Yoh 14:1-14 Jalan kepada Bapa

Kata Yesus, “Janganlah gelisah hatimu” (a.1). Padahal, besok Dia akan mati, dan Dia baru bernubuat bahwa Petrus akan menyangkal-Nya. Yoh pp.14-17 menunjukkan alasan-alasan Yesus mengapa murid-murid-Nya tidak perlu gelisah. Dalam perikop ini, yang disoroti adalah kepercayaan. “Percayalah kepada Allah, percayalah kepada-Ku.” Apa kaitannya antara percaya kepada Allah dengan percaya kepada Yesus? Hal itu yang diuraikan dalam perikop ini.

Yesus baru mengaitkan diri-Nya dengan Allah dalam rangka kemuliaan (Yoh 13:31-32). Anak Manusia (Yesus) akan dipermuliakan oleh Allah pada salib, dan Allah akan dipermuliakan dalam Yesus. Yesus juga memberitahu mereka bahwa Dia mau pergi ke tempat yang kepadanya mereka tidak bisa datang (13:33). Namun, dalam 13:36 dikatakan kepada Petrus bahwa kelak dia akan mengikuti Yesus ke sana. Tujuan dan jalan ke sana itu yang dibahas dalam bagian awal perikop ini (aa.2-6). Tujuan adalah “rumah Bapa” (a.2) atau dalam kata lain “Bapa” (a.6). Yesus pergi untuk menyediakan tempat di sana, dan Dia sendiri merupakan jalan ke sana. Cara-Nya menyediakan tempat tidak bisa lain dari salib yang segera akan Dia lalui. Cara-nya kembali dan membawa murid-murid-Nya diuraikan dalam aa.15dst, yakni dalam Roh Kudus. Jadi, jalan itu ditempuh dalam kehidupan sekarang; sebagai jalan kepada Bapa, Yesus adalah “kebenaran” dan “hidup”. Mengikuti Yesus berarti menemukan jalan hidup yang benar. Kita percaya kepada Allah sebagai tujuan, dan kepada Yesus sebagai jalan kepada tujuan itu.

Bagaimana Yesus berfungsi sebagai jalan? Jalan yang menuju ke desa belum tentu sama indahnya dengan desa itu. Tetapi Yesus tidak lain sifat-Nya dari Bapa-Nya. Dalam aa.7-9 Yesus menunjukkan eratnya hubungan antara Dia dengan Bapa-Nya. Mengenal Yesus adalah mengenal Bapa-Nya. Melihat Yesus adalah melihat Bapa-Nya. Hal itu terjadi karena Bapa di dalam Yesus dan Yesus di dalam Bapa. Yesus adalah Anak Tunggal Allah (monogenes theos) yang menyatakan Bapa (Yoh 1:18). Dia adalah jalan kepada Bapa sama seperti sinar adalah jalan untuk mengenal terang, atau perkataan (logos) adalah jalan untuk mengenal orang.

Agak sulit bagi murid-murid Yesus untuk menangkap maksud Yesus dan percaya, padahal sudah lama mereka bersama dengan-Nya. Oleh karena itu, Yesus kembali ke tema itu dalam aa.10-14. Semestinya mereka dapat melihat dalam perkataan dan pekerjaan Yesus bahwa Allah Bapa bergerak (a.10). Jika mereka tidak dapat langsung mempercayai perkataan Yesus, setidak-tidaknya pekerjaan Yesus dapat mereka percayai (a.11). Misalnya, dalam Yoh 5:19-20, Yesus sudah menyampaikan bahwa Dia mengerjakan apa yang ditunjukkan oleh Bapa-Nya, dan akan ada pekerjaan yang lebih besar, yakni membangkitkan orang mati. Dalam aa.29-30 pekerjaan itu dikaitkan dengan penghakiman terakhir: “semua orang yang di dalam kuburan akan mendengar suara-Nya”. Tetapi, perkataan itu sudah dibuktikan ketika Yesus bersuara kepada Lazarus di dalam kuburannya dan dia hidup kembali (Yoh 11:43-44). Yesus mau supaya mereka percaya bahwa Dia di dalam Bapa dan Bapa di dalam Dia.

Tetapi Yesus juga mau supaya mereka percaya kepada-Nya, mengandalkan-Nya. Murid-murid Yesus juga akan melakukan pekerjaan-pekerjaan yang berasal dari Allah Bapa dan memperlihatkan-Nya, termasuk yang lebih besar (a.12)—maksudnya, saya duga, menghidupkan kembali orang mati dengan memberitakan Yesus Sang Hidup. Mereka sanggup melakukan hal-hal itu karena berdoa kepada Yesus yang sudah pergi kepada Bapa-Nya (aa.13-14).

Ada dua kegelisahan yang dialamatkan dalam perikop ini. Yang satu menyangkut nasib kelak manusia, yang lainnya menyangkut kehidupan sehari-hari. Sudah ada tempat disediakan bagi kita bersama dengan Allah, dan sekarang ada kuasa melalui doa dalam nama Yesus untuk pergumulan hidup. Bukannya iman kristiani sekadar tentang hidup setelah mati, dan bukannya iman kristiani sekadar tentang perubahan moral/sosial sekarang.

Tetapi dua hal perlu diperhatikan, karena saya rasa banyak kepercayaan yang berurusan dengan kedua kegelisahan tadi. Yang pertama, kita percaya kepada Yesus karena Dialah yang menyatakan Allah, sehingga Dialah yang menjadi jalan kepada-Nya. Percaya kepada Allah tanpa percaya kepada Yesus adalah kerancuan. Salib dan kebangkitan Yesus membuktikan bahwa jalan itu sudah terbuka dan tujuan itu sudah terjamin. Yang kedua, kita mengandalkan Yesus bukan demi kepentingan kita melainkan demi kemuliaan Allah. Kita berdoa supaya pekerjaan-pekerjaan Allah, alias misi Allah, dapat terlaksana. Memang, misi Allah terlaksana di tengah kehidupan sehari-hari—di tengah rumah tangga, tempat kerja, pesta, sehingga tidak salah untuk berdoa tentang kebutuhan hidup. Tetapi jalan Yesus itu melalui salib, dan jalan itulah yang harus kita tempuh (bnd. Yoh 12:24-26). Belum tentu doa untuk luput dari jalan salib dapat dianggap doa dalam nama Yesus, walaupun nama itu tercantum ketika didoakan.

Pos ini dipublikasikan di Yohanes dan tag , , , , , , . Tandai permalink.

Satu Balasan ke Yoh 14:1-14 Jalan kepada Bapa

  1. Ping balik: 1 Pet 2:18-25 Berbuat baik dalam ketidakadilan [11 Mei 2014] | To Mentiruran

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s