Praanggapan yang melandasi teologi kontekstual

Di satu tempat (h.21) Bevans menyebutkan soal orientasi teologis yang mendasar. Maksudnya bahwa ada beberapa hal yang merupakan praanggapan yang melandasi banyak hal yang lain, termasuk pendekatan terhadap kontekstualisasi. Tempat konteks dan Alkitab dalam berteologi yang saya bahas waktu yang lalu adalah salah satunya. Praanggapan itu dibentuk oleh pengajaran dan pengalaman, tetapi dapat juga dibahas dan dipertimbangkan.

Hal itu dapat dilihat dalam sejarah teologi Barat. Renaisans mulai membangun semangat individualistis dalam masyarakat Eropa, sehingga otoritas (khususnya gereja) mulai dilihat sebagai ancaman terhadap otonomi manusia. Reformasi berupaya untuk menempatkan otoritas bukan pada gereja yang manusiawi melainkan pada Alkitab saja sebagai firman Allah, tetapi banyak wilayah Protestan sama otoriternya dengan wilayah Katolik. Kemudian permusuhan antara Katolik dan Protestan yang bermuara pada serangkaian perang pada abad ke-17 mengikis wibawa moral Alkitab yang diklaim sebagai landasan gereja. Hal itu membuka kesempatan untuk orang mempertanyakan etika Alkitab sendiri, seperti perang suci. Kemudian, kemajuan sains membuktikan kemampuan manusia untuk mendapat pengetahuan di luar penyataan Alkitab, dan menimbulkan pertanyaan tentang mujizat dalam Alkitab. Muncullah teologi liberal pada abad ke-19 sebagai usaha untuk mempertahankan nilai-nilai religius dan etis yang berkaitan dengan Kristus, sedangkan sebagian dasar iman tradisional (seperti kebangkitan-Nya atau keilahian-Nya) dianggap tidak meyakinkan lagi.

Sampai sekarang hal-hal yang serupa (penyalahgunaan Alkitab, kebobrokan gereja, bahan tertentu dari Alkitab sendiri, perkembangan dunia modern) menjadi alasan mengapa dianggap penting menyeimbangkan Alkitab dengan pengalaman manusia. Anggapan itu berfungsi sebagai praanggapan, suatu kecenderungan yang mempengaruhi apa yang masuk akal dan apa yang tidak. Sebagai contoh praanggapan, bagi saya sebagai orang Injili, tidak masuk akal percaya kepada Kristus dan berkecimpung dalam gereja kalau Yesus tidak bangkit. Bagi beberapa teolog kontekstual yang dibahas Bevans, kebangkitan tubuh Kristus tidak masuk akal dan dilihat sebagai metafora (cara membahasakan) semangat baru pada murid-murid-Nya setelah penyaliban-Nya. Karena menyangkut praanggapan, beradu argumentasi tidak akan mencapai persetujuan, namun dapat memperjelas perbedaannya.

Mengenali praanggapan yang berlaku dapat mengurangi rasa jengkel terhadap pendapat yang berbeda, dan memungkinkan kita untuk belajar dari orang lain. Belajar belum tentu berarti kita mengganti praanggapan kita dengan praanggapan mereka. Kita dapat menggunakan berbagai gagasannya setelah disesuaikan dengan praanggapan kita.

Tiga praanggapan yang mau saya bahas selanjutnya adalah soal epistemologi (bagaimana mengetahui), soal penciptaan atau penebusan, kemudian soal rujukan Alkitab.

Iklan
Pos ini dipublikasikan di Seri Teologi Kontekstual dan tag , . Tandai permalink.

Satu Balasan ke Praanggapan yang melandasi teologi kontekstual

  1. Ping balik: Bagaimana caranya saya mengetahui sesuatu? « To Mentiruran

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s