Kebakaran di Australia

Sepertinya berita tentang kebakaran di Australia sampai di Indonesia. Lebih lagi, ada sejuta dolar dari pemerintah Indonesia yang dijanjikan untuk membantu korban. Banyak orang di Australia terperangah atas musibah ini. Saya sendiri kaget akan reaksi itu sampai saya membaca bahwa musibah ini yang terbesar sepanjang sejarah (orang putih di) Australia di luar masa perang. Mungkin saya terlalu lama di Indonesia, karena 200 lebih orang tergolong musibah sedang di Indonesia, sayangnya. Artinya bagi saya bahwa kedahsyatan yang dialami sekarang di Australia dialami berulang kali di Indonesia.

Musibah seperti ini menimbulkan pertanyaan tentang tangan Tuhan di dalamnya. Di antara orang sekuler (seperti dunia Barat) orang berbicara tentang korban yang tidak bersalah, kemudian menuding Tuhan sebagai tidak adil (jika Tuhan disebutkan). Di antara orang beragama ada anggapan bahwa korbannya justru dihukum Tuhan.

Untuk memecahkan masalah ini, nas yang paling penting bagi saya adalah Lk 13:1-5. Menanggapi dua musibah—yang satu karena kejahatan manusia, yang satu karena kecelakaan—Yesus membantah kedua pendapat di atas. “Sangkamu orang-orang Galilea ini lebih besar dosanya dari pada dosa semua orang Galilea yang lain?”, kata-Nya. Pengandaian-Nya bahwa di hadapan Tuhan semua orang di Galilea adalah orang berdosa. Tidak ada korban yang tidak bersalah dalam artian tidak layak mati karena dosa. (Dalam artian tidak bertanggung jawab atas musibahnya, tentu ada korban tak bersalah.) Keadaan dunia yang secara umum sulit adalah akibat dosa manusia secara umum (demikian pesan Kej 3:17-19). Secara ekologis, teknologi manusia sudah menjadikan dosa kita (keserakahan, nafsu berkonsumpsi yang tak terkendali) penyebab langsung dari berbagai masalah bumi.

Tetapi yang dialamatkan Yesus di sini ialah orang beragama yang menganggap orang lain lebih berdosa karena kena musibah. Seakan-akan saya orang benar karena tidak kena! (Seringkali anggapan itu berlaku untuk musuh atau “orang lain”.) Tetapi menurut perkataan Yesus, mereka adalah orang berdosa, sama seperti kita. Hanya karena anugerah Tuhan sehingga kita masih diberi kesempatan untuk bertobat sebelum kita juga meninggal (a.3).

Pesan kitab Wahyu sama, walaupun bentuknya lebih mengerikan. Malapetaka demi malapetaka digambarkan di dalamnya. Salah satu kunci terdapat dalam Why 9:20—”Tetapi manusia lain, yang tidak mati oleh malapetaka itu, tidak juga bertobat dari perbuatan tangan mereka”. Malapetaka bukan hukuman khusus untuk korbannya, melainkan peringatan bagi yang tersisa untuk kembali ke Tuhan.

Oleh karena itu, kasihan kepada korban itu tepat. Kita tidak layak untuk menambahkan hukuman kita atas hukuman Allah. Sebaliknya, semestinya kita tersadar, kemudian bertobat dan mulai mengasihi sesama, biar dia adalah musuh.

Iklan
Pos ini dipublikasikan di Renungan dan tag , , . Tandai permalink.

3 Balasan ke Kebakaran di Australia

  1. Alberthin Banne berkata:

    Mudah2an keluarga korban kebakaran diberi ketabahan oleh yang Maha Kuasa.

    Mendengar, apalagi menyaksikan kebakaran walaupun cuma lewat media TV) membawa trauma tersendiri bagi saya secara pribadi. Saya pernah hampir terbakar pas lagi enak tidur (subuh). saya mencium bau asap disekitar tempat tidur, ternyata bantal saya sudah habis terbakar. api berasal dari obat nyamuk bakar yang saya pasang karena banyak nyamuk. mungkin ini peringatan buat saya supaya lebih hati2 lagi dengan api.

  2. Mega Sambo berkata:

    Saya turut bersedih atas musibah kebakaran yang terjadi di Australia. Saya berdoa dan berharap semoga orang yang mengalami musibah ini dapat tabah dan kuat. Saya yakin Tuhan senantiasa menyertai dan memberkati setiap orang yang berserah kepadaNya.Kita bisa kehilangan segalanya tetapi kita tidak akan pernah kehilangan kasih dari Tuhan.Amin

  3. eva kristiaman berkata:

    Benar, dan saya empati karena mengalami empat kali peristiwa kebakaran. Yang paling parah di Jakarta, waktu saya tinggal di kelurahan Kartini, 150 kk rata dengan tanah, hanya empat rumah yang selamat, yang paling utuh tempat kos saya. Karena mobil pemadam tidak bisa masuk gang kampung, jadi lewat rumah kos ini, sumber apinya persis di belakang rumah kos. Rumah ini menjadi rumah penyalur berkat Tuhan bagi para korban yang berdatangan, lebih dari posko yang ada. Benar. bukan karena kami lebih benar, tapi agar jadi berkat di tengah masyarakat. Bersyukur ini juga yang sedang berlangsung di Australia.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s