Gal 5:16-26 Hidup oleh Roh atau daging?

Dalam kitab Galatia, Paulus menguraikan mengapa Kristus dan bukan Hukum Taurat adalah sumber pembenaran di hadapan Allah (2:16), sehingga berkat Allah sampai pada bangsa-bangsa sesuai dengan janji Allah kepada Abraham (3:14). Oleh karena itu, orang beriman hidup dalam kemerdekaan (5:1). Jika demikian, apakah mereka bebas untuk hidup seenaknya? Konon ada yang menafsir kasih karunia Allah demikian, sehingga sepanjang sejarah gereja ada kecenderungan untuk menekankan hukum sebagai kerangka hidup. Dari satu segi, adalah jelas bahwa kita butuh hikmat dari Allah untuk mengetahui jalan yang baik dan yang buruk. Tetapi bagi Paulus ada sumber kebenaran (hidup yang benar) yang lain dari usaha untuk menaati aturan-aturan hukum, yaitu hidup oleh Roh Kudus (5:5). Hidup itu adalah hidup “karena iman” (atas dasar iman) dalam harapan, dan iman itu bekerja oleh (melalui) kasih (5:6). Kasih merupakan inti hukum Taurat (5:14).

Jadi, perikop kita menjelaskan peran Roh Kudus dalam membentuk kebenaran yang berpusat pada kasih. Jadi, dambaan banyak pelayan (dalam wacana, paling sedikit) untuk melihat jemaat yang hidup dalam kasih mendapat jalan keluarnya di sini.

Alurnya tidak sulit diikuti. Dalam aa.16-18 ada nasihat inti: hiduplah oleh Roh (a.16a). Secara harfiah, Paulus mengatakan “berjalanlah oleh Roh”. Tetapi jalan ini bukan jalan yang diatur oleh aturan, melainkan oleh keinginan. Ada dua sumber keinginan: daging dan Roh. Keinginan dari kedua sumber ini bertentangan (a.17). Jika saya mau berbuat jahat, Roh melawan keinginan itu dengan keinginan yang baik. Jika saya mau berbuat baik, daging melawan keinginan itu dengan keinginan yang buruk. Jadi, nasihat Paulus berarti, berpihaklah pada keinginan Roh. Jika mau berbuat jahat, carilah keinginan Roh yang berlawanan dengan keinginan itu. Jika mau berbuat baik, teguhkanlah keinginan Roh itu. Jika kita berjalan sesuai dengan keinginan Roh, kita sama sekali tidak akan menuruti keinginan daging (a.16b).

Dalam a.18 Paulus mempertegas bahwa jalan ini berbeda dari jalan hukum Taurat. Kita dipimpin oleh Roh, artinya, hidup kita tidak kacau atau tanpa arah. Tetapi pengaturannya bukan dari hukum Taurat (lebih lagi hukum yang lain yang tidak berasal dari Allah).

Dalam aa.19-21 Paulus menggambarkan perbuatan macam apa yang ditimbulkan oleh keinginan daging. Dari daftar ini jelas bahwa Paulus menggunakan kata daging secara metaforis. Hal seperti perselisihan atau kepentingan diri sendiri atau roh pemecah bukan hawa nafsu dalam tubuh melainkan hal-hal yang menyangkut hati dan akal. Kata daging merujuk pada keberadaan manusia yang lemah dan terbatas (mis. 4:14, diterjemahkan LAI dengan kata “tubuh”). Hanya, karena kondisi manusia termasuk berada di bawah kuasa dosa (3:22), kata itu menjadi cocok untuk menggambarkan keberdosaan manusia. Aturan seperti hukum Taurat gagal bukan karena aturannya tidak baik tetapi karena kelemahan manusia itu. Istilah daging merujuk pada ketidakberdayaan manusia di hadapan dosa. Hal itu dapat dilihat dalam daftar ini. Siapa memilih untuk iri hati atau amarah? Pemecah biasanya tidak sadar bahwa dia memiliki roh pemecah, karena hanya sanggup melihat kelemahan pihak yang lain. Kita memilih untuk melakukan perbuatan-perbuatan yang berasal dari keinginan-keinginan ini, tetapi keinginan-keinginan sendiri terasa normal saja, sampai dari perbuatan atau akibatnya kita menjadi sadar akan apa yang telah kita perbuat. Ketika kita sadar, kita juga akan setuju dengan a.21b, yaitu bahwa hal-hal seperti itu tidaklah cocok dengan kerajaan Allah, sehingga jika kehidupan kita diwarnai oleh hal-hal ini kita tidak cocok dengan kerajaan Allah.

Sebaliknya, dalam aa.22-23 buah Roh digambarkan. Adalah menarik bahwa lawan dari perbuatan daging bukan perbuatan Roh melainkan buah Roh. Keinganan yang baik berasal dari karakter yang dibentuk Roh. Karakter itu sesuai dengan hukum Taurat (a.23b), tetapi seperti dijelaskan di atas karakter itu tidak akan dihasilkan oleh hukum Taurat oleh karena keberdosaan kita. Kasih adalah buah pertama, sesuai dengan penjelasan Paulus bahwa kasih mencakup seluruh hukum Taurat (5:14). Iman dalam 5:6 bekerja melalui kasih karena Roh membuahkan kasih di dalam kita. Roh adalah perwujudan berkat Allah yang diterima oleh iman (3:14), dan pembaruan hidup dari dalam adalah salah satu berkat itu.

Sebagai kesimpulan, Paulus mengingatkan kita tentang hakikat kita yang sebenarnya dalam Kristus, yaitu bahwa kita adalah orang yang hidup oleh Roh dan bukan oleh daging (aa.24-25). Segi bukan oleh daging digambarkan sebagai penyaliban daging. Karena Kristus mati bagi dosa, berada di dalam Kristus berarti mematikan hawa nafsu dan keinginan yang berdosa. Hal itu dilakukan dengan hidup dipimpin oleh Roh.

Menarik bahwa dalam a.26 (seperti dalam a.15) Paulus merujuk pada keadaan jemaat yang kurang damai, yaitu saling menantang dan mendengki. Di situlah ironi hidup oleh hukum. Orang berharap bahwa hukum dapat mengubah umat menjadi lebih baik. Tetapi, jika hukum Taurat tidak sampai pada akar masalah, lebih lagi hukum-hukum yang lain. Jemaat tidak akan berubah karena aturan gereja makin ketat, karena tegoran dari mimbar makin berapi-api, karena sanksi makin berat. Hal-hal itu tidak sanggup mengurangi rasa bersaing, kedengkian, pelarian kepada dukun dsb. Jemaat akan berubah karena Kristus diberitakan sedemikian rupa sehingga mereka mau menyalibkan daging dan hidup oleh Roh. Baru pada saat itu nasihat, seperti yang banyak disampaikan Paulus sendiri, akan berguna, bukan untuk mengubah hati orang melainkan untuk mengatur semangat rohani yang sudah ada.

Iklan
Pos ini dipublikasikan di Galatia dan tag , , , , , , , . Tandai permalink.

3 Balasan ke Gal 5:16-26 Hidup oleh Roh atau daging?

  1. menemani berkata:

    Terima kasih, Pak Andrew, penjelasan yang menolong pembaca :) Selamat melayani!

  2. abuchanan berkata:

    1. Ya, maksudnya a.15. Terima kasih, sudah diperbaiki.
    2. Untuk pemahaman saya soal itu, lihat, misalnya, Pelajaran yang sejati dari kasih karunia.
    3. Maksud saya adalah nasihat seperti dalam 6:1-10. Adanya nasihat itu tidak mengubah sikap, tetapi untuk orang yang sudah mau hidup oleh Roh, nasihat itu memberitahu (atau memperjelas) bagaimana caranya kita hidup.
    Semoga bermanfaat, Tuhan memberkati.

  3. menemani berkata:

    Bahasan yang baik. Ada beberapa pertanyaan:
    1. “Menarik bahwa dalam a.26 (seperti dalam a.14) Paulus merujuk pada keadaan jemaat yang kurang damai, yaitu saling menantang dan mendengki.” Dimanakah persamaan antara ayat 26 dengan ayat 14?
    2. “Jemaat akan berubah karena Kristus diberitakan sedemikian rupa sehingga mereka mau menyalibkan daging dan hidup oleh Roh.” Bagaimana caranya?
    3. “Baru pada saat itu nasihat, seperti yang banyak disampaikan Paulus sendiri, akan berguna, bukan untuk mengubah hati orang melainkan untuk mengatur semangat rohani yang sudah ada.” Mengapa bukan untuk mengubah hati?
    Sebenarnya perikop ini perlu dibaca dan dibahas hingga 6:10 ya, agar semakin jelas. Terima kasih, ya. Tuhan memberkati dan tetap semangat.
    Salam,
    eva

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s