1 Yoh 1:1-10 Persekutuan yang sejati

Sebagai pengantar, aa.1-4 menegaskan bahwa Firman yang ada sejak semula telah disaksikan oleh yang menyebut diri “kami”, yakni penulis dan para saksi mata Yesus selama Dia hidup di dunia dan juga pada kebangkitan-Nya (mis. Yoh 20:27). Dengan demikian penulis menguraikan maksud Yoh 1:14. Firman hidup (bnd. Yoh 1:1-3) telah menjadi sedemikian rupa sehingga dapat didengar, dilihat, diraba (a.1). Hal itu tidak masuk banyak akal. Suasana pluralisme mau menjadikan agama sekadar seperangkat gagasan dan nasihat. Suasana rasionalisme juga mau menjadikan klaim agama sebagai kiasan saja tentang prinsip-prinsip umum. Tetapi berita Adven dan Natal adalah bahwa Firman hidup itu berbentuk dalam sosok Yesus Kristus.

Oleh karena itu ada kesaksian dan pemberitaan (a.2). Kesaksian itu bukan dalam pola, “Dengarkan ide kami yang lebih hebat daripada ide orang lain” melainkan “Lihatlah Yesus Kristus, Sang Hidup Kekal yang datang dari Allah Bapa-Nya.” Ada kejadian, peristiwa, yaitu kehidupan Yesus. Manusia tidak dapat mengetahui tentang sebuah peristiwa tanpa pemberitaan. Jadi, kebenaran tentang Yesus hanya dapat diketahui orang jika diberitahukan kepadanya.

Hasil dari pemberitaan itu adalah persekutuan (a.3). Pintu masuk persekutuan itu adalah persekutuan dengan para rasul, karena berbagi dalam berita itu. Tetapi berita itu menyangkut persekutuan mereka dengan Kristus yang dilihat dan didengar itu, dan persekutuan Kristus sebagai Anak Allah adalah dengan Allah Bapa. Jadi, yang ditawarkan dalam berita itu adalah persekutuan dengan Allah, yang tidak dapat dipisahkan dari persekutuan dengan Anak-Nya Kristus. Membagikan berita itu meneguhkan sukacita penulis sendiri (a.4).

Implikasi dari berita itu menjadi isi seluruh surat ini, dan aa.5-10 merupakan dasar yang menguraikan makna dari tema persekutuan itu. Mulai a.6 kata “kami” menjadi kata “kita”—hal itu adalah tafsiran karena bahasa Yunani tidak membedakan “kami” dari “kita” (sama seperti bahasa Inggris “we”), tetapi tafsirannya tepat. Pembaca termasuk dalam tawaran persekutuan itu.

Dalam a.5, Allah yang dengan-Nya kita bersekutu adalah terang tanpa kegelapan. Jadi, persekutuan dengan Dia berarti hidup sesuai dengan kebenaran itu (“kebenaran” pada akhir a.6 menerjemahkan kata aletheia, “truth”, apa yang sebenarnya, bukan kata dikaiosune, “righteousness”, tingkah laku yang sesuai dengan norma).

Kemudian, a.7 agak mengejutkan. Yang pertama, hasil dari hidup dalam terang adalah persekutuan dengan sesama orang percaya, bukan (langsung) dengan Allah. Berulangkali dalam surat ini kasih kepada sesama dan Allah akan dikaitkan erat. Kejutan kedua ialah bahwa darah Kristus akan menyucikan kita dari kecemaran dosa. Mungkin sepintas lalu kita beranggapan bahwa artian “hidup dalam terang” adalah hidup tanpa dosa sama seperti Allah. Tetapi hidup dalam terang berarti penyucian dari dosa, bukan ketiadaannya.

Makna hidup dalam terang diperjelas dalam aa.8-10, yaitu keterbukaan. Jika kita menyangkali bahwa kita adalah orang berdosa, kita menipu diri (a.8) dan secara tersirat menyatakan bahwa penilaian Allah tentang kita adalah dusta (a.10). Bentuk jamak (“kita”) memperingatkan kita bahwa masalahnya bukan hanya bahwa secara perorangan kita mau tampil baik, tetapi juga bahwa budaya mendorong kita untuk bertindak demikian.

Jadi, hidup dalam terang berarti mengaku dosa yang ada. Kita mengaku kepada Allah yang mengampuni kita. Tetapi dari kosa kata yang dipakai (homologeo) pengakuan itu dilakukan di depan umum, seperti umat Israel dengan Yohanes Pembaptis (Mk 1:5), para pengguna sihir di Efesus (Kis 19:18), dan jemaat seorang kepada yang lain (Yak 5:16). Paling sedikit, dalam kebaktian kita mengaku bersama-sama bahwa kita adalah orang berdosa—hal itu bukan formalitas saja tetapi pernyataan yang mendasar. Semestinya kita juga siap mengaku bersalah kepada orang yang kepadanya kita berdosa. Lebih sulit lagi adalah mengaku dosa yang tersembunyi kepada orang lain supaya disinari Allah yang adalah terang.

Itulah cara hidup dalam terang. Allah telah membuka diri kepada kita dalam Kristus dan menawarkan persekutuan. Daripada berpura-pura tampil tanpa kecemaran, siapkah kita membuka diri kepada-Nya supaya disucikan dan mengalami persekutuan yang sejati?

Iklan
Pos ini dipublikasikan di 1 Yohanes dan tag , , . Tandai permalink.

2 Balasan ke 1 Yoh 1:1-10 Persekutuan yang sejati

  1. abuchanan berkata:

    Iya, tepat. Kristus adalah penyataan Allah. Kita melihat hikmat, kasih, kuasa dsb dari Allah secara konkret dalam kehidupan, kematian dan kebangkitan Yesus. Tinggal didalami, bukan dimaknai dari nol.

  2. pongdodo, berkata:

    salam..
    memang sudah sering menjadi kebiasaan, termasuk di kalangan pendeta, mencoba menerangkan Logos itu menurut pola pikir masing-masing. mencoba menjelaskan siapa itu Tuhan menurut pikiran masing-masing….
    bagian ini justru berkata lain.. Logos/Firman itu sendiri yang menyatakan diri kepada manusia… hadir bersama manusia. itu berarti pemahaman tentang Logos/Firman itu memang harus bersumber dari Logos itu sendiri, meresap masuk dalam pola pikir manusia…
    dan apa yang diteruskan dan disampaikan justru harus bersumber dari perjumpaan manusia dengan Logos, yang dirasakan, diraba, dinikmati dalam perjumpaan dengan-Nya…. yang tentu berdampak pada peningkatan mutu persekutuan itu sendiri….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s