Neh 13:1-9 Perlunya Perjanjian Baru

Puncak cerita Nehemia terjadi pada 12:27-43, di mana penyelesaian tembok Yerusalem dirayakan. Puncak ini merupakan jawaban doa Nehemia yang tercantum pada awal kitab ini (Neh 1:3-11). Mungkin setelah puncak yang demikian kita mengharapkan akhir yang tenang, yang menunjukkan bagaimana bangsa yang sudah diberkati Tuhan menikmati berkat itu. Akhir p.12 memenuhi harapan itu—selama Nehemia ada.

Namun, mulai p.13 ada gambaran yang lain yang muncul. Ada pernikahan campur (aa.1-3) dan penyalahgunaan Bait Allah untuk kepentingan pribadi (aa.4-5) oleh Elyasib untuk Tobias. Dalam a.6 kita diberitahu bahwa pada saat itu Nehemia tidak ada di Yerusalem karena dipanggil ke istana. Begitu dia kembali ke Yerusalem dia membereskan masalah itu dengan tegas. Aa.1-3 ternyata juga terjadi ketika Nehemia kembali (lihat “sebelum masa itu” di a.4). Dalam ayat-ayat berikut ternyata banyak masalah yang pernah ditanggapi Nehemia pada masa jabatannya yang pertama yang harus ditanggapi kembali.

Ada dua hal umum yang dapat kita petik dari akhir kitab yang mengecewakan ini. Yang pertama ialah bahwa Allah berkenan mendukung pembangunan tembok melalui kepemimpinan Nehemia meskipun umat-Nya tidak layak. Hal itu adalah sifat Allah sejak Abraham sampai sekarang. Yang kedua ialah kegagalan Israel untuk bertahan dalam ketaatan. Hal itu justru tidak sama dalam Perjanjian Baru. Karena kita berada di dalam Kristus yang telah mengalahkan Iblis dalam pencobaan (Mt 4:1-11; bnd. Ibr 2:14-18) tidak ada alasan untuk kita gagal. Bukannya kita akan sempurna, tetapi Roh Kudus mengerjakan ciptaan yang baru di dalam diri kita. Jika jemaat sepertinya mirip sekali dengan keadaan Israel dalam p.13, ada kebutuhan yang mendesak untuk memperjumpakan jemaat kembali dengan Kristus. Mungkin mulai dengan kita sendiri…

Iklan
Pos ini dipublikasikan di Nehemia dan tag , . Tandai permalink.

Satu Balasan ke Neh 13:1-9 Perlunya Perjanjian Baru

  1. johana berkata:

    kalau nonton film2 heroik atau film aksi laga, akhir dari film itu si jagoan pasti menang…”happy ending”

    Kisah hidup umat Tuhan ternyata tidak seperti itu. Hidup kita ibarat roda, kata orang pandai, kadang di atas kadang di bawa. Pergumulan dan masalah tidak pernah berhenti mendera, tapi disitulah kesetiaan kita diuji.

    Kisah Nehemia tidak berakhir “happy ending” tetapi terus akan menguji kesetiaannya pada hukum Allah, dambil terus memperthanakan identitas dan kesaksian hidup di tengah zamannya.

    kitapun begitu to….tidak selamanya hujan, tidak selamanya kemarau….tetapi ada satu janji TUhan, pelangi kasih…ia memberi janji akan menyertai baik ketika hujan maupun panas. Hal terpenting ialah apakah kita tetap setia pada Tuhan baik ketika hujan maupun panas.

    selamat mengikut Tuhan dan bersaksi!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s