Yes 32:1-8 Pemulihan batin

Dalam Yesaya 28-35 ada berbagai nubuatan tentang hukuman dan penyelamatan terhadap Israel. Perikop ini menyampaikan suatu gambaran tentang Israel yang sudah dipulihkan. Salah satu fungsinya adalah perbandingan dengan kenyataan pada saat Yesaya, supaya kekurangan Israel pada saat itu dapat lebih jelas.

Perikopnya berbicara tentang pemimpin dalam artian yang luas, dari orang-orang yang menjabat (a.1) sampai orang yang berbudi luhur, sehingga menunjukkan kepemimpinan moral / rohani dalam masyarakat. Tentu, harapannya bahwa raja dan penjabat-penjabat yang lain akan memiliki karakter itu juga, tetapi harapannya tidak terbatas pada kelompok itu.

Tentang pemimpin yang menjabat, a.2 menyampaikan empat ilustrasi tentang perlindungan berkat kepemimpinan yang baik. Aa.3-4 berbicara tentang pemulihan batin. Mata, telinga, hati dan lidah orang akan berfungsi sebagaimana semestinya. Fungsi itu saya tafsir sebagai berikut. Mata semestinya sanggup melihat hal-hal yang tidak beres (seperti dalam aa.5-7), tetapi tidak sanggup karena hati yang terburu nafsu itu. Telinga semestinya sanggup mendengar hal-hal yang tidak enak, seperti keluhan orang miskin (a.7), tetapi yang tertindas (baik secara rohani, a.6, maupun secara ekonomi, aa.6-7) pun “gagap” dalam menyampaikan keluhannya (a.4).

Hasil dari pemulihan batin adalah pengakuan tentang orang-orang yang berbudi luhur. Kata itu dipakai untuk orang yang memberi dengan sukarela, seperti dalam Kel 35:5. Masalahnya, jika mata orang tertutup dan telinga orang tidak memperhatikan, orang bebal bisa saja mengklaim sebagai orang yang berbudi luhur, dan seorang penipu bisa saja dihormati (a.5). Padahal sifat yang sebenarnya dari orang bebal dan penipu yang diuraikan dalam aa.6 & 7 masing-masing sangat kentara. Sifat orang yang berbudi luhur juga kentara. Dia merancang hal-hal yang luhur, dan berdiri tegak karena hal-hal itu (a.8).

Bahwa aa.5-7 menggambarkan keadaan di Indonesia (dan negara-negara yang lain) sangat jelas. Mengapa demikian? Karena banyak orang, termasuk pempimpin-pemimpin kecil yang mempengaruhi masyarakat, belum mengalami pemulihan batin seperti dalam aa.3-4. Janji semu dipercayai karena hati yang terburu nafsu, sedangkan keluhan orang terpinggir tidak diperhatikan. Dalam konteks Yesaya, pemulihan batin akan terjadi jika ada pertobatan (bnd. 31:6-7) karena percaya pada karya Tuhan untuk memulihkan dunia (31:8-9). Hal itu tidak berubah dalam PB. Karena karya-Nya pada salib, Kristus adalah hikmat kita (1 Kor 1:30), yang memampukan kita melihat dunia seadanya dan mendengarkan bahkan hal-hal yang mengancam kepentingan kita sebagai pemimpin.

Pos ini dipublikasikan di Yesaya dan tag , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s