Kis 20:28-38 Contoh Pelayanan Paulus

Pada akhir perjalanan misioner Paulus yang ketiga, sebelum dia ke Yerusalem, Paulus singgah di pelabuhan Miletus, 50 km dari Efesus, dan dari sana memanggil para penatua. Bahwa ada kelompok yang datang menunjukkan pentingnya Paulus, dan Injil yang Paulus bawa, bagi mereka.

Di tengah perpisahan yang penuh perasaan (aa.37-38), Paulus melakukan dua hal. Dia membela pelayanannya kepada mereka, dan mengingatkan mereka akan tanggung jawab mereka sebagai penatua. Paulus sadar bahwa kedudukan jemaat rentan. Ada dari luar, bahkan ada dari dalam jemaat, yang akan mengancam jemaat dengan gaya dan/atau ajaran yang bengkok (aa.29-30). Oleh karena itu, Paulus menceritakan hidupnya bersama dengan mereka, untuk membedakan dirinya dari pengajar-pengajar sesat, termasuk bahwa dia rela mempertaruhkan nyawanya asal dia setia kepada tugas yang diberikan Tuhan itu (aa.18-24). Karena pertemuan ini adalah kali terakhir bersama dengan mereka (a.25), dia bersaksi bahwa dia sudah menunaikan pelayanannya dengan penuh tanggung jawab (aa.26-27) dan tanpa pamrih (aa.33-34).

Oleh karena itu, dia berani mengangkat dirinya sebagai contoh bagi mereka (a.35). Hidupnya dapat disimpulkan sebagai membantu orang-orang lemah, sesuai dengan perkataan Yesus (yang tidak direkam di tempat yang lain) bahwa adalah lebih berbahagia memberi daripada menerima. Membantu di sini mencakup kedua aspek tadi. Paulus membantu orang-orang yang imannya perlu dikuatkan (sebenarnya itu kita semua). Dia melakukan hal itu dengan memberitakan “seluruh maksud Allah” (a.27) sebagai cara untuk mempersiapkan jemaat untuk menghadapi ajaran-ajaran palsu. Dia juga membantu orang-orang yang kekurangan dalam kebutuhan hidup, seperti kawan-kawan seperjalanan. Contoh Paulus sangat tepat untuk para penatua itu. Mereka bukan pelayan penuh waktu yang berhak didukung jemaat (bnd. 1 Kor 9:4-11). Jadi, mereka memiliki tanggung jawab dalam pelayanan, dan juga rezeki untuk dijadikan berkat bagi orang lain. Paulus menjadi contoh untuk kedua hal itu.

Sekarang ada tiga kelompok yang membaca perikop ini. Yang pertama adalah pendeta, pelayan penuh waktu yang didukung jemaat. Yang kedua adalah para penatua yang bekerja dan juga turut bertanggung jawab atas pelayanan. Dalam sistem gerejawi kita pendeta lebih ahli, tetapi bersama-sama mereka bertanggungjawab untuk membantu jemaat menghadapi berbagai ajaran palsu. Hal “seluruh maksud Allah” tadi saya anggap penting di sini. Hal itu berarti bahwa seluruh Alkitab dikenal sebagai wadah untuk mengenal siapakah Allah melalui berbagai jenis sastra, tetapi terutama melalui kisah-kisah yang di dalamnya Allah bergerak, dan kisah agung yang dilihat dalam seluruh Alkitab. Jemaat yang sudah tertanam dalam kebenaran ini tidak mudah digoyangkan oleh ajaran yang menjanjikan kekayaan atau kesehatan, seakan-akan Yesus adalah dewa kesuburan atau penjamin jimat. Mereka juga tidak akan mudah digoyangkan oleh ajaran yang mengaburkan kasih karunia Allah sehingga Injil menjadi harapan bahwa jika orang berbuat baik, semua akan berjalan baik dan orangnya dapat lebih berharap akan masuk sorga (bnd. a.24). Tidak ada gunanya melawan hal-hal itu dengan kecaman saja. Ajaran (dan tingkah laku) yang tidak benar perlu dihadapi dengan pendalaman kebenaran Alkitab. Semua pengajar dalam gereja dapat membantu jemaat yang lemah dengan ajaran yang sehat.

Yang ketiga yang membaca perikop ini ialah jemaat biasa. Untuk kelompok ini, apakah yang bisa dianggap relevan hanya perkataan Yesus untuk memberi daripada hanya menerima? Hal itu memang penting. Tetapi betapa tugas para pengajar akan dilancarkan apabila jemaat memahami tugas itu dengan tepat. Sepertinya, jemaat kadangkala memahami tugas pelayan sebagai pelaksana ritus—entah di gedung gereja, pesta orang mati, atau di rumah—untuk membawa berkat dan mencegah kutuk. Ritus adalah hal yang baik, tetapi tujuan itu jauh dari tujuan di atas, yaitu supaya jemaat menikmati kasih karunia Allah. Pendeta kadangkala mengeluhkan jemaat yang harapannya tidak tepat. Dalam perikop ini ada kesempatan untuk memperbaiki pemahaman yang keliru.

Sebagai kesimpulan, perlu diingat bahwa semuanya bergantung pada kasih karunia Allah. Makanya, dalam a.32 Paulus menyerahkan mereka (dan saya juga menyerahkan pembaca yang setia membaca sampai ke sini!) “kepada Tuhan dan kepada firman kasih karunia-Nya, yang berkuasa membangun kamu dan menganugerahkan kepada kamu bagian yang ditentukan bagi semua orang yang telah dikuduskan-Nya”.

Iklan
Pos ini dipublikasikan di Kisah Para Rasul dan tag , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s