Gal 1:11-17 Pelajaran dari pertobatan Paulus

Dalam perikop ini Paulus menceritakan perubahan drastis yang terjadi ketika Kristus berjumpa dengan dia di jalan menuju ke Damsyik. Si penganiaya jemaat menjadi rasul yang mendiri-dirikan jemaat. Si pilar agama Yahudi memberitakan Mesias kepada bangsa-bangsa bukan Yahudi. Perubahan itu begitu drastis sehingga kita bisa tertarik untuk menjadikannya sebagai pola pertobatan secara umum. Masalahnya, Paulus tidak mengangkat kisah hidupnya di sini sebagai contoh. Di beberapa tempat Paulus mengangkat berbagai aspek kehidupannya sebagai contoh (mis. 1 Kor 10:33), tetapi di sini dia mau membuktikan bahwa Injil yang dia beritakan berasal dari Allah. Hal itu penting oleh karena tempat Paulus dalam Kisah Agung Alkitab, dalam rencana Allah untuk menyelamatkan bangsa-bangsa. Jadi, kita perlu lebih dulu memahami tempat Paulus dalam rencana Allah, baru melacak relevansinya untuk kita.

Paulus dipanggil sebagai rasul kepada bangsa-bangsa (aa.15-16). Apa artinya seorang rasul? Dari argumentasi Paulus di sini, satu ciri seorang rasul ialah bahwa rasul tidak meneruskan tradisi melainkan menyampaikan penyataan baru tentang Kristus. Seperti disinggung Paulus dalam a.1, penyataan itu terkait dengan kebangkitan Kristus. Rasul-rasul yang lain menjadi rasul sebagai saksi kebangkitan Kristus; Paulus diperjumpakan dengan Kristus yang telah bangkit di jalan menuju ke Damsyik. Jadi, penyataan yang dimaksud bukan penyataan umum, seperti hikmat yang terdapat dalam setiap budaya dsb, melainkan penyataan khusus, tentang karya Allah dalam Yesus Kristus, puncak dari seluruh rencana keselamatan Allah.

Cerita Paulus di sini mengajar kita bahwa Injil bukan suatu filsafat yang dapat kita temukan sendiri, melainkan berita yang harus diberitahu. Kita dapat bersyukur bahwa Allah memanggil Paulus untuk memberitakan Injil kepada bangsa-bangsa, dan bahwa ada yang meneruskan pelayanan itu sampai Injil datang ke Australia dan Indonesia.

Paulus juga dipanggil di tengah giatnya sebagai penganut agama Yahudi. Agama Yahudi memiliki tempat yang khusus dalam rencana Allah. Dasarnya adalah Taurat dan seluruh PL yang dinyatakan Allah kepada Israel supaya Israel menunjukkan hidup yang sejati di bawah kerajaan Allah. Namun, Taurat itu tidak menghasilkan budaya yang baik, karena dilumpuhkan oleh dosa (3:21-22), sampai Kristus datang (3:23-24). Paulus sendiri membuktikan buruknya budaya Yahudi karena sebagai orang yang maju di dalamnya dia menganggap baik menganiaya jemaat-jemaat Kristus. Pertobatannya tidak membuktikan buruknya Taurat melainkan keberdosaan Paulus (serta angkatannya).

Budaya-budaya dunia pada umumnya tidak memiliki dasar sekuat Taurat, kecuali mau diklaim bahwa budaya Eropa didasarkan pada Injil. Tetapi budaya Eropa juga banyak menyatakan keberdosaan orang-orang Eropa, sama seperti semua budaya yang lain. Jadi, masalahnya bukan budaya (walaupun semua budaya ada segi buruknya) melainkan keberdosaan orangnya. Yang diperlukan adalah Injil, Injil tentang Kristus “yang telah menyerahkan diri-Nya karena dosa-dosa kita, untuk melepaskan kita dari dunia jahat yang sekarang ini, menurut kehendak Allah dan Bapa kita” (a.4).

Pos ini dipublikasikan di Galatia dan tag , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s