Yer 29:1-9 Keadaan sebagai perantau

“Kesejahteraan kota adalah kesejahteraanmu” (Yer 29:7) adalah pesan yang kadangkala dilupakan oleh gereja yang mementingkan dirinya daripada masyarakat. Namun, jangan sampai pesan itu diartikan bahwa tugas seorang percaya sekadar menjadi warga yang baik. Pesan Yeremia ini menyiratkan suatu ketegangan, yaitu ketegangan antara harapan akan kerajaan Allah (yaitu bagi pembaca surat Yeremia kembali ke Israel, tanah perjanjian) dan keadaan dalam dunia sementara (bagi pembaca surat itu menetap di Babel).

Yeremia menubuatkan kehancuran Yerusalem oleh karena dosa Israel. Pada saat peristiwa yang diceritakan dalam a.2, hal itu belum terjadi, dan banyak yang yakin bahwa Tuhan akan mengalahkan kuasa Babel sehingga orang-orang yang diangkut ke Babel dapat kembali, termasuk beberapa nabi di Babel (aa.8-9). (Pembuangan dalam a.2 terjadi pada tahun 597 sM, sedangkan kehancuran Yerusalem terjadi pada tahun 587 sM.) Oleh karena itu, firman Tuhan disampaikan kepada Yeremia untuk disampaikan melalui surat kepada mereka.

Jika sebentar lagi Babel akan dikalahkan dan Israel dipulihkan, seperti nubuatan palsu itu, maka tentu kegiatan yang diusulkan dalam aa.4-7 tidak masuk akal. Yeremia berpesan kepada mereka untuk menetap dengan mendirikan rumah dan keluarga di Babel. Alasannya muncul dalam a.10, yaitu bahwa pembuangan akan berlangsung 70 tahun. Angka 7 menyimbolkan kegenapan, dalam konteks ini kegenapan hukuman. Dalam sejarah berikut, orang-orang buangan baru diperbolehkan kembali ke Israel pada tahun 539 sM.

Menetap di Babel dengan mendirikan rumah berarti menerima nubuatan Yeremia bahwa dosa Israel harus dihukum Allah sebelum keselamatan dapat diharapkan kembali. Yeremia tidak menyangkal bahwa Allah akan mewujudkan kerajaan-Nya di tanah Israel, bukan di Babel. Hanya waktunya yang dipersoalkan. Orang-orang buangan harus bersabar menunggu waktu Tuhan.

Perjanjian Baru menempatkan kita sebagai to mentiruran, perantau. Artinya bahwa harapan kita bukan dunia ini (Babel) melainkan langit dan bumi yang baru (Yerusalem), pemulihan segala sesuatu ketika Kristus kembali. Tanpa harapan itu, pesan Yeremia gampang saja. Jika harapan kita adalah untuk hal-hal sementara saja, sudah barang tentu kita akan mencari kesejahteraan kota. Hanya jika kita tidak puas dengan dunia ini maka kita harus diingatkan untuk mencari kesejahteraannya.

Tetapi menjadi perantau juga berarti bahwa kita belum sampai di dunia baru, sama seperti orang-orang buangan yang disurati Yeremia. Jadi, keadaan kita ada di dunia sekarang. Bukannya kita akan luput dari segala penyakit, masalah dan bencana, seperti janji nabi palsu modern. Oleh karena itu kita berdoa untuk kota (dan negara), supaya pemerintah, ekonomi, prasarana dan masyarakat berfungsi dengan baik. Dengan demikian kita dapat bertumbuh dan berhasil, sambil menunggu janji yang lebih baik.

Iklan
Pos ini dipublikasikan di Yeremia dan tag , . Tandai permalink.

Satu Balasan ke Yer 29:1-9 Keadaan sebagai perantau

  1. berthi pelasula berkata:

    terima kasih karena sudah mengirim bahan renungan pagi untuk saya, bisa merenungkan kasih Tuhan dalam memasuki hari yang baru dengan perjuangan hidup yang baru bersama Tuhan Yesus

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s