Rom 13:8-14 Kasih dalam Pengharapan

Satu pola agama, seperti yang saya pahami tentang aluk to dolo (agama nenek moyang orang Toraja), adalah ketaatan kepada sistem aturan tingkah laku (pemali alias tabu) dan ritus untuk mendatangkan berkat (kesejahteraan) dan mencegah kutuk (musibah). Mungkin ada jemaat yang menerapkan pola yang sama. Jika kesepuluh Firman ditaati dan ibadah rajin diikuti ada harapan bahwa hidup akan berjalan mulus; jika tidak ditaati ada ketakutan bahwa suatu musibah akan terjadi. Perikop ini menunjukkan peran yang sebenarnya dari aturan hidup dan sumber berkat yang sebenarnya.

Roma 1-11 menguraikan “kemurahan Allah” yang menjadi dasar perubahan hidup (12:1). Kemurahan itu bukan bahwa Allah masa bodoh terhadap kesalahan dan dosa kita, melainkan bahwa dalam Kristus hukuman (kutuk) dari dosa kita sudah ditanggung Kristus (3:25), dan bahwa dalam Roh Kudus dosa sedang dimatikan (8:13). Lebih lagi, ciptaan Allah yang di bawah perbudakan kebinasaan (dikutuk) akan dimerdekakan (8:21).

Atas dasar itu, perubahan hidup dikerjakan dalam konteks tubuh Kristus (12:3-8), dan intinya adalah kasih (12:9; 13:8). Kasih itu digambarkan dalam 12:9-13:7, termasuk kasih kepada musuh dan hormat kepada pemerintah. Dalam perikop kita, hubungan kasih dan hukum Taurat dijelaskan. Mengasihi sesama berarti memenuhi hukum Taurat (13:8). Sebaliknya, kesepuluh Firman menguraikan kasih (13:9-10). Kesepuluh Firman serta “firman lain manapun” (tentu sebagaimana ditafsirkan dalam ajaran Yesus dan juga oleh Paulus, seperti 12:9 dst tadi) tetap memberitahu batas-batas tingkah laku kita, karena jika kita langgar kita tidak lagi bertindak dalam kasih. Tetapi kita taat bukan untuk mencegah musibah melainkan demi kebaikan sesama, bukan karena takut melainkan karena kasih.

Jika motivasi untuk berbuat baik adalah kasih kepada sesama, apa motivasinya untuk kasih? Jawaban Paulus adalah “karena kamu mengetahui keaadaan waktu sekarang”, yaitu bahwa keselamatan lebih dekat (13:11). Keselamatan itu menyangkut akhir zaman, saat ciptaan akan “masuk ke dalam kemerdekaan kemuliaan anak-anak Allah” (8:21). Untuk banyak jemaat soal akhir zaman sepertinya terasa kurang konkret, karena menyangkut masa depan sedangkan mereka hidup dalam masa kini saja. Tetapi bagi Paulus akhir zaman adalah sangat praktis, karena merupakan puncak dari sesuatu yang sudah berjalan. Kutuk sudah diambil dari orang percaya sekarang juga, karena sudah ditanggung Kristus pada salib. Sekarang juga “Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia” (8:28). Penderitaan dan pergumulan bukan lagi pertanda kutuk melainkan pertanda persekutuan dengan Kristus (8:17), yang dipakai Allah untuk menjadikan kita serupa dengan Anak-Nya (8:29). Keselamatan pada akhir zaman adalah puncak dari berkat Allah kepada kita, yang terjamin karena Allah “tidak menyayangkan Anak-Nya sendiri, tetapi menyerahkan-Nya bagi kita semua” (8:32). Dengan sikap optimis bahwa kita sedang diberkati Allah itu, kita disuruh untuk menggantikan perbuatan kegelapan dengan senjata terang. Selain ada perlawanan antara gelap dan terang, ada juga antara perbuatan dengan senjata. Perbuatan bisa pasif dalam artian terbawa arus, sedangkan senjata menunjukkan bahwa ada niat untuk melawan arus.

Untuk memakai senjata terang, keinginan harus terkendali (aa.13-14). Hukum yang kesepuluh ialah “jangan mengingini”, dan hal-hal yang disebut dalam a.13 menunjukkan keinginan yang tidak lagi pada batasnya, tidak lagi sopan dan tertib. Caranya untuk hidup tertib dijelaskan dalam a.14. Mengenakan Kristus mengulang konsep mengenakan perlengkapan senjata terang dari a.12 (“sebagai perlengkapan senjata terang” adalah tambahan oleh LAI dalam a.14). Perlengkapan senjata adalah janji-janji Allah dalam Kristus dan hidup yang makin serupa dengan Kristus, sehingga mengenakan perlengkapan itu adalah mengenakan Kristus. Hal itu berarti bahwa harapan kita tertuju pada Kristus sehingga keinginan-keinginan kita akan diatur oleh harapan itu. Dengan demikian kita bisa melawan dosa dalam kedagingan (“tubuh” menerjemahkan sarx yang merujuk kepada keinginan-keinginan yang melawan Allah) dengan tidak berpikir-pikir kapan kita bisa berdosa lagi.

Jika kita masih terperangkap dalam pemahaman “agamawi”, yaitu keinginan untuk menyelamatkan diri melalui keagamaan kita, maka kita perlu mengingat bahwa keselamatan adalah anugerah Allah dalam Kristus yang mengubah hidup kita menjadi berkat. Jika sudah diingat, mari kita mewujudkan pemahaman itu dengan kasih kepada sesama bukan sebagai amal / jaminan melainkan demi kebaikan sesama.

Pos ini dipublikasikan di Roma dan tag , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s