah tetapi tidak praktis. Hanya jika pengumuman Yesus tentang Kerajaan Allah (KA) dipahami, maka ajaran etis Yesus mulai masuk akal. (Itu bagian kognitif [cara berpikir] dari pertobatan.)

Kedatangan KA menyangkut pembaruan Israel yang bermuara pada keselamatan bagi bangsa-bangsa (lihat misalnya Yes 49:6) serta pemulihan seluruh ciptaan (mis. Yes 35). Kedatangan itu serta respons terhadapnya diangkat sebagai tema utama Yesus dalam Mt 4:17. Langsung Matius menceritakan bahwa ada beberapa orang yang dipanggil Yesus untuk menjadi inti dari Israel yang diperbaharui, seperti Yes 49:6a itu.

Kemudian, dari 4:23 sampai dengan 9:35 (yang sama dengan 4:23) Matius menggambarkan pelayanan Yesus dalam rangka KA itu. Ajaran Yesus dipaparkan dalam pp.5-7 (disebut khotbah di bukit karena 5:1), sedangkan tindakan-Nya digambarkan dalam pp.8-9. P.10 kembali ke para murid, yang diutus untuk melanjutkan pelayanan Yesus itu.

Jadi, khotbah di bukit menyangkut kedatangan Kerajaan Allah melalui Yesus. Itulah tempatnya dalam misi Allah. Yesus mau membentuk mereka supaya cocok untuk KA itu. Jadi, sifat-sifat murid Yesus digambarkan dalam 5:3-12. Perhatikan bahwa intinya adalah sifat yang cocok dengan KA yang akan datang. Tugas mereka digambarkan dalam 5:13-16. Garam dalam PL melestarikan perjanjian (Bil 18:19), jadi para murid Yesus yang sifatnya seperti aa.3-12 menjadi pertanda bahwa perjanjian Allah dengan Israel berlanjut (a.13). 5:14-16 menerapkan misi Israel untuk menjadi terang bagi bangsa-bangsa kepada para murid Yesus. Jadi, Yesus mengikuti pola seperti dalam Yes 49:6, yaitu pembaruan Israel sebagai dasar untuk misi Israel. Kita sebagai Israel plus (Israel ditambah bangsa-bangsa seperti Australia dan Toraja) harus tetap mengikuti pola ini—pembaruan ke dalam dan misi ke luar. Itulah bagian kita dalam misi Allah untuk mewujudkan Kerajaan Allah sampai Kristus datang.

Tetapi apa ukuran pembaruan itu? Bagi Israel dalam PL itu hukum Taurat, dan Tauratlah yang menjadi topik dari 5:17 sampai dengan kesimpulannya dalam 7:12. Dasar pemikiran Yesus disampaikan dalam 5:17-20. Yesus menanggapi kesan bahwa Dia meremehkan Taurat itu (a.17) dengan meneguhkan Taurat sebagai dasar umat Allah (aa.18-19). Hanya, Taurat harus dimengerti dalam rangka kedatangan Yesus sendiri (a.17b). Yesuslah yang akan mewujudkan harapan Taurat akan berkat bagi bangsa-bangsa (Kej 12:3) serta menjadi satu-satunya manusia yang hidup-Nya kudus seperti dituntut Taurat. Tetapi hanya Yesus juga yang sungguh memahami maksud yang sebenarnya dari Taurat, suatu pemahaman yang berlawanan dengan pemahaman para pengajar Taurat yang lain (a.20).

Kemudian, Yesus mengartikan kedua pemahaman ini sebagai dua versi kebenaran, dan 5:21-48 merupakan serangkaian pertentangan antara tafsiran pengajar Taurat dengan tafsiran Yesus. Yang bermunculan ialah pertentangan antara ‘hukum positif’ dengan etika karakter, misalnya antara jangan melakukan tindakan membunuh saja dengan menghargai manusia sebagai gambar Allah. Di balik pemaknaan itu adalah janji para nabi akan hati dan batin yang baru (Yeh 36:26-27; Yer 31:33). Datangnya KA dalam Kristus berarti bahwa umat Allah sudah siap untuk hidup baru, untuk hidup dalam kasih (7:12).

Barangkali, Allah memanggil orang Toraja untuk percaya kepada Yesus supaya mereka juga dapat ikut serta dalam pembaruan (kemudian misi) umat Allah menuju kedatangan Yesus kembali. Kematian dan kebangkitan Yesus meneguhkan janji KA, dan pencurahan Roh Kudus memperjelas bagaimana pembaruan itu dapat terwujud. Tetapi pembaruan itu akan terhambat jika ketaatan kepada Allah tidak dipahami dengan tepat. Jika Taurat ditafsir sebagai pemali (tabu) Kristen yang menjadi alat untuk mencegah musibah dan mendatangkan berkat, maka pembaruan diri dan pembaruan umat tidak akan dipahami. Yang diperlukan adalah mengalihkan harapan dari ketaatan ke janji Allah. Jika janji-janji KA dalam Mt 5:3-8 didambakan, jika ada kerinduan untuk mendapat Kerajaan Allah, untuk dipuaskan dengan kebenaran, untuk melihat Allah, maka ajaran Yesus menjadi cara untuk dibentuk dan diperbaharui, bukan alat untuk selamat.

Iklan
Pos ini dipublikasikan di Matius dan tag , , . Tandai permalink.

Satu Balasan ke Mt 5:17-26 Taurat ala Yesus sebagai sarana misi Allah

  1. Ping balik: 1 Kor 3:1-9 Ladang Tuhan yang Rohani [12 Feb 2017] | To Mentiruran

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s