Mazmur 1 Individu, relasi atau kelompok?

Satu ciri budaya yang makin lama makin ramai dibicarakan dalam teologi kontekstual adalah individualisme (“aku berpikir, maka aku berada”) dan dua alternatifnya, relasionalisme (“aku adalah anak si A, kakak si B, teman si C, maka aku berada”) dan kolektivisme (“aku adalah orang Toraja, maka aku berada”). Tentu, semua segi itu terlibat dalam identitas setiap manusia. Saya adalah individu: orang lain dapat membelikan atau memasakkan makanan bagi saya, tetapi orang lain tidak dapat memakankan makanan bagi saya. Tetapi, saya juga berada dalam jaringan relasi, yang daripadanya saya belajar bagaimana caranya makan dengan baik dan yang dengannya saya suka makan. Saya juga berada dalam kolektif (kelompok) yang cukup menentukan makanan apa yang tersedia dan kapan boleh dimakan (misalnya, di Toraja makan setelah acara, sedangkan di Australia biasanya makan dulu). Hanya, budaya individualis menyoroti manusia sebagai individu, sehingga sejak kecil seorang anak mendengar banyak pepatah, wacana, ilustrasi dan informasi menyampaikan bagaimana caranya menjadi orang yang lain dari yang lain. Budaya relasionalis menyoroti relasi, sehingga sejak kecil seorang anak mendapat banyak bekal budaya tentang bagaimana memperlancar relasi-relasi yang ada. Budaya kolektivis menyoroti kelompok. Saya berasal dari budaya yang sangat individualistis, tetapi tentu ada juga sorotan cukup besar terhadap relasi dan sedikit juga terhadap kolektif. Pada hemat saya, budaya Toraja itu lebih relasionalis daripada kolektif, tetapi mungkin budaya seperti budaya Jawa kuno terbalik. Bagaimanapun juga, salah satu dampak modernisasi adalah menguatnya unsur individualisme dalam budaya-budaya di Indonesia, lebih lagi dalam kaum muda.

Dalam bidang agama, budaya kolektif dan relasionalis akan lebih menonjolkan kegiatan bersama, alias ritus. Hubungan pribadi dengan kuasa gaib/ilahi bisa saja terjadi (khususnya dengan arwah leluhur), tetapi ada ahli dunia itu (seperti to minaa) yang bertugas untuk menguruskan hal-hal itu bagi masyarakat, seperti melacak dosa yang menyebabkan musibah tertentu dan menentukan tindakan yang diperlukan untuk menghapus dosa itu. Seperti sering diamati dalam konteks seperti itu, kepercayaan tidak terlalu penting, yang penting adalah melaksanakan ritus-ritusnya. Atau, apakah lebih tepat dikatakan bahwa dalam budaya yang di dalamnya pendapat “aku” tidak sebanding dengan hikmat orangtua atau kelompok, melakukan ritus adalah cara untuk percaya? Percaya bukan dalam artian memilih satu kepercayaan dari beberapa kemungkinan, tetapi percaya dalam artian mengandalkan hikmat dan kuasa yang melebihi hikmat dan kuasa saya sebagai individu. Pikiran seperti itu mungkin saja tetap ada dalam gereja, dan menjadi konteks yang menarik untuk memikirkan perikop kita.

Mzm 1 mulai dengan seorang individu (kata “orang” kata tunggal dalam bahasa Ibrani). Orang yang tunggal ini dibandingkan dengan keramaian orang fasik / berdosa / pencemooh (semuanya kata jamak, a.1). Orang ini tidak mengikuti keramaian itu, alias dia melawan arus. Budaya Israel kuno adalah budaya relasionalis. Bagaimana caranya satu orang dapat melawan keramaian orang yang dengannya dia berelasi dalam satu masyarakat? Jawabannya dalam a.2 adalah khas individualistis: orang ini merenungkan Taurat secara pribadi (kata tora juga dapat berarti “ajaran”, jadi bisa lebih luas daripada kelima kitab Musa saja). Kata “merenungkan” berarti bersuara, dan merujuk pada pembacaan Taurat dengan suara yang pelan, entah langsung dari naskah atau dari ingatan akan apa yang sudah dihafal, mengingat bahwa pada saat itu naskah itu mahal. Orang yang mengenal firman Tuhan ini tidak lagi mengandalkan orang-orang di sekitarnya saja untuk mendapat hikmat untuk hidup. Dalam firman Tuhan ada sumber lain, sumber yang lebih baik dan lebih berhikmat dari kelompok di sekitarnya.

Dengan demikian, diri orang ini menjadi kokoh, seperti pohon yang subur (a.3). Hasil pohon ini bukan soal berupaya tampil baik di hadapan orang, melainkan hasil dari hakikat orang yang dirinya sudah dibentuk oleh firman Tuhan. Sebaliknya, kaum fasik tidak ada bobotnya, mereka seperti sekam (a.4). Di situlah ada klaim yang luar biasa: Tuhan adalah lebih mendasar dari keluarga, suku dan negara. Mengingat bahwa kita dibesarkan dalam keadaan yang sangat bergantung pada kelompok, hal itu tidak mudah dipercaya. Tetapi orang yang merenungkan firman Allah akan berbahagia olehnya. Dia menjadi lebih individualistis dalam artian sanggup melawan keramaian orang karena ada sumber hidup yang lain, yaitu Tuhan. (Individualisme ini belum seperti individualisme Barat yang sudah meninggalkan relasi dengan Tuhan yang pada awalnya memungkinkan individualisme itu, seperti orang naik ke atas atap kemudian membuang tangga yang dipakai untuk naik.)

Dalam aa.5-6 individualisme tadi dibatasi lebih lagi. Ternyata, si orang dalam a.1, selain sebagai individu dalam relasi dengan Tuhan, termasuk juga dalam perkumpulan orang benar. Perkumpulan itu bukan pengarah hidupnya seperti kumpulan orang fasik menjadi pengarah hidup mereka dalam a.1. Tetapi, toh, ada kolektivitas dalam relasi dengan Tuhan. Tuhan akan menegakkan keadilan kepada kedua kolektivitas ini. Kaum orang fasik tidak akan bertahan (a.5) melainkan binasa (a.6), sedangkan jalan perkumpulan orang benar dikenal oleh Tuhan (a.6). Dalam aa.5-6 ini, keadaan terbalik dari a.1. Dalam a.1 kaum orang fasik yang menentukan apa yang lasim, sehingga si orang benar harus berjuang untuk melawan arus. Tetapi jika kita melihat ke akhir segala sesuatu dalam penghakiman Tuhan, kaum orang fasik yang tidak bisa ikut (a.5), dan jalan orang benar yang berkenan di hadapan Tuhan (a.6).

Yang mendasar dalam mazmur yang mengantarkan seluruh kitab Mazmur ini ialah relasi dengan Tuhan. Relasi dengan Tuhan akan mengurangi individualisme Barat, tetapi justru akan mendorong individualisme dalam budaya relasionalis atau kolektivis. Hal itu terjadi karena antara lain urusan agama tidak dapat didelegasikan kepada orang lain, seperti pendeta. Mungkin saja orang-orang fasik berharap bahwa para imam di Bait Allah akan menguruskan Tuhan bagi mereka, tetapi ternyata relasi dengan Tuhan adalah sesuatu yang tidak bisa didelegasikan. Sebuah pohon tidak dapat meminjamkan sebagian dari bobotnya kepada sekam. Jalan keluarnya adalah perenungan firman. Hal itu bukan sekadar soal pengetahuan (“aku mengetahui isi Alkitab, maka saya berada dalam relasi dengan Tuhan”), melainkan dengan isinya diingat berulangkali, entah dengan dibaca, didengar atau dihafal, firman itu mengubah diri kita. Aku mengenal Tuhan, maka saya sungguh berada, sekarang dan untuk selama-lamanya.

Cocokkah analisis saya tentang budaya Toraja di tempat pembaca? Silakan ditanggapi!

Pos ini dipublikasikan di Mazmur dan tag , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s