Ibr 10:19-27 Menikmati Karya Kristus

Ibr 10:19-25 merupakan klimaks dari seluruh penguraian khotbah sebelumnya, dan khususnya penguraian tentang Kristus sebagai Imam Besar yang berkembang dalam pp.7-10. Kerangkanya adalah tiga seruan dalam aa.22-24 (“marilah”) yang menyangkut iman (a.22), pengharapan (a.23) dan kasih (a.24). Seruan etis itu mungkin saja bisa ditafsir lepas dari dasar teologisnya, tetapi jika demikian tafsirannya tidak lagi benar. Argumentasi dalam pp.7-10 disampaikan supaya ketiga seruan ini mempunyai dasar yang kuat. Dengan kata lain, ketiga seruan adalah implikasi dari ayat-ayat sebelumnya (bnd. kata “jadi” dalam a.19).

Sebagian argumentasi sebelumnya diringkas dalam aa.19-20 dan a.21. Di balik aa.19-20 ada penggenapan Kristus terhadap tempat kudus dan ibadah Israel. Tempat kudus terdiri atas dua kemah, dan yang paling inti mewakili hadirat Allah, tetapi jalan ke dalamnya terbatas (9:1-10). Kristuslah yang telah merintis (6:19-20) jalan ke dalam tempat kudus di sorga dengan darah-Nya sendiri (9:12, 23). A.21 merujuk ke 3:1-6, yaitu bahwa kita termasuk umat di bawah Kristus, sama seperti Israel berada di bawah Musa. Artinya bahwa apa yang dirintis oleh Yesus berlaku untuk kita. Iman, pengharapan dan kasih kita adalah respons terhadap karya Allah dalam Kristus.

Seruan pertama (a.22) adalah untuk menghadap Allah. Artinya sama dengan 4:16 “menghampiri takhta kasih karunia”, yaitu menggunakan jalan yang dirintis Kristus itu. Syaratnya memang hati yang tulus dan iman yang teguh. Tetapi langsung penulis menyampaikan dasar untuk sifat-sifat itu. Hati kita bisa tulus ikhlas karena “dibersihkan dari hati nurani yang jahat”. Hal itu merujuk ke 9:14 (hati nurani disucikan), yang mewujudkan janji Allah dalam 8:10 (=Yer 31:33) tentang pembaruan hati. Pembasuhan tubuh pada akhir a.22 kemungkinan besar merujuk ke pembaptisan, yang melambangkan bahwa kita termasuk umat Allah di dalam Kristus. Jadi, keyakinan kita bukan bahwa kita telah berbuat baik ataupun sudah mengaku dosa dengan tangisan yang dahsyat, melainkan bahwa darah Kristus telah meresap ke dalam lubuk hati untuk membersihkan noda dosa yang mencemarkannya.

Menghadap Allah adalah seruan inti, karena umat-Nya berada bersama Allah adalah tujuan-Nya dalam rencana keselamatan (8:10b, bnd. 8:11 “karena mereka semua…akan mengenal Aku”). Tetapi untuk menikmati janji itu kedua seruan berikut sangat penting. Kita harus berpegang pada pengakuan kita (a.23). Sekali lagi, dasarnya bukan semacam optimisme yang dibuat-buat dalam hati kita, melainkan janji Allah. Janji Allah dilihat dalam kutipan dari Yer 31:31-34 dalam 8:8-12, dan penggenapannya sudah dijelaskan dalam 9:1-10:18. Jadi, Kristus menjadi alasan untuk tetap berharap kepada Allah. Juga, kita harus saling mendorong dalam wujud praktis dari hati yang baru, yaitu kasih kepada sesama (a.24). Kedua seruan ini tidak bisa dilakukan sendiri, sehingga ditambahkan dengan nasihat untuk berkumpul supaya saling menasihati, dan juga peringatan tentang hari Tuhan (a.25). Tema itu juga merujuk ke peringatan dalam 3:12-13 dalam konteks menuju ke keselamatan.

Dengan demikian, saya berharap pembaca sudah dapat melihat betapa seruan tentang iman, pengharapan dan kasih ini berakar dalam Kisah Agung Allah, yaitu janji keselamatan dalam PL yang diwujudkan dalam Kristus dan akan berakhir ketika Kristus datang kembali (9:28). Namun, keselamatan itu tidak otomatis. Seruan itu begitu bersemangat karena ada alternatifnya, yaitu nasib yang mengerikan bagi orang yang tidak berpegang pada pengakuan dengan saling menguatkan sehingga tidak lagi menghadap Allah. Kita harus menafsir “sengaja berbuat dosa” dalam a.26 sesuai dengan 6:6 (“murtad”). Maksudnya orang yang mengaku percaya tetapi kemudian menolak keselamatan dalam Kristus, bukan orang yang jatuh ke dalam dosa tertentu tetapi tetap mau bertobat. Penulis tidak menganggap bahwa pembaca akan demikian. Jika saya berada di atas kapal di tengah badai ada dua bahaya. Jika kapalnya tidak kuat saya bisa mati tenggelam, dan jika saya panik dan melompat ke dalam laut saya juga bisa mati tenggelam. Kristus adalah kapal yang serba aman, dan jika saya berada di dalam-Nya tidak ada kuasa yang bisa melemparkan saya ke dalam laut. Penguatan dalam aa.19-25 dan peringatan dalam aa.26dst supaya kita tidak panik dan melompat keluar.

Iklan
Pos ini dipublikasikan di Ibrani dan tag , , , , , , , . Tandai permalink.

3 Balasan ke Ibr 10:19-27 Menikmati Karya Kristus

  1. Ping balik: Ibr 12:18-29 Ibadah yang berkenan « To Mentiruran

  2. abuchanan berkata:

    Sama-sama… :)

  3. tulistulistulis berkata:

    Penjelasan yang jelas dan menguatkan. Saya suka ilustrasi di alinea terakhir, bagus dan sangat jelas. Terima kasih :)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s