Mzm 37:1-9 Menantikan kedatangan Yesus

Yang menonjol dalam perikop ini ada anjuran untuk tidak emosi terhadap orang yang berbuat jahat: jangan marah, jangan iri hati (a.1), jangan marah (a.7b), berhentilah marah dan tinggalkanlah panas hati itu, jangan marah (a.8). Tekanan berulang kali itu perlu karena memang kejahatan, kecurangan dsb menyakiti hati. Saya kira kuatnya reaksi di sekitar KPK sekarang adalah contoh aktual. Anjuran seperti itu tidak asing dalam sebagian besar budaya Indonesia, dengan alasan yang tidak jauh dari alasan dalam a.8b, yaitu bahwa emosi membawa kepada reaksi-reaksi yang memperburuk keadaan. Alasan itu adalah buah banyak pengalaman, tetapi tidak memuaskan ketika perasaan keadilan terganggu.

Mazmur ini menyampaikan alasan yang lebih dalam dari itu. Berulang kali dalam Mazmur ini ada ucapan tentang orang yang akan mewarisi negeri (a.9 orang-orang yang menantikan Tuhan, a.11 orang-orang yang rendah hati [bnd. Mt 5:5], a.22 orang-orang yang diberkati-Nya, a.29 orang-orang benar, a.34 engkau yang menantikan Tuhan dan mengikuti jalan-Nya). Negeri yang dimaksud ialah tanah Israel sebagai tanah perjanjian, tempat yang dijanjikan Allah kepada umat-Nya. Dalam pengharapan nabi-nabi tempat itu dipahami sebagai pusat pembaharuan seluruh bumi, sampai diharapkan akan ada bumi yang baru (Yes 65:17 dyb). Harapan itu yang diteguhkan dalam kebangkitan Yesus dan yang disyukuri pada masa Adven yang dimulai hari Minggu mendatang.

Harapan itu dibandingkan dengan nasib orang jahat. Kejayaan mereka adalah hal sementara (a.2). Hukuman Allah akan menimpa mereka (a.9). Tidak usah kita mendahului hukuman Allah itu dengan reaksi yang gegabah.

Bagaimana kebenaran itu kita hayati? Aa.3-7a menunjukkan caranya. Intinya seruan untuk percaya. Dalam aa.3-4 percaya berarti diam di negeri. Diam di negeri untuk orang Israel berarti tidak cari nasib di tempat yang lain, tetapi berharap hanya pada apa yang dijanjikan Allah. Mungkin untuk kita yang menuju negeri kita (dunia yang baru) artinya bahwa janji-janji Injil tetap sebagai landasan dan hidup kita. Sifat yang sesuai dengan diam di negeri adalah berbuat baik dan setia, dan bergembira karena Tuhan. Jika kita mendambakan Tuhan dan janji-janji-Nya di atas segalanya, maka keinginan itu akan dipenuhi. Dalam aa.5-6 percaya berarti menyerahkan nasib hidup kita kepada Tuhan. Jika kita difitnah, biar Tuhan yang membenarkan kita (a.6), bukan kita yang memaksa hak kita.

Menarik bahwa Yakobus mengatakan bahwa “amarah manusia tidak mengerjakan kebenaran di hadapan Allah” (Yak 1:20). Perlawanan terhadap kejahatan dibutuhkan, dan amarah adalah sikap Allah sendiri terhadap semua yang merusak ciptaan-Nya yang baik. Tetapi kemarahan yang panas, dicampur iri hati, tidak berguna. Kita perlu mengingat—dan mempercayai—janji bahwa ketika Yesus datang kembali kejahatan akan lenyap dan kita akan “mewarisi negeri”.

Iklan
Pos ini dipublikasikan di Mazmur dan tag , , . Tandai permalink.

Satu Balasan ke Mzm 37:1-9 Menantikan kedatangan Yesus

  1. menemani berkata:

    Mazmur 37 dan 73 … nomor bagus :) untuk topik ini. Sesungguhnya sudah ada Hakim-nya, jadi kita bisa rileks/ diam di negeri dengan damai sejahtera-Nya di hati, pikiran, mulut dan tindakan kita. Bukan begitu Pak? :)

    Saya ingat jelas Mazmur 37, waktu masih remaja mendengarkan khotbah Pdt. Herodion P., masih jelas bagaimana ia memperagakan bahwa orang fasik itu seperti pohon yang tumbuh besar, tapi waktu kita menoleh, eh dia sudah tidak ada…

    Semoga para pelayan Firman menyampaikan dengan tepat dan Firman-Nya ini berakar di hati jemaat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s