1 Raj 12:1-24 Kedaulatan Firman Allah

Sebelum perikop ini yang menceritakan permulaan keterpisahan kerajaan Israel menjadi dua kerajaan, ada peristiwa yang sebenarnya memaknainya. Maksudnya, pertemuan antara Yeroboam dan nabi Ahia dalam 1 Raj 11:26-40. 1 Raj 11 menceritakan penyelewengan Salomo sebagai permulaan kegagalan Israel, setelah perkunjungan Ratu Syeba sebagai puncak keberhasilan Israel dalam 1 Raj 10. Oleh karena dosa Salomo, maka ada serangkaian masalah terjadi, terutama munculnya pemberontak dalam diri Yeroboam, anak emas Salomo itu. Soalnya, Yeroboam diangkat oleh Tuhan sendiri melalaui nabi Ahia tersebut. Yang menggerakkan peristiwa-peristiwa politik ini adalah firman Allah.

Memang, Allah bekerja melalui kebodohan manusia, dalam hal ini Rehabeam. Rehabeam menjadi contoh pemimpin yang tidak mempedulikan rakyatnya, dan juga contoh orang yang mengabaikan nasihat orang yang lebih tua. Mereka mengusulkan konsep kepemimpinan yang dikokohkan Yesus tetapi sebenarnya sudah ada di PL, yaitu pemimpin sebagai hamba (12:7). Namun, nasihat kebodohan yang diterima Rehabeam dan disampaikan kepada rakyat. Apa asal-usul kebodohan Rehabeam itu? Silakan dipikir-pikirkan, tetapi dalam a.15 ada jawaban yang lebih mendasar. Seandainya kita sudah lupa akan peristiwa 1 Raj 11:26-40 itu, kita diingatkan bahwa semua ini terjadi untuk menepati firman TUHAN.

Perikop ini kemudian menceritakan tuntasnya keluarnya suku-suku Israel kecuali Yehuda (dan Benyamin). Rehabeam tetap bodoh. Dia hampir ikut dibunuh (a.18), kemudian dia mau berperang. Hanya, ada firman lagi dari Allah untuk mencegahnya.

Kita perlu mendengarkan nilai kepemimpinan yang disampaikan oleh para penasihat Salomo dan ditegaskan melalui bodohnya gambaran yang terbalik dalam diri Rehabeam. Kita perlu juga memikirkan bagaimana menyikapi kepemimpinan yang kurang, karena itu kenyataan yang sering dihadapi sampai sekarang. Kebodohan yang jahat seperti Rehabeam seringkali memberatkan bukan hanya pemimpin melainkan bawahannya, dan selayaknya kita berduka atas hal itu. Tetapi Allah tetap berdaulat. Rencana-Nya lebih kuat daripada kebodohan dan kejahatan manusia. Jika dalam peristiwa ini rencana Allah berpusat pada Yerusalem dan keturunan Daud (11:32), rencana itu sudah berpuncak dalam Kristus. Ketika gereja yang penuh dengan orang yang imannya lemah mendapat kepemimpinan yang sama, firman Allah tetap berkuasa untuk memanggil orang kepada Kristus dan menguatkan mereka di dalam-Nya.

Pos ini dipublikasikan di 1 Raja-raja dan tag , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s