Yeh 45:9-17 Peran seorang pemimpin

Kitab Yehezkiel mencakup dua bagian. Bagian pertama menyampaikan ancaman Allah bahwa Dia akan menghukum Israel jika mereka tidak bertobat (pp.1-33). Di tengah nubuatan itu adalah penglihatan tentang kemuliaan Allah meninggalkan Bait Allah (p.10). Dengan Allah tidak hadir lagi di tengah umat-Nya, maka Israel sudah rentan. Dalam Yeh 33:21 Yehezkiel mendapat berita bahwa Yerusalem yang dikepung sudah ditaklukkan (hal itu terjadi pada tahun 587/86 sM). Setelah itu, nada nubuatan Yehezkiel berubah. Di balik hukuman Allah ada keselamatan (pp.34-48). Penyelamatan Israel berarti pembaruannya, mulai dari hati dan batin yang baru (p.36), yang jika terjadi dalam kehidupan bersama berarti kebangkitan bangsa (p.37). Dalam pp.40-48 Yehezkiel menyampaikan suatu penglihatan tentang Israel sebagai bangsa yang kudus, dengan Allah hadir di tengahnya. Sebagian besar penglihatan itu menyangkut Bait Allah. Bait Allah akan dibangun kembali, dan kemuliaan Allah akan kembali ke dalamnya (Yeh 43:1-5).

Dalam penglihatan Yehezkiel ini, peran raja dibatasi. Bait Allah ada di pusat; di sekitar Bait Allah ada tanah untuk imam-imam dan orang-orang Lewi, baru di luar itu ada tanah pemimpin (45:1-8). Perikop kita menjelaskan peran si pemimpin: bukan untuk memeras rakyat (a.9) melainkan untuk menopang ibadah mereka. Untuk persembahan diperlukan ukuran yang betul (aa.10-12). Kemudian, berbagai persembahan (aa.13-15) diberikan kepada si pemimpin (a.16) supaya dia mengelola berbagai korban untuk umat Israel (a.17). Pemimpin bukan pusat bangsa melainkan pelayan bangsa, karena Allah yang hadir di Bait Allah adalah pusat bangsa.

Penglihatan Yehezkiel itu tidak digenapi ketika bangsa Israel kembali dari pembuangan (mulai tahun 539 sM). Bait Allah dibangun kembali, tetapi bukan menurut pola Yehezkiel, dan bagian terakhir yang menyangkut pemulihan bangsa-bangsa (Eze 47:12) hanya muncul lagi dalam penglihatan Yohanes tentang bumi yang baru (Why 22:2). Yehezkiel menyampaikan harapan keselamatan dan pembaruan bangsa dalam bahasa kaum imamat. Sama seperti dalam kitab Imamat, hidup yang sejati adalah hidup bersama yang berpusat pada Allah. Kebangkitan Yesus sudah menggenapi nubuatan Yehezkiel tentang kebangkitan bangsa Israel, lebih lagi karena kita dibangkitkan bersama dengan Dia (mis. Ef 2:4-7). Dalam perikop Yeh 45:9-17 ini tidak ada aturan ataupun nasihat yang berlaku untuk kita sekarang, lebih lagi karena korban-korban untuk dosa sudah digenapi dalam Kristus, dan korban-korban yang menyatakan persekutuan dengan Allah atau rasa syukur dilakukan dalam bentuk lain. Tetapi kita melihat bagaimana pemimpin menjadi pelayan ibadah umat, bukan pemeras umat. Semoga pemimpin masyarakat dan juga pemimpin gereja dapat menerapkan nilai itu, karena sadar akan pembaruan dalam Kristus.

(Im 19:35-37 juga berbicara tentang kecurangan, tetapi bukan dalam rangka ibadah melainkan dalam rangka keadilan dalam perdagangan dsb. Hal itu juga termasuk kekudusan umat yang berpusat pada Tuhan, Im 19:2.)

Pos ini dipublikasikan di Yehezkiel dan tag , . Tandai permalink.

4 Balasan ke Yeh 45:9-17 Peran seorang pemimpin

  1. Hananim berkata:

    gususr menggusur menjadi realitas BI saat ini. Tetapi konteksnya memang agak berbeda dengan teks ini. namun mungkinkah kita sepakat bahwa kalaupun beda konteksnya tetapi intinya adalah ketidakadilan pemimpin dalam menerapkan aturan dan ukuran.
    Nah ranah gereja dan negara sekarang kan adalah sebuah wilayah yg seolah-olah sengaja dijauhkan. Politik itu kotor, gereja jangan berpolitik. Padahal sesungguhnya dalam kondisi inilah gereja harus berbicara kepada pemimpin2 negeri ini disetiap tingkatan.

    pertanyaan saya, bagaimana mengimplementasikan firman ini di jemaat yang samasekali tidak ada pemimpin negara, PNS biasa sekalipun, tetapi sebagaian besar buruh dan orang terpinggirkan?

  2. abuchanan berkata:

    Ya, pertanyaan yang bagus. Satu hal yang dapat dikatakan ialah bahwa menurut Tuhan ada kesalahan dan ketidakadilan yang dilakukan oleh pemimpin. Kadang orang kecil menganggap diri salah dulu, padahal pemimpin yang salah. Memang dalam perikop ini tidak ada nasihat bagaimana menghadapi ketidakadilan, karena fokusnya ada pada dunia mendatang di mana semua seperti itu sudah dihapus oleh penghukuman Allah. Tetapi mengenali ketidakadilan penting adalah tahap pertama dalam pemberdayaan orang tertindas. Ketidakadilan bukan hanya sesuatu yang tidak kita sukai (ada banyak hal yang tidak kita sukai yang tidak termasuk ketidakadilan) melainkan sesuatu yang tidak berkenan di hadapan Tuhan.

  3. petrusseseng berkata:

    Saya lebih sepakat jika gereja “sebagai individu” bukan institusi yg terjun di dunia politik atau bidang apapun yg Tuhan karuniakan yang baik; lalu setiap pribadi itu menyuarakan suara kenabian tentang banyak hal termasuk ketidak adilan dan lainnya yang kita tidak sukai. Namun yang terjadi selama ini tidak demikian, khususnya bagi “orang Kristen” yg terjun ke dunia politik.

  4. abuchanan berkata:

    Saya setuju, dan dalam Israel kita sudah melihat bahwa peran imam dan raja itu beda. Asal kita mengingat bahwa Kristus itu adalah Raja dan Imam Besar. Seperti kata bapak, jangan sampai individu terjun ke lapangan politik dengan meninggalkan Kristus di gereja.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s