Ams 28:28; 29:2, 4, 10, 12, 14, 16, 18 Tentang pemerintahan

Amsal menyatakan hikmat berdasarkan suatu tatanan moral. Dunia diciptakan dengan hikmat (Ams 8:23-31), sehingga cara terbaik untuk hidup dalam dunia adalah dengan hikmat (8:32). Jadi, tatanan moral fungsinya seperti tatanan fisik. Jika saya mau mencapai tujuan Makale, ada jalan yang tepat dan jalan yang tidak tepat, lebih lagi kalau saya coba melalui sawah! Jika saya mau mencapai tujuan hidup yang berbahagia, ada cara hidup yang tepat dan cara hidup yang tidak tepat. Kitab Amsal, melalui amsal-amsalnya, mau memperlihatkan tatanan moral itu.

Dari perikop yang ditentukan, saya memilih ayat-ayat yang terkait dengan pemerintahan, mengingat HUT RI yang mendatang. Saya coba memakai bahasa “tatanan politik” dan “kekacauan politik” untuk menjelaskan beberapa amsal ini. Sejauh mana bahasa ini jelas saya serahkan kepada penilaian pembaca, dan mohon tanggapan dalam komentar jika ada usulan atau kritikan (dan juga perbaikan).

Jadi, apa hikmatnya yang terkandung dalam beberapa amsal yang berhubungan dengan pemerintahan ini? Jelas dalam semuanya bahwa pada umumnya rakyat mau pimpinan yang benar dan adil. Di bawah tema itu, satu kelompok ayat melihat peran orang benar dalam masyarakat (28:28; 29:2 & 10), sedangkan aa.4, 12, 14 menekankan peran pemimpin dalam keadilan. Aa.16 & 18 akan dibahas secara terpisah.

Kelompok yang satu menyoroti kepemimpinan. A.14 memaparkan idealnya: orang lemah dihakimi dengan adil. Hasilnya bahwa takhtanya kokoh. Keadilan untuk semua berarti tatanan politik stabil, kekacauan tercegah. Dalam a.4 keadilan yang menegakkan tatanan politik dipertentangkan dengan “pajak”. Bahasa aslinya untuk “orang yang memungut banyak pajak” adalah “orang sumbangan”, yang bisa juga diartikan “orang yang suka menerima suap”. Suap jelas tidak adil, dan kalau maksudnya pajak maskudnya pajak yang memberatkan, barangkali karena yang berkuasa mendapat lebih banyak keuntungan dari pajaknya ketimbang orang kecil. Perekonomian yang menguntungkan kaum atas itu justru meruntuhkan tatanan politik, alias mendatangkan kekacauan. Dalam a.12 memperlihatkan bahwa kalau pimpinan atas tidak berintegritas, alias kacau, maka bawahannya akan ikut serta. Hal itu bukan untuk membenarkan bawahan yang ikut saja, melainkan untuk menunjukkan bahwa pemimpin bertanggung jawab atas kekacauan yang terjadi di bawah kepemimpinannya.

Kelompok yang satu lagi menyoroti peran orang benar. Selama ada orang fasik yang haus akan darah, kedudukan orang saleh (istilah lain untuk menggambarkan orang benar) rentan, menurut a.10. Harapan mereka terletak pada peran orang jujur (juga istilah lain untuk orang benar) untuk menyelamatkan mereka. Seandainya dalam a.12 ada bawahan yang melawan arus, mereka akan mengalami a.10 ini. Jadi, perjuangan antara kebenaran dan kefasikan itu serius. Makanya, ketika ada kepemimpinan yang jahat, rakyat berkeluhkesah (a.2), tetapi menyembunyikan diri supaya aman sampai masa kefasikan lewat, baru berani muncul kembali sebagai orang benar (28:28). Hal itu tidak berarti bahwa kebenaran mereka palsu, tetapi hanya bahwa orang banyak kurang berani. Rakyat lebih suka berkeluhkesah daripada bertindak.

Jadi, tatanan politik yang menjamin kehidupan damai bersama adalah sesuatu yang perlu diperjuangkan. Dalam bahasa Yesus, kita dipanggil menjadi garam dan terang, tetapi hal itu tidak akan terjadi tanpa penganiayaan seperti yang terjadi pada para nabi (Mt 5:10-14). Misalnya, seandainya semua orang percaya dalam pemerintahan menolak cara-cara buruk, akan langsung terasa akibatnya. Akibatnya akan buruk untuk sebagian mereka karena kesalehannya, seperti a.10, tetapi fungsi garam akan terasa. Karena 28:28 saya realistis saja tentang kemungkinan hal itu akan jadi pada skala yang besar, tetapi sebenarnya potensi itu ada.

Kedua ayat terakhir yang mau dibahas, aa.16 & 18, membawa dua unsur harapan dalam perjuangan melawan kekacauan itu. Dalam a.16 ada janji bahwa orang benar akan melihat keruntuhan orang fasik. Hal itu memang selalu terjadi dalam perjalanan sejarah, cepat atau lambat, tetapi di luar kitab Amsal kita memahami bahwa Allah akan menuntaskan proses itu pada penghukuman terakhir. Pengacau akan dikacaukan oleh sang Pencipta tatanan dunia. Tetapi untuk sementara, yang menjaga tatanan politik adalah wahyu (a.18). Wahyu menjadi sumber ajaran [1] yang jika dipegang membawa kebahagiaan, berkat tatanan dunia yang utuh. Allah tidak hanya menjamin masa depan, tetapi juga bergerak di tengah kekacauan sekarang. Perjuangan kita berarti karena di baliknya Allah sendiri bertindak melalui firman-Nya, dan di depannya Dia akan bertindak untuk memulihkan segala sesuatu.

Singkat kata: kefasikan dalam pemerintahan tidak disukai rakyat, dan tidak disukai Tuhan. Yang satu semestinya membuat pemimpin yang jahat malu, yang satu semestinya membuat pemimpin itu takut. Semoga kita semua memperjuangkan yang benar dan melawan yang kacau.

[1] Kata tora yang diterjemahkan dengan “hukum” di sini biasanya diterjemahkan dengan “ajaran” dalam ayat-ayat yang lain dalam kitab Amsal; mungkin karena konteks politik sehingga “hukum” dipakai di sini.

Iklan
Pos ini dipublikasikan di Pribadi dan tag , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s