Ams 4:1-13 (1) Pentingnya hikmat

Amsal pp.1-9 mengkhotbahkan pentingnya memperoleh hikmat. Pasal-pasal ini berbentuk nasihat seorang ayah kepada anaknya, dan segi itu saya bahas di posting berikut. Posting ini berfokus pada hikmat sendiri.

Maksud hikmat dapat digambarkan dari lebah berjenis sphex yang bertelur di sarangnya, kemudian menyengat serangga sehingga lumpuh tetapi masih hidup. Lebah menyeret serangganya ke ambang sarang, lalu memeriksa di dalam lalu membawa serangga itu ke dalam untuk menjadi makanan bagi anak-anaknya setelah menetas. Tingkah laku lebah itu pintar, tetapi tidak berhikmat. Soalnya, jika serangganya digeser beberapa sentimeter dari sarang, ketika lebah keluar dari lobang sarang lebah akan mengulang tindakannya. Lebah akan kembali membawa serangganya ke ambang sarang, lalu masuk untuk memeriksanya. Ada peneliti yang mengulang menggeser serangga itu sampai 40 kali, dan setiap kali tindakan lebah sama. Lebah tidak dapat belajar dari pengalaman. Lebah tidak berhikmat, sama seperti manusia (jemaat, pelayan) yang membuat kesalahan yang sama dalam cara kerja dan berelasi berulang kali tanpa berubah.

Maka kita dianjurkan untuk memperoleh hikmat (aa.5, 7). Dengan demikian kita akan dipelihara (a.6), lebih lagi ditinggikan (a.8-9). Hikmat akan memberi kita kemampuan untuk belajar dari pengalaman dan dari orang lain (a.1) sehingga apa yang kita usahakan dapat terwujud (a.12). Hikmat membawa hidup (a.13). Dalam a.10 ada janji umur yang panjang seperti dalam hukum kelima. Salah satu alasan untuk menghormati orang tua adalah belajar dari hikmat mereka.

Tentu, kita harus selalu menempatkan janji hikmat dalam konteks perlawanan dunia terhadap Allah. Dalam Dan 11:33 orang berhikmat “jatuh oleh karena pedang dan api” karena setia kepada Allah. Yesus menegaskan bahwa kita akan mendapat perlawanan sama seperti Dia dilawan. Namun, janji hidup tetap berlaku. Dalam Dan 12:2-3 ada nubuatan bahwa orang bijaksana itu akan bangkit dari antara orang mati, dan kebangkitan Yesus menjamin hal itu juga. Untuk sementara, hikmat membantu kita untuk bertekun dalam kesusahan (Yak 1:2-5) dan untuk mengasihi sesama (Fil 1:9).

Sekarang, di Indonesia sama seperti di dunia Barat, banyak masyarakat kurang berhikmat. Di Toraja saya duga bahwa hikmat dalam aluk (adat lama Toraja) hilang, sementara penggantinya dalam kekristenan tidak dicari. Sehingga misalnya, gengsi mengganti hormat sebagai tujuan, rakyat gampang terpancing dan tertipu, dsb (tambahlah dengan keluhan favorit masing-masing :). Respons yang diperlukan saya bahas dalam posting berikut.

Pos ini dipublikasikan di Amsal dan tag , , . Tandai permalink.

4 Balasan ke Ams 4:1-13 (1) Pentingnya hikmat

  1. Ping balik: Ams 4:1-13 (2) Meneruskan hikmat « To Mentiruran

  2. Pdt. Karoma' berkata:

    Hikmat di Toraja dalam kaitan dengan Aluk Todolo masih nampak kental di Sangalla’yang terpelihara dalam bentuk “adat” dan sebenarnya hal ini yang menjadi satu tantangan tersendiri bagi hamba Tuhan yang melayani di Sangalla’. Sebagian anggota jemaat (khusus Sangalla’) justeru lebih takut melanggar adat daripada melanggar Firman Tuhan, karena adat kata mereka, tidak bertentangan dengan iman Kristen, namun selaku hamba Tuhan saya melihat bahwa adat itu sangat tercampur dengan Aluk Todolo.

  3. abuchanan berkata:

    Terima kasih komentarnya, Pak. Jika jemaat takut melanggar adat, soal ketakutan itu gejala bahwa kemenangan Kristus belum dihayati. Jangan sampai Firman Tuhan menjadi “pemali” kristen saja, karena dalam Kristus kita taat karena pembaharuan, bukan karena ketakutan. Jika jemaat mengenal Kristus, mereka akan ingin menaati Firman, dan kehilangan rasa takut akan adat.

    Maksud saya di atas bahwa dulu orang dalam aluk belajar bagaimana berdamai, misalnya, tetapi sekarang cara lama terlupa, dan cara dalam Kristus belum diikuti. Sehingga sebagian masyarakat sulit berdamai.

    Salama’

  4. theonatumnea berkata:

    Kita sadar bahwa cara & tradisi lama banyak yg positip & banyak juga yg negatip, dapat dimengerti karena terciptanya budaya itu para tokoh adat masih dalam status belum percaya dan belum beriman kepada Tuhan Yesus. Nah pada saat ini banyak adat yg hilang, namun kenyataan bahwa cara baru belum mengkristal atau belum siap untuk menggantikan adat lama oleh para tokoh Kristiani. Karena itu dianjurkan agar pelatihan pemuda gereja agar menghilangkan cara adat yg negatip dan mengdukung cara cara adat yang positip atau disucikan, sehingga warga jemaat yang siap untuk meniru perubahan itu dari yang negatip nilainya dirubah dan positip nilainya dipertahankan sehingga ada pegangan warga jemaat dalam frman Allah oleh Yesus Kristus jadi perlu pelatihan terus menerus sampai nilai-nilai itu mengkristal dan siap untuk menggantikannya sebagai adat baru yang disempurnakan oleh Yesus

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s