Im 27:1-13 Gambaran Penebusan

Perikop ini menyangkut peraturan yang sepintas lalu hanya menyangkut kebiasaan dan budaya Israel, sehingga relevansinya untuk kita sekarang kelihatan kurang jelas. Perlu diingat bahwa relevansi ditemukan melalui Kisah Agung Alkitab. Siapakah Allah, bagaimana manusia dan dunia yang Dia ciptakan, dan apa yang Dia lakukan, itulah yang menjadi dasar kehidupan kita. Dalam perikop tertentu, tahap pertama adalah memahami apa yang tertulis. Kemudian, kita berupaya untuk memahami kaitannya dengan Kisah Agung Alkitab. Dengan demikian, kita dapat memahami relevansi untuk kita. Dalam perikop ini, baik isinya maupun hubungannya dengan Kisah Agung kurang jelas. Makanya, untuk menggali kedua hal itu, renungan ini agak panjang.

Tahap pertama adalah memahami apa yang disampaikan untuk konteksnya sendiri. A.2 menyebutkan nazar tentang orang. Contohnya seperti Hana, yang bernazar untuk menyerahkan anaknya kepada Tuhan apabila dia melahirkan (1 Sam 1:11). Biasanya, orang bernazar karena menghadapi kesulitan, dan mau menunjukkan keseriusannya waktu minta tolong kepada Tuhan. Hanya, jika apa yang dijanjikan itu orang, hal itu dapat menimbulkan masalah. Contoh terburuk adalah Yefta, yang bernazar untuk mempersembahkan siapa (bukan apa) yang pertama muncul dari rumahnya jika dia menang. Tetapi, dalam kasus Hana pun, seandainya semua perempuan mandul berjanji untuk menyerahkan anaknya untuk melayani di tempat suci, akan ada masalah! Jadi, sistem ini ditetapkan untuk menebus orang yang dijanjikan dengan nilai tertentu.

Nilai penebusan itu jelas bukan nilai sebagai manusia, karena untuk orang yang tua nilainya lebih kurang daripada orang muda, sedangkan orang yang tua justru lebih dihormati di Israel. Jadi, nilainya nilai sebagai pekerja, mungkin dihitung seandainya orangnya akan bekerja di tempat suci. Bagaimanapun juga, nilai itu tinggi—satu syikal perak kurang lebih gaji satu bulan. Namun, dalam a.8 ada peringanan untuk orang miskin; imam diberi wewenang untuk menetapkan harga penebusan yang terjangkau.

Dalam aa.9-13 ada hewan yang dijanjikan kepada Tuhan. Sebagai contoh, seseorang bisa bernazar kepada Tuhan bahwa anak domba yang lahir berikutnya akan diberikan kepada Tuhan. Hewan itu tidak dapat ditukar dengan yang lebih jelek, seandainya anak domba yang muncul kelihatan sangat baik. Hewan itu juga tidak dapat ditebus, kecuali hewan itu haram.

Dalam aa.14 dst ada milik orang yang diberikan kepada Tuhan, bukan dalam rangka nazar, tetapi sebagai pemberian saja. Harga penebusan untuk ladang dihitung menurut berapa kali panen sebelum tahun Yobel yang berikut. Pada saat tahun Yobel ladangnya menjadi milik imamat, kecuali tanah yang merupakan warisan kaum yang lain. Hal itu menarik. Artinya bahwa Tuhan menghargai tahun Yobel (a.24). Ingat bahwa pada tahun Yobel tanah yang dijual dikembalikan kepada pemilik aslinya. Jika si A menjual ladangnya kepada si B, pada tahun Yobel ladang itu kembali kepada si A (atau keturunannya). Seandainya si B menguduskan ladang itu kepada Tuhan, ladang itu tetap kembali kepada si A pada tahun Yobel. Hanya kalau si A menguduskan ladangnya sendiri, ladang itu menjadi milik imamat seterusnya.

Demikian ringkasan peraturan dalam Im 27:2-24. Apa artinya? Menurut Mary Douglas (Leviticus as Literature), kitab Imamat bermakna secara analogis. Maksudnya bahwa satu bagian diterangkan oleh bagian-bagian yang lain yang mirip. Tahun Yobel hanya muncul dalam p.25 dan p.27, dan dalam kitab Imamat konsep penebusan juga hanya muncul di situ. Jika p.27 dibandingkan dengan p.25, p.25 menyangkut penebusan dari hutang kepada sesama karena miskin, sedangkan p.27 menyangkut penebusan dari hutang kepada Allah, barangkali karena menghadapi masalah sehingga bernazar. Kita melihat bahwa soal agama dalam p.27 tidak menjadi alasan untuk meniadakan prinsip keadilan dalam p.25. Orang miskin tetap dipikirkan (a.8), dan Allah sendiri menghargai tahun Yobel (a.24).

Bagaimana dengan p.26, di antara p.25 dan p.27? Di sini kita menemukan hubungannya dengan Kisah Agung. P.26 berbicara tentang berkat jika Israel taat, dan kutuk jika Israel tidak. Kutuk itu termasuk pembuangan, supaya tanah dapat menikmati tahun-tahun Sabat (26:43). Namun, Tuhan akan menebus mereka. Kata “menebus” tidak dipakai, tetapi konsepnya ada. Sama seperti Dia menebus mereka dari Mesir (Kel 6:5; 15:13), Allah akan menyelamatkan umat-Nya dari pembuangan (26:45). Jadi, dalam Imamat pp.25-27, penebusan oleh Allah dibandingkan dengan penebusan oleh manusia. Perbandingan dengan p.25 menunjukkan bahwa Allah menjadi Penebus Israel, yang menyelematkan mereka dari perbudakan. P.27 agak lain. Di sini orang menebus miliknya sendiri, entah orang atau barang yang dinazarkan atau barang yang dikuduskan. Israel adalah milik Allah sendiri. Pembuangan Israel seakan-akan menjadikan Israel sebagai kurban untuk dosanya sendiri. Tetapi Allah menebus mereka supaya mereka tetap milik-Nya sendiri.

Maksudnya bahwa apa yang diperintahkan sebagai aturan untuk Israel tentang soal nazar dan hal yang dikuduskan juga dimaksudkan oleh penyusun kitab Imamat sebagai gambaran penebusan Allah, yaitu bahwa Allah menebus Israel sebagai milik-Nya sendiri. Hal itu menguatkan kita sama seperti Israel dikuatkan. Kita adalah “kepunyaan Allah sendiri” (1 Pet 2:9) yang ditebus dari dosa dan maut oleh Yesus sendiri.

Hubungan antara p.27 dan p.26 itu berarti juga bahwa Allah mempraktekkan keadilan dan kepedulian bagi yang lemah yang Dia perintahkan kepada kita. Nilai-nilai itu bukan soal budaya Israel saja, tetapi berasal dari Kisah Agung, dari watak Allah yang ditunjukkan dalam karya-karya keselamatan-Nya. Sebagai milik Allah yang ditebus, semoga kita berjalan sesuai dengan penebusan itu.

Iklan
Pos ini dipublikasikan di Imamat dan tag , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s