Kis 26:24-31 Yang berilmu mesti bersaksi

Dalam Luk 21:12 Yesus mengatakan bahwa “sebelum semuanya itu kamu akan ditangkap dan dianiaya; kamu akan diserahkan ke rumah-rumah ibadat dan penjara-penjara, dan kamu akan dihadapkan kepada raja-raja dan penguasa-penguasa oleh karena nama-Ku.” Dalam Kis pp.23-25 kita melihat bagaimana Paulus menggunakan kesempatan ketika diadili untuk bersaksi tentang nama Yesus.

Paulus belum lama naik banding ke Kaisar supaya tidak dibawa lagi ke Yerusalem, karena jika ke sana kemungkinan besar orang Yahudi akan berhasil membunuhnya (Kis 25:11). Tetapi Festus, yang baru saja tiba sebagai wali negeri Yudea, menggantikan Feliks, tidak tahu-menahu tentang agama Yahudi, sehingga tidak memahami mengapa orang Yahudi memusuhi Paulus, dan juga bingung tentang apa yang mau ditulis kepada Kaisar mengenai Paulus. Raja Agripa (dan adik perempuannya Bernike) adalah cicit Herodes Agung, orang keturunan Yahudi, dan dianggap ahli tentang agama Yahudi oleh orang-orang Romawi. Jadi, Agripa diminta untuk mendengarkan perkara Paulus. Jadi, Paulus diberi kesempatan untuk bersaksi bukan saja kepada Feliks dan Festus, tetapi sekarang kepada Agripa dan Bernike juga. Dalam a.29 kita melihat bahwa kesaksian Paulus bermaksud supaya semua yang mendengar bisa menjadi orang percaya sama seperti dia.

Dalam 26:2-23 kesaksian Paulus termasuk cara hidupnya sebelum berjumpa dengan Kristus, kemudian bagaimana Kristus mengubah hidupnya secara menyeluruh, kemudian apa yang dia lakukan setelah bertobat. Festus pasti kewalahan mendengar tentang Musa dan para nabi, tetapi soal kebangkitan dapat dia pahami—semua orang tahu bahwa manusia yang sudah mati tidak bangkit kembali. Jadi, dia menganggap Paulus gila saja. Oleh karena itu, Paulus berpaling kepada Agripa, yang memiliki latar belakang untuk memahami kesaksian Paulus. Akhirnya, baik Festus maupun Agripa setuju bahwa Paulus tidak berbahaya dan tidak bersalah (aa.30-32), sesuai dengan salah satu tujuan Lukas supaya pembaca memahami bahwa kekristenan bukan kelompok pemberontak atau pengacau.

Seperti dikatakan Festus, Paulus adalah orang yang berilmu—bukan saja tentang agama Yahudi tetapi juga tentang budaya Helenis, yaitu budaya kekaisaran Romawi. Dalam minggu pendidikan perlu diingat bahwa ilmu bukan untuk memajukan diri sendiri atau mengejar status. Ilmu kita bisa menjadi salah satu bekal untuk kita bersaksi tentang Yesus di tempat kerja atau di depan masyarakat. Mungkin ada yang bersaksi tentang Yesus dengan pikiran yang kurang sehat, seperti mau menang, merendahkan orang lain dsb. Tetapi jangan kita takut dianggap gila oleh orang yang tidak dapat menangkap kebenaran dalam Kristus, kalau memang kebenaran itu disampaikan dengan pikiran yang sehat.

Pos ini dipublikasikan di Kisah Para Rasul dan tag . Tandai permalink.

Satu Balasan ke Kis 26:24-31 Yang berilmu mesti bersaksi

  1. menemani berkata:

    “Tetapi jangan kita takut dianggap gila oleh orang yang tidak dapat menangkap kebenaran dalam Kristus, kalau memang kebenaran disampaikan dengan pikiran yang sehat.” Setuju, benar sekali! Terima kasih.

    Salam hangat,
    :) eva

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s