Ams 31:10-31 Memuji (perempuan yang ber-)hikmat

Kitab Amsal banyak menggambarkan hikmat sebagai perempuan, sehingga cocok jika kitabnya diakhiri dengan gambaran perempuan yang mengejawantahkan hikmat itu. Lebih lagi, p.31 seluruhnya berasal dari seorang perempuan, yakni ibu dari raja Lemuel (31:1; John Goldingay, New Bible Commentary, menunjukkan bahwa setiap kali ada perubahan pengarang ada judulnya, jadi a.10 tidak memulai koleksi yang baru). Jadi, seorang perempuan yang bijak menggambarkan hikmat dalam diri seorang perempuan.

Gambaran itu disampaikan dalam 22 ayat, dengan setiap ayat dimulai dengan huruf berikut dalam abjad Ibrani (pola itu disebut akrostik). Pola itu menunjukkan keutuhan penguraian topik. Dalam syair ini ada macam-macam hal. Istri itu berharga (a.10), relasi mereka sebagai suami-istri baik (aa.11-12), dia terlibat dalam usaha-usaha kecil di luar rumah (aa.13-19) sehingga keluarga makmur (aa/24-25), dia berbuat baik kepada masyarakat (a.20) dan kepada rumah tangganya (aa.21-22) termasuk membawa hormat bagi suaminya di masyarakat (a.23). Bukan hanya itu, dia adalah sumber hikmat dan pengajaran dalam perkataan (a.26) dan kehidupan rumah tangga (a.27).

Gambaran ini dapat menimbulkan berbagai reaksi. Dalam berbagai budaya perempuan itu akan dinilai terlalu bebas, sedangkan dalam budaya Australia akan ada yang mempersoalkan bahwa hanya laki-laki yang berperan dalam bidang politik (a.23) sementara perempuan berpusat di rumah. Mungkin juga ada perempuan yang merasa kurang mampu ketimbang perempuan yang serba mampu ini. Semua reaksi ini salah tafsir, menurut saya. Maksud gambaran ini bukan untuk menentukan pola atau standar untuk kaum perempuan, melainkan untuk menggambarkan hikmat. Gambaran itu menjadi contoh konkrit (contoh terpanjang dalam kitab Amsal) yang secara tersirat membuktikan gunanya hikmat dalam semua bidang kehidupan, sehingga hikmat dimuliakan.

Jika ada pesan tentang perempuan, intinya supaya hikmat juga diakui dan dipuji dalam diri seorang perempuan. Itulah tema aa.28-31. Anak-anaknya menghargai dia dan suaminya memuji dia dengan sangat (aa.28-29). Penutur syair mengusulkan supaya perempuan dihargai karena memiliki dasar hikmat, yaitu takut akan Tuhan, bukan karena nilainya sebagai hiasan bagi suami (a.30). Akhirnya ada satu-satunya perintah dalam syair ini, yaitu supaya hikmat dalam perempuan diakui bukan hanya oleh keluarga melainkan juga oleh masyarakat, atau lebih tepatnya oleh kaum laki-laki yang berkuasa (a.31).

Kita rugi kalau kita menganggap bahwa hanya satu dua kelompok yang memiliki hikmat, misalnya pendeta atau cendekiawan. Hikmat layak dipuji di mana saja ia terdapat sebagai pemberian Tuhan yang baik.

Pos ini dipublikasikan di Amsal dan tag , . Tandai permalink.

4 Balasan ke Ams 31:10-31 Memuji (perempuan yang ber-)hikmat

  1. menemani berkata:

    Setuju :) sekali! Terima kasih. Peran dan kehadirannya punya pengaruh yang mengakar dan menghasilkan anak-cucu yang takut akan Tuhan.

  2. ulinamasa berkata:

    kalau di lihat dari kejadian 2: apa rencana semula ALLAh menjadikan seorang perempuan adalah penolong sepadan bagi laki-laki. dan lanjutkan ke kejadian 3 bagaimana awalnya manusia jatuh dalam dosa adalah karena tak berpengetahuan dan tak berhikmatnya perempuan. disini perempuan tidak jadi penolong tapi perongrong jadinya. nah kalau kita kembali ke amsal 31:10-31 tadi betapa idealnya ketentuan yang ditetapkan untuk seorang perempuan. indah. Firman di amsal 31:10-31 ini ada karena perempuan memang begitu ditentukan dan mampu menjadi begitu. Kuncinya mampu menjadi perempuan di amsal 31:10-31 ini adalah ketika seorang perempuan menemukan jati diri dan posisi tepatnya dalam rencana dan maksud ALLAH untuk apa ia lahir dan ditentukan sebagai perempuan. Kekuatan perempuan dalam amsal ini dimana ia menjadi berhikmat dan seterusnya ketika seorang perempuan menempelkan diri pada NYA seperti perumpamaan pokok anggur. tanpa itu maka perempuan akan mencari keberhargaan dirinya pada hal hal lahiriah saja dan dipenuhi kekawatiran akan berbagai hal. Sehingga menjadi sulit untuk tunduk pada otoritasnya yaitu suami, orang tua, pemimpin gereja dll. Jadi titik lemahnya perempuan adalah ketika ia tidak berpengetahuan akan Firman Allah sehingga ia mudah jatuh dalam dosa dan ketidak mengertian ketentuan dan maksud Allah bahwa perempuan ditetapkan sebagai penolong tadi. mudah mudahan tulisan ini masih cocok dengan maksud bapak ya….

  3. abuchanan berkata:

    Betul, dalam perikop ini, isteri menjadi penolong yang luar biasa. Terima kasih masukannya.

  4. dina berkata:

    terimakasih untuk renungan bapak. gbu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s