Yoh 19:16b-30 & 20:1-10 Kematian dan Kebangkitan

Kematian dan kebangkitan Kristus merupakan pusat iman Kristiani. Peristiwa yang memiliki dua sisi ini memperjelas semua pemahaman gereja perdana tentang Allah dan kerajaan-Nya yang terdapat dalam PL, dan menjadi kerangka untuk teologi PB sendiri. Hal itu karena harapan PL tentang pemulihan dunia digenapi dalam kematian dan kebangkitan Kristus itu. Dalam kedua perikop kita (untuk Jumat Agung kemudian Paskah) soal penggenapan muncul dua kali. Yesus dimusuhi dan bangkit sesuai dengan isi Kitab Suci.

Soal Yesus dimusuhi muncul dengan kutipan dari Mzm 22:18 dalam Yoh 19:24 tentang pembagian pakaian Yesus. Dalam a.28 tentang Yesus haus, ayat 15 dari mazmur yang sama juga disinggung. Soal Yesus dibangkitkan sesuai dengan isi Kitab Suci muncul dalam Yoh 20:9. Tidak ada nas yang dikutip, tetapi mungkin Mazmur 22 masih dipikirkan (lihat juga posting ini). Dalam mazmur itu Daud membawa pergumulannya karena permusuhan dan kemudian pujiannya karena keselamatan dari tangan Tuhan. Yesus mengalami hal yang sama: dimusuhi musuh-musuh Allah, kemudian diselamatkan oleh Allah. Hanya, Yesus mengalaminya sampai mati dan dibangkitkan. Dia mencakup dan memaknai seluruh pengalaman PL tentang orang benar yang menderita dan dibenarkan Allah. Hal itu membawa keberanian bagi kita juga. Menderita karena kebenaran bukan pertanda kutuk, dan bukan alasan untuk malu. Kita juga dapat yakin akan pembenaran Allah, entah dalam kehidupan sekarang atau pada kebangkitan kelak.

Daud, tentu, menjadi raja Israel, dan menjadi contoh figur Mesias yang diharapkan kemudian. Kita mungkin akan membayangkan bahwa Yesus akan diakui sebagai raja ketika Dia sudah bangkit. Tetapi dalam kedua perikop ini kita melihat bahwa Yesus diakui sebagai raja ketika Dia disalibkan (Yoh 19:19-22). Pengakuan itu memang terjadi secara ironis. Pilatus mungkin hanya mau mengganggu orang Yahudi yang sudah berhasil membujuknya untuk menyalibkan Yesus. Tetapi yang tertulis di atas kayu salib itu benar. Yesus adalah raja Israel yang mengalahkan musuh-musuhnya, terutama dosa dan maut. Dia adalah Anak Domba Allah yang menghapus dosa dunia (Yoh 1:29). Pada salib Dia ditinggikan, menjadi seperti ular Musa yang membawa pemulihan bagi setiap orang yang memandangnya (Yoh 3:14-15). Dia ditinggikan untuk menarik orang dari semua bangsa kepada-Nya (Yoh 12:23-33), dibantu (secara simbolis) oleh ketiga bahasa yang di dalamnya pengumuman itu tertulis. Ketika Dia mau mati, karya keselamatan-Nya sudah selesai (Yoh 19:30).

Jadi, kebangkitan Yesus pertama-tama berfungsi untuk membuktikan bahwa karya keselamatan Yesus memang terjadi. Murid yang dikasihi Yesus “melihat dan percaya” (Yoh 20:8). Tanpa ada kebangkitan akan sulit percaya bahwa penyaliban Yesus lain dari ribuan penyaliban yang lain yang terjadi pada zaman itu. Jadi, kebangkitan tidak bisa dilepaskan dari penyaliban. Sebagaimana dilihat dalam narasi selanjutnya, Yesus yang bangkit masih menanggung bekas-bekas penyaliban-Nya. Percaya bahwa Dia bangkit menurut isi Kitab Suci adalah percaya bahwa Dia harus mati untuk keselamatan kita, dan bahwa kita harus siap menempuh jalan yang sama sebagai pengikut-Nya.

Iklan
Pos ini dipublikasikan di Yohanes dan tag , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s