1 Pet 2:18-25 Harga diri di tengah penderitaan yang tidak adil

Surat Petrus mulai dengan menjelaskan status pembaca sebagai “bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus” (2:9, sebagai kesimpulan 1:1-2:10). Oleh karena itu, “sebagai pendatang dan perantau” (2:11, tomentiruran dalam bahasa Toraja), pembaca harus melawan dosa dan hidup baik di tengah bangsa-bangsa, supaya Allah dimuliakan (2:12). Dalam 2:13-3:7 hal itu dijelaskan dalam rangka hierarki-hierarki masyarakat. Sebagai hamba Allah, orang percaya merdeka, tetapi bukan untuk berbuat jahat melainkan untuk berbuat baik (2:16), termasuk menghormati semua orang sesuai dengan kedudukannya (2:17).

Perikop kita dapat dibagi dua, yaitu nasihat (aa.18-20) serta dasarnya (aa.21-25). Nasihatnya memang sulit. Ketidakadilan yang diterima begitu saja mengancam harga diri, karena tersirat di dalam penerimaan itu adalah pesan bahwa hak saya (atau hak kami) tidak berarti. Sepertinya a.18 menyuruh hamba tunduk pada kebengisan dan hidup dalam ketakutan. Malah, dalam aa.19-20 hal itu disebut “kasih karunia pada Allah”. Banyak bagian Alkitab yang lain menyuarakan keadilan, karena semua manusia adalah gambar Allah sehingga semua manusia bermartabat di hadapan-Nya. Mengapa sebagai hamba yang percaya kepada Kristus saya sepertinya disuruh untuk tidak memperjuangkan keadilan untuk saya (ataupun sesama hamba)?

Oleh karena itu, saya memberi sorotan yang mudah-mudahan tidak dianggap berlebihan pada nas ini. Dua hal perlu diamati.

Yang pertama adalah konteks sosialnya. Sama sepert di Toraja ketika Injil datang, perhambaan dalam kekaisaran Romawi adalah hal yang menjadi landasan sistem perekonomian. Ada dua perbedaan dengan Toraja ketika Injil datang. Yang pertama, ketika Injil datang dengan zending, datang pula sistem perekonomian dunia Barat yang sudah meninggalkan perhambaan karena teknologi mengambil alih fungsi hamba. Pada abad pertama tidak ada alternatif yang terpikirkan. Bahwa inti perhambaan, yakni bahwa hamba adalah milik tuannya, sama menurut hukum dengan harta benda, itu salah, jelas karena gambar Allah terletak pada semua manusia. Tetapi, perhambaan di dalam kekaisaran Romawi juga tidak selalu buruk. Perbedaan kedua dengan perhambaan Toraja ialah bahwa hamba Romawi pada umumnya dapat berharap untuk dibebaskan pada usia tiga atau empat puluhan dan menjadi warga Roma, karena menjadi hamba adalah soal ekonomi, bukan kasta. Malah, status sosial seorang hamba dari tuan yang statusnya tinggi dapat lebih tinggi daripada orang merdeka yang statusnya rendah. Dokter, guru dan sebagainya adalah hamba. Jadi, pemberontakan terhadap sistem perhambaan tidak masuk akal pada saat itu, dan biasanya hamba akan lebih beruntung dalam jangka panjang jika dia bertahan, sekalipun tuannya bengis.

Jadi, kita dapat lebih memahami strategi PB soal perhambaan. Sistem itu tidak dapat diubah langsung. Tetapi, dalam persekutuan jemaat kesetaraan sebagai manusia yang ditebus oleh Kristus dapat memulihkan harga diri yang secara prinsip digilas oleh hukum yang mengatakan bahwa hamba adalah benda. Tetapi apakah nasihat Petrus ini menggilas harga diri itu?

Untuk beberapa kata terjemahan LAI bisa disalahpahami. Kata “tunduk” menerjemahkan hupotassomai yang berarti bahwa saya menempatkan diri (membiarkan diri ditempatkan) di bawah pengaturan atasan. Jadi, kata itu tidak semutlak “menaati”. Saya harus taat kepada Allah, dan anak (kecil) kepada orangtuanya, tetapi dalam hubungan hierarkis, seperti pemerintah, tempat kerja dsb, saya harus mengakui kuasa yang diberikan Allah kepada atasan. Pada umumnya hal itu berarti bahwa saya menaati atasan, tetapi, seperti Petrus sendiri kepada Mahkamah Agung Yahudi, ada saatnya saya harus menaati Allah daripada manusia (Kis 4:19). Kemudian, kata “ketakutan” (fobos) di sini merujuk pada rasa hormat. Tentang atasan, kata fobos dapat berarti “takut kena penyiksaan dari atasan” atau “takut mengecewakan atasan yang saya hormati”. Ketakutan yang pertama memang perasaan yang dialami jika ada tuan yang bengis. Tetapi ketakutan yang kedua yang dimaksud di sini, karena ketakutan ini juga dianjurkan kepada tuan yang peramah. Jadi, artinya sesuai dengan kata hupotassomai tadi; kita menghargai kedudukan tuan, sehingga kita tidak mau mengecewakannya.

Hal itu memang tidak mudah jika kita diperlakukan dengan tidak adil, tetapi Petrus mengarahkan kita untuk melihat Hakim yang sebenarnya. Dalam aa.19-20 terjemahan “kasih karunia” mungkin tidak optimal. Kata kharis berarti sikap yang baik kepada pihak lain. Seringkali kata kharis dipakai untuk sikap Allah yang baik kepada kita bukan karena perbuatan kita melainkan karena penebusan dalam Kristus, dan untuk artian itu terjemahan “kasih karunia” tepat. Tetapi di sini Petrus merujuk justru pada perbuatan atau sikap yang berkenan di hadapan Allah, yaitu menanggung penderitaan yang tidak adil. Allah melihat perlakuan yang tidak adil itu, dan memuji kita, bukan tuan yang bengis. Implikasinya jangan disepelekan. Atasan yang tidak adil adalah salah. Anda mungkin tidak terlalu dikejutkan oleh perkataan itu, tetapi pada hemat saya cara orang Toraja mengeluhkan keputusan orang-orang besar dalam gereja dan masyarakat menunjukkan bahwa dalam lubuk hati orang Toraja percaya bahwa atasan semestinya benar. Keluhan-keluhan kita berbelit-belit karena kita sebagai bawahan tidak yakin bahwa sudut pandang kita bisa lebih benar daripada atasan. Jika berhadapan dengan atasan, keluhan kita hilang, atau kadangkala berlebihan karena emosi. Kita belum percaya bahwa Allah berpihak kepada kita dalam penderitaan yang tidak adil itu.

Bagaimana kita tahu bahwa Allah berkenan atas penanggungan penderitaan yang tidak adil? Karena Kristus telah merintis jalan itu. Perlakuan terhadap Kristus ketika Dia ditangkap dan disalibkan adalah perlakuan paling tidak adil karena Kristus tidak ada dosa sama sekali (a.22). Namun, Kristus tidak membalas tetapi menyerahkan perlakuan itu kepada Sang Hakim yang adil (a.23). Yang menarik, dengan demikian harga diri-Nya sama sekali tidak terancam. Dia diterima oleh Allah, dan disembah oleh milyaran orang Kristen dan dihormati oleh jutaan orang lain. Dia diperlakukan sebagai penjahat, tetapi Allah, dan sebagian besar manusia sejak itu, justru mempersalahkan Pilatus dan Mahkamah Agung Yahudi, bukan Yesus. Sungguh, atasan belum tentu benar. Menanggung penderitaan yang tidak adil tidak harus menggilas harga diri kita jika harga diri kita kuat di dalam Tuhan.

Selain sebagai contoh sikap baik, penderitaan Kristus juga menjadi motivasi untuk berbuat baik (aa.24-25). Kematian pada salib adalah juga kematian kita terhadap dosa supaya kita hidup dalam kebenaran (a.24). Pada satu tingkat hal itu adalah logis saja. Jika kita mengklaim bahwa kita mengandalkan kematian Kristus, maka kita setuju bahwa dosa kita sangat buruk, sehingga tidak masuk akal jika kita tetap senang di dalam dosa itu. Tetapi Petrus sadar bahwa pikiran yang logis tidak cukup. Bilur-bilur Kristus membawa penyembuhan ke dalam hati dan batin (a.24). Kita dimampukan untuk mengenal Allah kembali sebagai gembala yang baik (a.25). Dalam kesesatan sebelum mengenal Kristus, tidak mungkin kita menanggung penderitaan yang tidak adil tanpa dendam yang pahit. Tetapi karena kita sudah mengenal kasih Allah yang diperlihatkan dalam pengorbanan Kristus, kita dapat membalas kejahatan dengan kebaikan. Dampak pada masyarakat di sekitarnya dijelaskan Petrus dalam bagian-bagian berikut (3:8 dst).

Iklan
Pos ini dipublikasikan di 1 Petrus dan tag , , , , . Tandai permalink.

Satu Balasan ke 1 Pet 2:18-25 Harga diri di tengah penderitaan yang tidak adil

  1. Ping balik: 1 Pet 3:1-7 Rumah tangga sebagai wadah kesaksian dan spiritualitas « To Mentiruran

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s