Bagaimana caranya saya mengetahui sesuatu?

Jawaban yang paling sederhana (paling sedikit untuk budaya Barat sejak Pencerahan) adalah karena saya melihatnya (empirisisme) atau karena saya memikirkannya (rasionalisme). Saya melihat halilintar, saya mendengar guntur, saya mengetahui bahwa ada badai. Saya memikirkan satu ditambah satu dan mengetahui bahwa hasilnya dua.

Persoalannya menjadi lebih rumit ketika disadari bahwa dunia luar yang saya alami tidak dialami di luar melainkan di dalam akal saya. Jadi, empirisisme dan rasionalisme harus berpadu (begitu penemuan filsuf Immanuel Kant). Ketika halilintar bercahaya sekejap, ada sinar yang mengenai mata yang dikonversi menjadi aliran dalam saraf yang diproses dalam otak sampai ada kesadaran bahwa halilintar terjadi. Halilintar terjadi di luar, kesadaran terjadi di dalam. Pengalaman dimungkinkan oleh indera kita, tetapi juga dibatasi olehnya. Misalnya, mata tidak dapat melihat sinar inframerah.

Ketika budaya Eropa berhadapan dengan budaya-budaya yang lain, muncullah kesadaran bahwa pengalaman juga dimungkinkan (dan dibatasi) oleh budaya. Orang dari budaya yang belum mengenal huruf memang mampu melihat adanya coret-coretan pada suatu kertas, tetapi tidak dapat memaknainya. Karena tidak dapat dimaknai, kemungkinan kecil coret-coretan itu akan diperhatikan. Demikian juga saya melihat kerbau belang sebagai binatang yang besar, sedangkan orang Toraja terperangah oleh keindahannya. Kerbau yang dilihat satu, tetapi pemaknaan masing-masing berbeda.

Jadi, sejauh mana pengetahuan terletak di luar akal (di dunia nyata) dan sejauh mana di dalam akal? Untuk dunia fisik (seperti kerbau dan halilintar) pertanyaan ini tidak usah terlalu dipermasalahkan. Kerbau ada di luar otak saya, dan otak saya yang dibentuk oleh budaya dan pengalaman memperhatikan dan memaknai sebagian dari data yang sampai di mata. Pandangan ini disebut realisme, yaitu bahwa ada dunia yang real (nyata) yang melandasi pengalaman saya akan dunia itu. Epistemologi realisme eksternal menganggap bahwa kenyataan itu sudah lengkap, sehingga tinggal akal mengenali ciri-cirinya yang benar. Realisme kritis menganggap bahwa kenyataan itu cukup rumit sehingga berbagai rumusan diperlukan untuk mengetahuinya. Sebagai contoh, sebuah kota begitu rumit sehingga ada berbagai peta. Ada peta angkutan umum, peta batasan bagian-bagian pemerintahan, peta jalan, peta tempat wisata dsb. Semua peta berkaitan dengan kenyataan kota itu, tetapi semuanya juga tidak menangkap seluruhnya.

Tetapi bagaimana dengan hal-hal di luar dunia fisik dan logika, seperti etika, keindahan, ataupun iman? Alkitab tidak bermaksud untuk memberitahu manusia tentang dunia fisik ataupun logika, tetapi banyak berbicara tentang Allah dan tentang manusia sebagai makhluk yang beriman dan bertindak. Sampai sekarang di dunia Barat ada yang membatasi pengetahuan yang sejati pada dunia fisik (kurang lebih yang dapat diukur oleh ilmu sains) dan yang dapat dipikirkan secara logis (logika dan matematika). Hal-hal yang lain ditaruh pada kotak “nilai”, hal-hal yang berlaku bagi orang atau budaya, tetapi bukan pengetahuan yang sejati (berlaku untuk semua). Kalau (pra-)anggapan itu benar, maka Alkitab tidak usah dianggap kebenaran mutlak. Saya ambil nilai kerajinan sebagai contoh.

Jelas bahwa saya menilai apakah orang tertentu rajin atau malas berdasarkan ukuran dalam akal saya, yang dibentuk oleh budaya dan pengalaman. Adalah fakta sosial bahwa sikap rajin dihargai baik dalam budaya Barat maupun dalam budaya Indonesia, walaupun bentuknya berbeda juga di antara kedua budaya itu. (Contoh klasik dari fakta sosial adalah uang. Kertas yang bergambar itu hanya berlaku sebagai uang karena pemerintah mengesahkannya sebagai uang dan masyarakat percaya kepada pengesahan itu.) Ilmu seperti sosiologi meneliti hal-hal seperti nilai sebagai fakta sosial, atau dalam kata lain secara fenomenologis (= sebagaimana nampak dalam sebuah masyarakat). Epistemologi realisme konseptual mengatakan bahwa nilai tidak berada di luar akal, tetapi bermakna dalam jaringan ide-ide yang lain. Misalnya, kerajinan berkaitan dengan nilai seperti pentingnya menghidupi keluarga, berkontribusi kepada masyarakat dsb. Epistemology nonrealisme lebih radikal lagi, dan mengatakan bahwa hal-hal seperti nilai dipaksakan kepada kita oleh budaya dan/atau yang berkuasa. Misalnya, nilai kerajinan adalah cara bisnis untuk memaksimalkan keuntungan dari para buruh. Kedua epistemology ini akan cenderung ke relativisme. Jadi, sains (dan matematika) adalah benar secara mutlak, tetapi etika dan agama adalah benar per budaya atau kelompok.

Namun, ada argumentasi bahwa kerajinan dan berbagai nilai yang lain adalah nyata, di luar manusia. Faktanya, hampir semua budaya menghargai kerajinan (paling sedikit untuk sebagian masyarakatnya). Soalnya, adalah sulit membayangkan masyarakat yang sejahtera jika kemalasan dijunjung tinggi. Memang cara kerajinan itu adalah nyata lebih mirip dengan kebenaran matematika daripada kerbau atau halilintar. Tetapi masyarakat yang mengabaikan nilai itu akan mengalami akibat etisnya, sama seperti masyarakat yang memakan ikan yang beracun akan mengalami akibat fisiknya, lepas dari apa yang ada dalam akalnya. Kitab Amsal mengatakan hal yang sama. Dalam Ams 8:22-31 hikmat terlibat dalam penciptaan, artinya nilai-nilai hikmat tertanam di dunia, di luar manusia. Oleh karena itu, manusia mendapatkan hidup dalam dunia ini dengan mendapatkan hikmat (8:35).

Jika demikian, epistemologi yang cocok untuk nilai adalah realisme kritis. Perlu banyak pendekatan dan peta untuk menangkap kenyataan nilai-nilai, seperti (dalam Alkitab) amsal, perumpamaan, cerita dan ajaran. Realisme kritis juga membuka peluang untuk penafsiran dalam konteks, karena sebuah penafsiran kontekstual merupakan peta tentang Alkitab, bukan satu-satunya penjelasan.

Sumber: Kirk, J. Andrew, and Kevin J Vanhoozer. To Stake a Claim : Mission and the Western Crisis of Knowledge. 1999.

Iklan
Pos ini dipublikasikan di Seri Teologi Kontekstual dan tag , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s