Ams 17:21, 25 Suka bukan duka dalam keluarga

Begini terjemahan harfiahnya kedua ayat kita yang menyangkut anak: “Melahirkan/memperanakkan orang bebal itu duka baginya, dan tidak bersukacitalah ayah orang bodoh” (a.21); dan “Kekesalan/sakit hati bagi ayahnya anak yang bebal, dan kepedihan bagi yang melahirkan/memperanakkannya” (a.25). Yang muncul dari terjemahan ini ialah tekanan pada soal melahirkan / memperanakkan (kata yang sama dipakai untuk peran ayah dan ibu). Hal itu berarti bahwa ada ikatan daging yang membawa kepahitan tersendiri bagi orangtua anak yang bebal. Semestinya memiliki anak membawa sukacita, tetapi lain kalau anaknya bodoh. Tentu, maksudnya di sini bukan soal bakat atau pembawaan anak, melainkan moralnya, apakah dia takut akan Tuhan, sanggup mengendalikan emosinya, rajin dsb.

Apa fungsi dari kedua amsal ini? Banyak amsal menganjurkan pembaca untuk berhikmat, dan pembaca tentu memiliki orangtua. Jadi, kedua amsal ini menjadi dorongan kepada kita untuk menjadikan orangtua yang melahirkan kita bangga karena kebijaksanaan kita. Namun, ada juga amsal yang menganjurkan orangtua untuk mendidik anaknya dengan baik. Orangtua bisa saja berandil dalam kebebalan anaknya, karena anaknya diperlakukan dengan kasar atau karena dia mencontoh kebebalan orangtuanya. Psikologi keluarga menunjukkan bahwa kebebalan anak bisa saja merupakan semacam reaksi atau pembalasan terhadap sikap orangtua yang tidak mementingkan si anak kecil sebagai yang lemah dan tidak berdaya, ataupun terlalu memanjakan anaknya sehingga anaknya kurang respek terhadap orangtuanya. Jadi, ada dorongan juga kepada orangtua untuk mendidik anaknya dengan baik, supaya nanti anaknya membawa suka bukan duka.

Yang tidak dimaksud oleh kedua ayat ini adalah mempersalahkan pihak yang lain, entah orangtua mempersalahkan anaknya atau sebaliknya. Jika ada anak yang bermasalah, sebaiknya semua pihak melihat ke dalam dulu, karena adalah lebih mudah mengubah diri daripada mengubah orang lain.

Dalam Ams 3:11-12 (yang dikutip dalam Ibr 12:5-6) kita membaca bahwa Allah juga mendidik kita sebagai anak-anak-Nya. Apakah kedua ayat kita dapat juga diterapkan pada hubungan kita dengan Allah? Dalam Luk 15:7, tersirat bahwa orang benar membawa sukacita bagi Allah. Memang, hanya Kristus yang menjadi Anak yang serba berhikmat, tanpa kebebalan sama sekali. Tetapi karena anugerah Allah, dalam ayat yang sama tersurat bahwa Allah bersukacita karena satu orang berdosa yang bertobat. Dia tidak mempersalahkan kita, melainkan bersukacita karena ada permulaan hikmat dalam pertobatan itu. Semoga orangtua dapat mendidik anaknya dengan baik sama seperti Allah mendidik kita dengan baik; semoga kita dapat membawa suka bukan duka bagi orangtua di bumi dan bagi Bapa kita di sorga.

Pos ini dipublikasikan di Amsal dan tag , . Tandai permalink.

Satu Balasan ke Ams 17:21, 25 Suka bukan duka dalam keluarga

  1. ulina berkata:

    Setuju sekali bahwa kebebalan anak tidak semata-mata karena anak yang sulit diajar. Karena dalam kenyataan bahwa anak sangat cepat belajar melalui pengamatannya terhadap perilaku dan perbuatan kita sebagai orang tua ataupn sebagai orang dewasa disekitar anak-anak itu. Jadi manakala anak anak kita berperilaku tidak seperti yang kita harapkan maka perlulah kita instrospeksi. Anak mudah sekali dibingungkan oleh ketidakkonsistenan kita sebagai orang dewasa. Memiliki anak berarti kita pun sedang mendidik diri kita sendiri kearah yang lebih baik.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s