Mik 7:1-6 Hidup di tengah dosa

Kita semua berdukacita atas bencana alam yang terjadi di berbagai negeri termasuk Indonesia akhir-akhir ini. Ada yang bertanya di mana Tuhan di dalamnya dsb. Seakan-akan kaget, dan baru diperhatikan bahwa ada banyak penderitaan di dunia ini, dan semua bagian Alkitab yang berbicara tentang masa depan berbicara tentang dunia yang penuh penderitaan sampai Allah membawa pemulihan yang tuntas (mis. Mk 13 atau Why 6). Yang paling sulit adalah kesadaran bahwa jumlah korban akan jauh lebih sedikit seandainya pembangunan di Padang sesuai standar yang semestinya di tempat yang rawan gempa bumi. Tentu, ada dugaan bahwa kurangnya kualitas bangunan karena korupsi (demikain usulannya di salah satu koran di Australia). Dampak bencana alam diperbesar oleh kemerosotan akhlak Indonesia. Dalam kedaulatan Allah, dosa membawa akibatnya sendiri.

Jika saya mengusulkan bahwa kita tidak usah kaget, saya tidak mau mengatakan bahwa kita semestinya acuh tak acuh terhadapa keadaan ini. Bagi Mikha hidup di tengah bangsa yang berdosa adalah celaka. Kecelakaan Mikha digambarkan dalam a.1 seperti orang yang mencari buah anggur dan ara pada pemetikan susulan (yang diadakan pada akhir musim panas). Seandainya ada yang tersisa, itu hanya sedikit dan kualitasnya kurang. Mungkin Mikha memakai kebun anggur sebagai perumpamaan untuk Israel, untuk mengatakan bahwa buah yang diharapkan Allah tidak ada. Rujukannya dijelaskan dalam aa.2-4a. Sayangnya, di Indonesia ayat-ayat ini terlalu mudah dipahami. Termasuk kerja sama antara pemuka, hakim dan pembesar untuk membalikkan hukum (a.3).

Namun, Tuhan tidak berdiam diri. Melalui nabi seperti Mikha Dia sudah memperingati bahwa hari penghukuman akan jatuh di atas Israel. (Pengintai adalah orang di tembok kota yang tugasnya memberitahu jika musuh mendekat, dan dipakai sebagai kiasan untuk nabi. A.4b bisa diartikan “hari penghukuman bagi nabi palsu dan kalian semua” atau “hari yang diberitahukan oleh nabi-nabi sejati tentang penghukuman bagi kalian semua”.) Jika a.4b merujuk pada pengepungan Samaria oleh Asyur (2 Raj 17:1-6), maka aa.5-6 cukup menggambarkan keadaan krisis yang akan terjadi. Ketika kota sudah lama dikepung dan makanannya habis, kelaparan menghapus kepedulian terhadap sesama. Tetapi mungkin pada saat Mikha bernubuat relasi-relasi manusia sudah hancur oleh karena kejahatan yang merajalela. Paling sedikit, orang yang mau jujur, seperti Mikha, akan dicurigai atau mau dijatuhkan oleh masyarakat yang berakhlak seperti dalam aa.2-4.

Menarik bahwa Yesus mengambil a.6 untuk menggambarkan efek dari kehadiran-Nya. Malah, Dia menganggap itu bagian dari tujuan-Nya di bumi (Mt 10:34-36). Hal itu bukan karena Dia tidak suka damai, tetapi karena manusia berdosa pada umumnya seperti digambarkan di sini. Bergabung dengan Yesus mau tidak mau berarti menimbulkan kerusuhan. Misalnya, jika anggota keluarga mau menjadi pengikut Kristus, hal itu bisa menggoncang keluarga. Hal itu bukan soal keluarga itu agama apa. Keluarga kristen pun bisa takut bahwa anaknya menjadi “fanatik” jika sudah sungguh-sungguh mengikuti Kristus. Konon pernah ada keluarga di Australia yang tidak beragama sama sekali yang mengucilkan anaknya karena jadi percaya kepada Kristus. Tempat kerja juga bisa terancam oleh pengikut Kristus, misalnya oleh guru yang menolak “membantu” siswa pada ujian sekolah, atau karyawan yang tidak mau bertandatangan pada laporan fiktif.

Kitab Mikha berakhir dalam ayat-ayat berikut dengan harapan bahwa setelah penghukuman bagi Israel Allah akan menyelamatkan. Harapan akan keselamatan (yang sudah terwujud dalam Kristus) amat dibutuhkan jika kita akan bertahan setia dalam konteks seperti Indonesia. Atau konteks seperti Australia, atau di mana saja pada zaman yang celaka ini. Jika kita belum menyadari keadaan dunia ini kita akan kaget terus. Tetapi celaka bukan kata terakhir dari Mikha. Semoga kesadaran itu disertai harapan akan Allah sehingga kita bertahan setia.

Iklan
Pos ini dipublikasikan di Mikha. Tandai permalink.

4 Balasan ke Mik 7:1-6 Hidup di tengah dosa

  1. Pongdodo' berkata:

    salam Om Andrew

    Biasa Klasis Pulau Jawa mengadakan persiapan hari senin….
    jadi bahan Om Andrew bisa jadi referensi kami kalau cepat diposting…. hopefully. akan lebih baik karena bisa dishare dengan teman-teman…

    Terimakasih banyak
    semoga tetap sehat dan bertambah hikmat dalam menulis…
    saya yakin tulisan-tulisannya sangat membantu

    salama’

    Pongdodo’

  2. abuchanan berkata:

    Terima kasih dukungannya. @Pdt: biasanya renungan untuk hari Minggu diposting pada malam hari Senin sebelumnya, tetapi hanya untuk satu minggu. Hari apa pertemuan klasis itu biasanya?

  3. Pdt.Karia Mussu Sirenteng berkata:

    Terima kasih pak Khotbahnya cukup memberikan inspirasi, diklasis Pulau jawa kami mengadakan persiapan setiap dua minggu, kalau ada bahan untuk khotbah minggu, 18 dan 25 oktober saya akan print untuk teman-teman pendeta.
    Tuhan memberkati kita semua Amin

  4. johana berkata:

    Memang hidup di zaman atau dunia dimana Mika hidup adalah celaka. Demikian juga di Indonesia. Celakanya karena berbuat baikpun seolah-olah tidak ada manfaatnya buat perubahan yg diharapkan. Persoalannya masih banyakkah orang seperti Mika yg terus berteriak di negeri ini? Masih adakah orang yg setia pada kebenaran di tengah-tengah ketidakbenaran? masih adakah orang yang punya harapan di tengah keputusasaan?

    Saya setuju “menyalakan lilin” di tengah kegelapan.
    trims u sharingnya pak Buchanan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s