Pkh 5:7-17 Kerja keras dalam dunia yang rusak

Dalam kitab Pengkhotbah kita melihat segi lain dari hikmat. Amsal mau memaparkan hikmat Allah yang tertanam dalam dunia yang Dia ciptakan. Pengkhotbah lebih hati-hati. Kita sebagai manusia terbatas, dan dunia ini tidak selalu berjalan sebagaimana semestinya. Perbedaan itu jangan dilebih-lebihkan. Amsal juga menyadari bahwa, misalnya, ketidakadilan merusak, dan Pengkhotbah juga ada pesan positif. Untungnya bagi umat Allah ialah bahwa dalam firman Allah kita diperhadapkan dengan dunia riil: bukan hanya hal-hal yang memberi semangat seperti anjuran untuk rajin dan janji bahwa jalan akan lurus bagi orang yang percaya akan Tuhan, tetapi juga kenyataan bahwa hasil yang semestinya dari kerajinan dirusak oleh keserakahan dalam diri, dan juga oleh ketidakadilan dari pihak lain. Istilah “kesia-siaan” merujuk ke ketidaksinambungan ini antara usaha dan hasil yang semestinya dari usaha itu.

Aa.7-8 membahas ketidakadilan. Sepertinya, dalam a.7 si pengkhotbah mengamati keadaan yang sama dengan jenjang korupsi yang konon ada dalam beberapa aparat Indonesia, di mana bawahan disuruh untuk main korupsi dan menindas rakyat dengan sebagian besar hasilnya distor ke atas. Artian a.8 tidak jelas (ada beberapa kemungkinan untuk terjemahannya), tetapi mungkin maksudnya adalah bahwa walaupun ada penindasan, paling sedikit pemerintah membawa kestabilan yang disimbolkan dalam hormat kepada raja. Bagaimanapun juga, si miskin tertindas, meskipun dia rajin. Hikmat yang semestinya (bahwa orang rajin berhasil) tidak berlaku sebagaimana semestinya baginya.

Aa.9-16 membahas malangnya orang yang mencintai uang. Kelompok itu termasuk penindas tadi, tetapi menjadi peringatan untuk kita semua. Jika Yesus melihat soal mencintai uang dari perspektif pemberhalaan (Mt 6:19dst), Pengkhotbah melihatnya dari perspektif kesia-siaan. Orang yang mencintai uang tidak pernah puas (a.9), menjadi sorotan orang banyak yang ada keperluan (a.10), dan susah tidur (a.11). Uang itu bisa hilang sehingga tidak ada warisan bagi anaknya (aa.12-13). Bagaimanapun juga, si pencinta uang akan mati, dan pada saat itu tidak ada yang dapat dia bawa (aa.14-15), padahal dia sudah banyak menderita karena cintanya akan uang (a.16). Hal itu layak disoroti. Dari segi materi pencinta uang bisa saja berhasil, tetapi saking cintanya dia selalu tidak puas, sehingga kesal terhadap apa yang dia anggap sebagai halangan untuk memuaskan keserakahannya yang tak terpuaskan itu. Juga, dia takut kehilangan uang itu, dan di dalam lubuk hati dia sadar bahwa uang tidak berarti sebagai tujuan hidup. Bukankah tepat gambaran si pengkhotbah bahwa inilah “menjaring angin” (a.15)? Cinta akan uang merusak hasil yang semestinya dari uang sebagai hasil jerih payah.

Tetapi ada alternatifnya, yang disampaikan dalam aa.17-19, yaitu bahwa orang menikmati pekerjaannya sebagai pemberian Allah. Dia rajin bukan untuk meraih uang, tetapi karena “itulah bahagiannya” (a.17). Petani (ataupun penambang) dapat menikmati keajaiban alam yang menghasilkan banyak-banyak untuk menghidupi manusia. Orang yang melayani, entah dalam pemerintahan atau swasta, dapat menikmati kesempatan untuk berdampak baik bagi yang dilayani. Lebih lagi orang yang melayankan firman Tuhan yang menghidupkan. Jika jerih payah itu berhasil, kekayaan itu juga dinikmati sebagai pemberian Allah (a.18), sehingga jika hilang lagi, hal itu bukan musibah. Malah, menurut ajaran Alkitab di bagian lain, orang kaya itu akan sanggup memberikan sebagian dari kekayaannya kepada orang lain. Kemudian, orang itu terlalu sibuk untuk mencemaskan kematiannya yang memang menunggunya (a.19).

Jika dipikirkan, uang sering menyimbolkan atau mewakili status. Ada yang mengaku masa bodoh terhadap uang tetapi haus akan status, malah menjadi murah hati demi status itu. Hal itupun akan merupakan “menjaring angin” yang sia-sia.

Dua catatan penutup. Yang pertama, kita tahu bahwa Kristus datang supaya ciptaan dapat dimerdekaan dari kesia-sian bersama dengan anak-anak Allah (Rom 8:19-22). Kadangkala, kita mengutip ayat seperti Rom 8:28 (bahwa “Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia”) seakan-akan bagi orang percaya dunia sudah dimerdekakan dari masalah. Tetapi kemerdekaan itu masih kita tunggu. Kebaikan yang dimaksud dalam Rom 8:28 adalah menjadi serupa dengan Kristus (Rom 8:29). Ajaran si Pengkhotbah untuk menikmati pekerjaan kita sebagai bagian kita dari Allah akan membantu kita untuk menjadi serupa dengan Kristus, karena sangat cocok dengan ajaran Yesus untuk jangan mencintai uang dan jangan mengkhawatirkan hari esok (Mt 6:19).

Yang kedua, pembaca yang cermat mungkin sudah memperhatikan bahwa tafsiran saya di atas melampaui apa yang dikatakan dalam teks. Alasannya ialah bahwa tulisan hikmat merenungkan pengalaman manusia. Untuk menangkap maksudnya, mau tidak mau kita harus mengaitkannya dengan pengalaman kita, sehingga tafsiran kita menjadi campuran teks dan konteks. Untuk jenis sastra yang lain proses seperti itu juga terjadi, tetapi dalam, misalnya, tulisan sejarah kita berusaha untuk membedakan apa yang terjadi dengan implikasinya untuk sekarang. Dengan tulisan hikmat, proses perenungan pembaca adalah maksudnya. Makanya, pembaca blog ini rugi kalau sekadar membawa pikiran-pikiran saya. Semestinya, pembaca dipicu untuk membaca ulang ucapan-ucapan perikop ini untuk dikaitkan dengan konteks pribadi dan jemaat. Semoga dengan demikian banyak yang dimerdekakan dari cinta-cinta yang sia-sia.

Iklan
Pos ini dipublikasikan di Pengkhotbah dan tag , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s