Neh 8:1-9 Menanggapi firman Allah dengan baik

Pembacaan dan perenungan firman Allah (Alkitab) menjadi bagian pokok dalam kumpulan umat kristiani. Untuk pendeta, khotbah dapat memenuhi beberapa fungsi. Khotbah menjadi cara untuk menyerang oknum atau kelompok dalam jemaat. Khotbah menjadi ‘terapi’ yang di dalamnya pendeta bisa melampiaskan frustrasi atas tingkah laku jemaat—atau kadangkala tanpa sadar atas tingkah laku sendiri, karena manusia sering memproyeksikan dosa sendiri kepada orang lain. Bagi jemaat, khotbah adalah bagian ibadah yang (mudah-mudahan) berbeda setiap minggu, dan mungkin dapat menerangi pergumulan hidup. Karena duduk saja, khotbah juga memberi kesempatan untuk istirahat.

Tentu kita tahu bahwa gambaran yang (mudah-mudahan) melebih-lebihkan itu bukan yang semestinya, dan perikop Neh 8 ini memberi kita beberapa petunjuk yang lain. Yang pertama, konteks pembacaan Taurat oleh Ezra adalah selesainya pembangunan tembok (6:15). Jadi, kita bisa menyimpulkan bahwa tujuan dari suatu batas yang jelas (tembok untuk kota Yerusalem atau, misalnya, pengakuan gereja) ialah memungkinkan ibadah kepada Tuhan. Yang menarik di sini, umat meminta kepada Ezra supaya Taurat dibaca. Penyelesaian tembok memberi semangat yang baru.

Yang kedua, Ezra membaca di tempat umum supaya sebanyak mungkin dapat mendengarnya. Jadi, pembacaan bukan di tengah ibadah di Bait Allah. Semua ikut yang dapat mengerti, mungkin merujuk ke anak-anak di atas umur tertentu. Ibadah ini tidak mengesampingkan siapapun.

Yang ketiga, pembacaan Taurat disambut dengan sikap yang baik oleh jemaah. A.4 menyimpulkan hari itu, bahwa jemaah mendengar dengan penuh perhatian, sedangkan aa.5 dyb menjabarkan berbagai unsur dalam pembacaan itu. Ada jemaat berdiri untuk menghormati firman (a.6), serta pemujian dan penyembahan (a.7). Kadangkala pembacaan Alkitab dianggap bagian “otak” sedangkan menyanyi adalah bagian “hati”, tetapi di sini firman Allah disambut dengan hati yang penuh perasaan.

Yang keempat, pembacaan Taurat disertai penjelasan. Taurat berasal dari masa lampau, sehingga akan ada masalah bahasa dan budaya yang tidak jelas bagi jemaah. Di sini kita melihat salahnya gambaran awal tadi. Khotbah bukan untuk pengungkapan diri pengkhotbah melainkan pengungkapan makna firman.

Masalah kita dengan pembacaan dan perenungan firman bisa terletak pada jemaat dan/atau pada pengkhotbah. Jika bagi jemaat Allah ada di pinggir hidup, bukan “Allah yang mahabesar”, maka firman-Nya tidak akan mengasyikkan seperti bagi jemaah Israel dalam perikop ini. Tetapi bisa juga pengkhotbah mengaburkan daripada menjelaskan firman. Semoga Allah dimuliakan oleh khotbah yang jelas dan jemaat yang rindu mengenal-Nya.

Iklan
Pos ini dipublikasikan di Nehemia dan tag , . Tandai permalink.

2 Balasan ke Neh 8:1-9 Menanggapi firman Allah dengan baik

  1. Marthen betteng berkata:

    Memang sangat memalukan jika khotbah jadi tempat pelampiasan kita bagi seseorang baik itu yg buruk pun pujian

  2. Daniel Rori berkata:

    memang amat memalukan bahwa ada pengkhotbah yang sering menggunakan mimbar gereja untuk balas dendam. Lain yang dibaca lain yang dijelaskan dalam khotbah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s