Yeh 18:1-13 Kemungkinan untuk bertobat dan selamat

Yehezkiel, seperti sebagian besar nabi-nabi yang lain, berbicara tentang hukuman Israel karena memberontak terhadap Tuhan, dan keselamatan kemudian karena kesetiaan Tuhan di hadapan pemberontakan itu. Misalnya, dalam p.16 ada perumpamaan tentang Israel sebagai gadis yang diselamatkan dan dinikahi, kemudian berzinah dengan orang lain, sebagai gambaran Israel yang setelah diselamatkan dari Mesir mengandalkan bangsa-bangsa yang lain bukan Tuhan. Tentu, perumpamaan itu berbicara tentang Israel sebagai bangsa, artinya sebagai kolektif, yang di dalamnya semua orang senasib. Hal itu menarik perhatian karena kita tahu dalam PB bahwa manusia harus memberikan pertanggungjawaban kepada Allah secara perorangan (2 Kor 5:10). Namun, dalam sindiran yang dikutip dalam 18:3 yang dipersoalkan adalah soal perjalanan waktu, bahwa Israel dihukum sebagai bangsa yang ada berabad-abad. Mereka mengeluh bahwa nenek moyang berdosa, tetapi keturunannya yang dihukum. Dan memang, kalau kehancuran Yerusalem, hanya satu angkatan yang mengalaminya. Israel (atau golongan atas) di bawah raja Manasye, misalnya, hidup cukup tenteram walaupun di bawah pemerintahannya ada banyak pemberhalaan dan kejahatan (lih. 2 Raj 21).

Allah menjawab keluhan itu dengan pernyataan bahwa setiap orang akan mati karena dosanya sendiri (a.4). Contoh yang berikut menyangkut tiga generasi, yaitu perjalanan waktu. Yang satu baik, yang kedua jahat, yang ketiga baik, diukur oleh hukum Taurat yang merujuk ke kasih kepada Allah (makan daging persembahan, melihat kepada berhala-berhala) maupun berbagai aspek kasih kepada sesama. Karena p.17 berbicara tentang raja-raja Israel (secara tersirat Yoyakim dan Zedekia), mungkin saja contoh yang akan muncul dalam pikiran pendengar adalah Yosia (raja yang baik), Yoyakim (raja yang jahat), dan pertanyaan ialah, apakah Zedekia akan baik? Maksudnya bahwa seandainya Zedekia serta bangsa Israel bertobat, mereka tidak akan dihukum. Mereka dihukum karena mereka ikut dalam dosa nenek moyangnya, bukan karena dosa nenek moyangnya ditimpakan kepada mereka dengan sembarangan. (Kel 20:5 barangkali bermaksud sama, yaitu bahwa Allah membalaskan kesalahan bapa kepada anak-anaknya yang meniru dosa bapanya.)

Pemahaman tentang dosa yang diteruskan kepada generasi berikut masih penting bagi kita. Dosa yang paling tidak diperhatikan adalah dosa yang kita tiru dari orangtua dan budaya. Misalnya, sebagian cara berkorupsi yang sebenarnya merampas tidak dianggap salah karena dianggap biasa saja. Kelalaian terhadap yang lapar dan telanjang juga bisa tertanam dalam pola masyarakat sehingga tidak disadari sebagai dosa. Tetapi walaupun tidak disadari, hal-hal itu tetap bertentangan dengan kehendak Tuhan, sehingga seluruh bangsa atau budaya bisa saja berada di bawah hukuman Allah. Gerejapun berada di bawah hukuman Allah sejauh budaya gereja itu membiarkan dosa.

Dalam bagian berikut dalam pasal 18 ini (seluruh pasal sebenarnya merupakan satu bagian utuh yang sulit dipotong pada a.13) soal tanggung jawab secara perorangan muncul dengan jelas. Jika satu generasi dapat berbalik dari jalan generasi sebelumnya, satu orang pun bisa berubah haluan (bertobat) dan dengan demikian selamat (18:21-22). Tidak jelas bagi saya bagaimana seorang penduduk Yerusalem dapat selamat ketika Yerusalem dikepung dan dihancurkan. Tetapi dalam perkembangan teologi Alkitab, pemahaman tentang keselamatan secara perorangan itu bermuara pada pemahaman tentang keselamatan eskatologis, yaitu bahwa keselamatan tidak bisa hanya dalam kehidupan ini. Harus ada kebangkitan dari antara orang mati supaya orang yang setia kepada Allah tetapi mati sebelum pembaruan dunia terwujud tidak kehilangan bagiannya. Pengharapan itu yang diteguhkan oleh kebangkitan Yesus.

Kadangkala orang memakai budaya atau contoh orangtua sebagai alasan untuk membenarkan diri. Kalau di atas dijelaskan bahwa budaya bisa berada di bawah hukuman Allah, di sini kita melihat tetapi jalan menuju keselamatan bukan dengan membenarkan diri melainkan dengan bertobat. Sebenarnya, Yehezkiel pesimis tentang kemampuan orang Israel untuk bertobat, hanya dengan campur tangan Allah maka orang dapat memiliki hati yang baru (Yeh 18:31; 36:26-27). Tetapi kita hidup dalam zaman perjanjian yang baru, sehingga kita sudah diberi hati yang baru dan Roh Kudus.

Pos ini dipublikasikan di Yehezkiel dan tag , , , . Tandai permalink.

Satu Balasan ke Yeh 18:1-13 Kemungkinan untuk bertobat dan selamat

  1. Ping balik: Yeh 18:25-32 Bertobatlah dan hidup [30 Oktober 2011] « To Mentiruran

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s