Iman dan Ilmu Pengetahuan

Pertanyaan tentang hubungan antara iman dan ilmu pengetahuan menjadi pertanyaan klasik. Biasanya kalau diajukan maksudnya apakah hubungan antara iman yang subjektif (terletak dalam akal budi atau hati manusia) dan ilmu pengetahuan yang objektif (terletak dalam dunia nyata). Iman digolongkan dengan selera dan nilai sebagai pendapat orang, sedangkan ilmu pengetahuan menyangkut fakta. Jadi, matahari sebagai bintang dalam galaksi dsb adalah fakta, tetapi kesukaan sama ayam goreng dan keputusan untuk beriman kristiani adalah pendapat. Paling sedikit itu pola berpikir Barat sejak Pencerahan, pola yang berakar dalam filsafat Yunani mulai dengan Plato.

Akhir-akhir ini ada gerakan filsuf ilmu pengetahuan yang mempertanyakan pembedaan yang tegas antara fakta dan nilai, objektif dan subjektif. Soalnya, untuk melakukan penelitian tentang dunia alam, kita harus percaya bahwa dunia alam teratur dan pada dasarnya tidak berubah terus. Misalnya, satu bagian dalam metode bereksperimen adalah melakukan eksperimen berulang kali untuk membuktikan bahwa hasilnya tidak kebetulan saja. Apa gunanya mengulang eksperimen jika dunia tidak tetap? Apa gunanya mencari hukum alam jika dunia tidak teratur?

Hal itu tidak jelas dalam semua budaya. Misalnya, budaya Hindu mengganggap bahwa dunia alam adalah maya yang tidak nyata, seperti film bioskop pada layar. Kalau begitu, kita justru tidak mau meniliti dunia alam melainkan mau menerobos ke kenyataan yang di balik dunia yang kelihatan. Budaya animisme menganggap bahwa segala yang terjadi terjadi karena disebabkan oleh pribadi, apa itu manusia atau roh atau Allah. Jadi, tidak ada aturan (hukum alam) yang dapat diteliti, hanya kuasa-kuasa yang harus ditanggapi.

Ilmu pengetahuan berkembang dalam budaya kristiani karena ada kepercayaan bahwa dunia diciptakan oleh Allah. Dunia itu bukan Allah atau sebagian dari Allah, jadi ada keberadaan tersendiri yang dapat diteliti. Juga, Sang Pencipta setia dan teratur, sehingga dunia juga setia dan teratur. Lihat saja Mazmur 19 yang membandingkan dunia alam dengan hukum Taurat. Banyak ilmuwan dulu-dulu (abad ke-17 sampai ke-19) berbicara tentang dua buku yang membawa penyataan, yaitu Kitab Suci dan dunia alam (secara kiasan dilihat sebagai buku). Sains berkembang sebagai cara untuk lebih memahami Pencipta alam semesta.

Jadi, butir pertama ialah ilmu pengetahuan berdasarkan kepercayaan tertentu, dan ternyata kepercayaan yang cocok dengan iman kristiani. Butir kedua menanggapi masalah ketika hasil-hasil ilmu pengetahuan sepertinya bertentangan dengan ajaran Alkitab. (Butir ketiga yang tidak dibahas di sini yaitu iman kristiani memiliki dasar dalam fakta sejarah, khususnya kehidupan, kematian dan kebangkitan Kristus.)

Inti jawaban saya ialah dunia alam dan Firman Allah tidak akan bertentangan, karena keduanya berasal dari Allah. Namun, baik ilmu pengetahuan maupun tafsiran Alkitab bisa saja bertentangan, karena manusia yang melakukannya keliru. Sebagai contoh saya mengangkat teori evolusi yang sepertinya bertentangan dengan cerita Alkitab dalam Kejadian 1-3.

Teori evolusi menyangkut sejarah perkembangan makhluk-makhluk di bumi. Dukungannya secara garis besar kuat dan didukung oleh banyak cabang biologi yang lainnya. Mungkin saja teori itu bukan kata terakhir dari penelitian biologi, tetapi jika mau berkecimpung dalam bidang biologi teori itu harus diandaikan. Apa masalahnya dari segi ajaran Kristen?

Ada ilmuwan ateis yang mau mengatakan bahwa evolusi meniadakan perlunya pencipta karena makhluk dapat berkembang berdasarkan hukum-hukum alam saja. Ada juga yang mengatakan bahwa teori itu menunjukkan bahwa manusia adalah binatang saja. Ada juga (dulu-dulu ketika teori ini diterbitkan oleh Darwin) yang menganggap bahwa teori itu mendukung cara sosial yang membuang yang lemah dan mendukung yang kuat. Tetapi apa kesimpulan-kesimpulan itu adalah sains? Mustahilkah Allah menciptakan melalui proses evolusi? Benarkah bahwa gen manusia yang 99% sama dengan monyet harus menjadikan kita sederajat dengan monyet? Apakah kehidupan sosial harus berpatron cara singa di hutan? Tidak. Orang ateis menyalahgunakan sains untuk mendukung agenda sendiri. Jadi tafsiran mereka akan sains itu salah.

Bagaimana dengan Alkitab, khususnya Kej 1-3? Banyak yang tetap menerima Alkitab sebagai Firman Allah mencermati ulang Kej 1-3 dan menyimpulkan bahwa tujuannya bukan untuk menyampaikan sejarah secara terperinci tentang asal-usul dunia melainkan secara garis besar. Jadi, pesannya bahwa dunia diciptakan secara teratur dengan manusia sebagai puncaknya yang bertanggung jawab kepada Allah tetapi akhirnya membelakangi Allah. Jika tafsiran itu benar maka kita menyalahgunakan Alkitab juga membuat Kej 1-3 menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan sains seperti apakah bumi di pusat jagad raya atau apakah evolusi terjadi.

Hal itu tidak berarti bahwa kita “percaya” akan evolusi atau penemuan-penemuan sains yang lain. Kita percaya akan Alkitab untuk mengenal Allah dan cara hidup, dan menggunakan penemuan-penemuan ilmu pengetahuan untuk tujuan itu.

Iklan
Pos ini dipublikasikan di Teologi dan tag , . Tandai permalink.

Satu Balasan ke Iman dan Ilmu Pengetahuan

  1. menemani berkata:

    Benar, setuju!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s