Ams 23:19-28 Nasihat seorang teladan

Bagian 22:17-24:34 merupakan koleksi amsal dari “orang-orang bijak”, yang ternyata mirip dengan koleksi amsal dari Mesir (Pesan-pesan Amenemope). Kemiripan tidak berarti disalin, karena jelas berwarna iman Israel. Koleksi ini memakai nama Tuhan (YHWH), dan bertujuan iman kepada-Nya (22:19). Tetapi kita melihat dalam bagian ini dengan paling jelas bahwa hikmat bukan milik satu kelompok saja.

Bagian ini juga berbeda dari bagian yang mulai pada p.10, karena setiap amsal mencakup beberapa ayat. Dalam perikop kita, ada tiga amsal, yaitu aa.19-21, aa.22-25 dan aa.26-28 (sehingga renungan ini tidak dipotong pada a.26). Yang pertama menyangkut nafsu yang tak terkendali. Adalah menarik bahwa bukan hanya anggur yang disebut tetapi juga daging. Saya menduga bahwa dalam dunia kuno, sama seperti di Indonesia, daging dimakan pada pesta saja, kecuali yang kaya. Selain menjadi mahal, gaya hidup itu juga membuat orang kantuk, artinya tidak lagi terfokus pada perjuangan hidup.

Amsal yang pertama mulai dengan seruan kepada anak untuk mendengarkan ayahnya, tetapi dalam amsal yang kedua (aa.22-25) orang tua adalah sumber hidup, dan menyenangkan orang tua menjadi motivasi untuk berhikmat (a.24-25). Seruan ini adalah untuk memperoleh kebenaran, hikmat dsb (a.23). Seandainya hal-hal itu bisa dijualbelikan, maka semestinya dibeli dan dipegang terus.

Dalam amsal yang ketiga (aa.26-28), si ayah mengajak anaknya untuk melihat contohnya sendiri (a.26). Peringatan di sini menyangkut nafsu berahi yang di luar batas nikah.

Adalah terlalu gampang jika kita menyoroti kesukaan beberapa pemuda untuk bermabok-mabokan, tanpa bertanya, siapakah dari generasi ayah mereka yang layak mengajak mereka untuk memperhatikan jalannya (a.26)? Sering yang dijunjung tinggi adalah pelahap gengsi dan uang. Pendidikan dianggap komoditas yang bisa dibeli secara harfiah—saya membayar uang sekolah dan diberi ijazah lepas dari apakah saya sudah memperoleh pengertian atau tidak. Di berbagai kalangan dianggap biasa saja jika laki-laki yang berjalan jauh main pelacur. Maksud saya, perikop ini menyangkut ayah yang bijak yang mau meneruskan hikmatnya kepada anak, bukan ayah yang kacau yang mengeluhkan kekacauan anaknya.

Yang sudah pada jalan belajar hikmat, tolong diteruskan kepada generasi muda yang membutuhkan banyak bimbingan dalam dunia ini. Yang belum, jadilah anak kembali untuk mempelajari jalan yang benar.

Pos ini dipublikasikan di Amsal dan tag . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s