Kis 6:1-7 Bukan penunjang saja

Bagaimana prioritas antara pelayanan firman dan pelayanan sosial? Dalam perikop ini, para rasul mengatakan bahwa pelayanan firman dan doa tidak boleh diabaikan (aa.2, 4). Seandainya gereja ibarat tim sepak bola, pelayanan itu disamakan dengan permainannya. Memang perlu ada tim penunjang seperti pelatih, medis, administrasi dsb, tetapi tanpa tim yang bermain di lapangan semua yang lain tidak berarti. Tanpa firman dan doa, tidak ada gereja yang layak disebut gereja.

Gambaran itu menyatakan satu aspek dengan baik. Yang khas bagi gereja bukan pelayanan sosialnya tetapi pemberitaannya. Banyak lembaga umum yang melakukan upaya mewujudkan kasih. Tetapi yang menarik orang untuk menyerahkan diri dan percaya adalah firman tentang Kristus (a.7).

Namun, gambaran itu belum juga pas. Melayani meja bukan sekadar kegiatan penunjang yang hanya dibutuhkan karena alasan praktis. Kesatuan dalam persekutuan yang terwujud dalam diakonia merupakan bagian dari hakikat gereja. Yang dipilih untuk melakukan pelayanan itu orang yang penuh Roh Kudus dan hikmat (aa.3, 5). Mereka dilantik dengan peletakan tangan (a.6), sama seperti Paulus dan Barnabas sebelum pelayanan misi mereka (13:3). Artinya, mereka termasuk para pemain, bukan tim penunjang. Malah, mereka sanggup menjadi pemberita firman pada saatnya, seperti Stefanus dalam p. 7 dan Filipus dalam p. 8.

Kadangkala pencetak gol menarik lebih banyak perhatian sehingga dianggap lebih penting—oleh mereka yang belum memahami bahwa sepak bola adalah permainan tim. Pelayanan gereja dilakukan oleh satu tim yang melayani Tuhan dengan pemberitaan firman, doa, dan tindakan kasih. Jangan sampai diakonia diberikan kepada sembarang orang. Di hadapan Tuhan semua bentuk pelayanan membutuhkan orang yang penuh Roh dan hikmat.

Iklan
Pos ini dipublikasikan di Kisah Para Rasul dan tag . Tandai permalink.

3 Balasan ke Kis 6:1-7 Bukan penunjang saja

  1. Pong Dodo berkata:

    salam
    sebagai tim, apa itu berarti ada juga pemain cadangan?
    kerjasama Tim inilah yang paling sulit…..
    ketidaksiapan pemainnya untuk bermain sebagi Tim sangat menghalangi…. sama halnya dalam kelompok Paduan suara…. sangat sulit untuk menghasilkan harmonisasi suara yang betul2 seimbang dan enak….
    biasanya sulit, kalau yang ikut adalah mereka yang biasa bernyanyi solo…. kesulitannya terletak pada kesediaan orang untuk mendengar suara penyanyi lain…. dalam Paduan suara juga sangat tdk diharapkan penyanyi ber”inprovisasi” sesuai selera…
    ada aturan bernyanyi dalam Paduan Suara….

    tetapi semuanya harus bermain dan menunjang…. Sopran, alto, tenor Bas, pelatih, dirigen,dll….
    keberhasilan Paduan suara merupakan keberhasilan Tim…

    salama’

  2. abuchanan berkata:

    Ya, betul. Kis. 15 adalah contoh lagi di mana gereja perdana menghadapi perpecahan. Mereka adalah manusia sama seperti kita. Jadi, masalahnya bukan ketika ada perselisihan tetapi ketika tidak ditangani dengan baik. Malah, seperti di sini, jika ditangani dengan baik perselisihan bisa berfungsi untuk memperjelas visi dan misi.

  3. pdt. karoma berkata:

    nampaknya keadaan grj mula2 tdk seideal sprti dlm kis.4:32-37, sungut2 anggota jemaat dpt menjadi biang perpecahan, jadi perlu ditindak lanjuti demi utuhx persekutuan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s