Mzm 27:1-6 Tuhan benteng hidupku

Mazmur ini sebenarnya dapat digolongkan sebagai Mazmur Permohonan, karena mulai a.7 ada seruan kepada Tuhan. Jadi, pujian dalam aa.1-6 merupakan pengakuan percaya. Pemazmur memulai doanya dengan mengingat keandalan Tuhan, Tuhan yang adalah terang, keselamatan dan benteng hidupnya.

Konteks pengakuan percaya ini adalah serangan musuh. Ada yang secara manusiawi sangat layak ditakuti (aa.2-3), tetapi karena kepercayaan kepada Tuhan pemazmur tidak merasa takut. Bagaimana bisa? Karena dengan mengalami hadirat Tuhan, dia mengenal perlindungan Tuhan (aa.4-5). Malah, dia mengalami harga dirinya dijaga oleh Tuhan di hadapan musuhnya (a.6a). Oleh karena itu, dia mau bersyukur kepada Tuhan (a.6b).

Perhatikan bahwa yang terjadi terhadap musuh dalam mazmur ini bukan bahwa mereka lenyap atau hancur (makanya tetap ada permohonan dalam aa.7dyb), tetapi bahwa mereka tidak berhasil melenyapkan pemazmur. Raja Daud sendiri (yang olehnya atau untuknya mazmur ini dikarang, a.1a) tidak memusnahkan musuh Israel, ataupun musuh di dalam Israel, tetapi Allah tetap memelihara dia sehingga kepalanya tegak (harga dirinya terjaga) sampai akhir hidupnya. Kristus, anak Daud itu, kelihatan dikalahkan malah dipermalukan oleh musuh pada salib itu, akan tetapi Dia ditinggikan oleh Allah dalam kebangkitan-Nya dan diberi nama di atas segala nama.

Kristuslah yang menjadi bait Allah, tempat hadirat Allah, bagi kita. Di dalam-Nya kita tahu bahwa meskipun kita dihancurkan, harapan kita akan dunia yang baru tidak sirna. Tetapi pada umumnya jika kita diserang bukannya kita akan hancur melainkan harga diri kita yang terancam. Makin kita berlindung pada Kristus, makin kita akan menyadari bahwa di dalam Dia kepala kita akan tetap tegak, sekalipun kita difitnah atau diremehkan. Hal itu semestinya didukung dan dikuatkan dalam persekutuan, yang juga merupakan bait Allah / tempat hadirat Allah. Ketika kita membawa persembahan syukur / pengakuan percaya kita atas perlindungan Tuhan, harga diri kita dikuatkan oleh dukungan saudara-saudara kita berdasarkan Allah sebagai terang, keselamatan dan benteng hidup kita.

Penguatan seperti itu saya alami dalam ibadah hari Minggu secara umum, maksudnya, di tengah dunia yang meminggirkan Allah dan meremehkan iman saya, saya dikuatkan oleh ibadah sebagai konteks beriman. Tetapi dalam kelompok kecil dinamikanya jauh lebih jelas dalam pengalaman saya, karena pergumulan yang konkrit dapat dibagikan, dibahas dalam terang firman, dan didoakan. Semoga hadirat Tuhan di tengah-tengah kita menguatkan kita untuk tetap percaya di tengah semua ancaman.

Iklan
Pos ini dipublikasikan di Mazmur dan tag , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s