Ams 4:1-13 (2) Meneruskan hikmat

Ams pp.1-9 berbicara sebagai ayah kepada anaknya. Malah, dalam perikop ini sang ayah menyebutkan ayahnya sendiri (aa.3-4). Sang ayah meneruskan hikmat dari leluhurnya kepada generasi berikut. Posting yang lalu saya menjelaskan hikmat sebagai kemampuan untuk belajar dari pengalaman. Tetapi sebagai manusia yang berbahasa, kita bisa juga belajar dari pengalaman orang lain, dan tradisi hikmat adalah endapan dari pengalaman banyak orang berhikmat.

Satu pengamatan di Toraja (berdasarkan beberapa skripsi mahasiswa) ialah bahwa hanya sedikit keluarga yang mengajarkan iman di rumah, dengan misalnya ayah/ibu membaca Alkitab dan keluarga berdoa bersama. Tidak ada penerusan hikmat kepada generasi berikut. Satu usulan mengapa begitu ialah bahwa pada tahun 50an dan 60an banyak orang masuk ke dalam Gereja Toraja, tetapi program pembinaan warga gereja yang baru terhambat. Sehingga banyak ayah dan ibu tidak mengenal imannya pada tingkat yang cukup untuk meneruskannya kepada anak-anaknya, yang pada gilirannya tidak mampu meneruskannya kepada generasi berikut. Pengajaran iman dipercayakan kepada gereja saja, sehingga yang dipelajari adalah doktrin-doktrin atau prinsip-prinsip umum saja, bukan hikmat kristiani yang dipelajari dalam seluk-beluk kehidupan sehari-hari.

Tentu, gambaran ayah dan anak dalam perikop ini tidak terbatas pada keluarga jasmani. Salomo merintis birokrasi di Israel, dan kemungkinan besar penulisan tradisi hikmat yang selama itu lisan dilakukan untuk mendidik para birokrat. Dalam konteks itu ayah berarti mentor, dan anak berarti kadernya. Rasul Paulus juga menggambarkan hubungannya dengan jemaat di Tesalonika sebagai ayah/ibu dengan anak-anaknya (1 Tes 2:7-12). Dia membagi bukan saja Injil tetapi hidup, sehingga mereka tidak hanya mempelajari doktrin-doktrin melainkan juga pola hidup seorang percaya. Yang mendasari semuanya ialah Yesus sebagai Anak Allah yang oleh Bapa-Nya diajar (lihat Yoh 5:19-20) dan dididik dengan penderitaan (Ibr 5:7-9), sehingga kita sebagai saudara-saudara Yesus ikut dididik oleh Allah (Ibr 12:5-6). Jika Yesus diajarkan Bapa-Nya, betapa lebih lagi kita memerlukan pembinaan.

Dalam rangka itu ada yang mencoba menerapkan kelompok kecil, dan yang saya dengar ada yang sukses, ada yang tidak. Saya duga yang sukses itu karena ada anggota di dalam kelompok yang mampu menjadi ayah/ibu rohani kepada anggota-anggota yang lain (belum tentu pemimpin yang ditunjuk). Pola itu saya dorong, karena saya sendiri besar dalam keluarga kristen yang tidak membagikan iman di dalam keluarga. Saya mulai belajar beriman dan berhikmat secara beriman dalam kelompok kecil pemuda di gereja, kemudian dalam pelayanan mahasiswa. Namun, dalam tradisi Calvinis perkunjungan pelayan kepada warga jemaat memiliki tujuan yang sama, yaitu pelayan menjadi ayah/ibu rohani (biasa disebut gembala) kepada warga jemaat. Namun, ada kesulitan yang sama seperti di atas jika pelayan sendiri belum dewasa dalam iman.

Gereja yang tidak berhikmat lagi perlu merenungkan peringatan Yesus tentang garam yang tawar. Jalan keluar tercantum dalam perikop ini, saya rasa. Kita perlu orang tua rohani yang siap mendidik (a.1), memberikan ilmu (a.2) dan mengajarkan jalan hikmat (a.11). Sebagai orang yang ditunjuk oleh gereja sebagai pelayan, keperluan itu menjadi tantangan bagi saya. Kita semua juga perlu menjadi seperti anak, siap mendengarkan dan memperhatikan supaya beroleh pengertian (a.1 dst). Adakah sarana dalam budaya Toraja yang dapat membantu proses yang medesak ini?

Pos ini dipublikasikan di Amsal dan tag , . Tandai permalink.

2 Balasan ke Ams 4:1-13 (2) Meneruskan hikmat

  1. Ping balik: Ams 4:1-13 (1) Pentingnya hikmat « To Mentiruran

  2. eva kristiaman berkata:

    Ya benar sekali. Saya dibesarkan di keluarga yang membagikan iman (ibadah dalam keluarga). Namun kenyataan yang memprihatinkan ini tidak hanya dalam keluarga kristen di Toraja saja, tapi di seluruh dunia. Ibadah dalam keluarga kristen sudah menjadi langka. Padahal Tuhan menghendaki (memerintahkan) para orang tua menceritakan perbuatan besar yang dilakukan Tuhan dari generasi ke generasi. Saya berdoa artikel yang dikhotbahkan ini diberkati Tuhan, dan ada penerapan nyata di keluarga.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s