Yer 31:21-26 Meresponsi harapan

Aa.21-22 secara sederhana dapat diartikan sebagai seruan untuk berani mengambil dengan tidak ragu-ragu (22a) kesempatan yang diciptakan Tuhan (22b) dengan memperhatikan jalan yang telah ditempuh (21). Pertanyaan ialah, kesempatan apa yang dimaksud? Atau apakah kita dengan bebas mengartikannya sesuai dengan kebutuhan kita, misalnya, “berikan uang banyak-banyak untuk pendirian gedung gereja karena IMB sudah ada”. Memperhatikan konteks akan memberi kita pemahaman yang lebih tajam dan dalam dari sekadar seruan untuk berani.

Yeremia 30-31 merupakan serangkaian nubuatan keselamatan. Setelah pembuangan, Allah akan membawa Israel pulang dari pembuangan (30:10; 31:8) dan memulihkan mereka di hadapan musuh-musuh (30:16) sehingga keadaan mereka pulih (mis. 31:11-14), luka-luka batin diobati (mis. 30:17; 31:15-17) dan ada kesadaran dan pertobatan yang baru (31:18-20). Alasannya supaya relasi perjanjian terwujud, yaitu bahwa Tuhan menjadi Allah Israel dan Israel menjadi umat-Nya (30:22; 31:1, 33b). Setelah sela dalam a.26, pasal 31 berakhir dengan serangkaian nubuatan tentang zaman baru, ditandai dengan frase “waktunya akan datang” (31:27, 31, 38). Bagian itu mungkin bermaksud bukan lagi akan proses keselamatan melainkan akan keadaan yang terwujud olehnya.

Jadi, seruan aa.21-22 ini merupakan seruan untuk masuk ke dalam zaman baru itu, satu-satunya seruan dalam pp.30-31 untuk bertindak (yang lain adalah seruan untuk mendengar dan tidak takut). Israel dipanggil untuk mengingat jalan ke dalam pembuangan supaya kembali ke kota-kotanya di Israel (21). Kota-kota di sini berarti hidup sebagai komunitas, alias umat Allah. Untuk hal itu, tidak usah ragu-ragu, karena keadaan berubah, Tuhan menciptakan sesuatu yang baru. Apa persis yang dimaksud dengan “perempuan merangkul laki-laki” tidak jelas. Beberapa kemungkinan dicantumkan di bawah.[1] Tetapi dari konteks (atau koteks, teks di sekitarnya), yang baru yang diciptakan Tuhan ialah keselamatan, seperti digambarkan dalam aa.23-25 dan seluruh pp.30-31. Artinya bahwa karya keselamatan Tuhan bagi Israel yang menjadi landasan untuk Israel berencana dan berani pulang ke tanah suci.

Lalu, bagaimana dengan kita yang bukan orang Israel dalam pembuangan? Memang, kata keselamatan, yang dipakai dalam koteks (30:7, 10, 11; 31:7) bisa langsung kita maknai sebagai pengikut Kristus. Perlu diingat bahwa pemaknaan itu tidak sembarang. Sebagaimana saya uraikan di sini, pembuangan Israel sejajar dengan pengusiran manusia dari taman Eden dan kematian Kristus, sehingga pengembalian dari pembuangan sejajar dengan hidup dan kebangkitan Kristus. Kebangkitan Kristus memecahkan keterasingan Israel dari Allah yang melambangkan keterasingan manusia dari Allah. Jadi, seruan ini mengajak kita sebagai orang-orang berdosa untuk kembali kepada Tuhan dengan bergabung kembali dengan persekutuan orang percaya.

Apakah dengan demikian perikop ini hanya berbicara tentang jiwa kembali kepada Tuhan? Tidak. Gambaran-gambaran PL tentang syalom yang dijanjikan Tuhan tetap melatarbelakangi harapan PB tentang kehidupan jemaat yang terarah oleh harapan ciptaan baru. Syalom dalam jemaat yang sedang ditindas belum tentu mengalami kelimpahan materi—mungkin untuk hal itu ciptaan baru harus ditunggu—tetapi soal menikmati persekutan sebagai umat Allah semestinya sudah dialami, dan peningkatan ekonomi jemaat searah dengan harapan itu sejauh dimungkinkan, seperti di Indonesia pada umumnya. Tetapi banyak yang mundur maju dalam iman, tidak menolak tetapi tidak siap untuk menjadikan keselamatan Allah pengarah dan tujuan hidupnya. Apakah hal itu karena harapan jemaat masih kabur? Saya menghitung 44 ayat tentang harapan sebagai landasan seruan dalam aa.21-22. Landasan seruan untuk kembali dan tidak ragu berada bukan dalam semangat penyeruan melainkan dalam karya keselamatan Allah yang disampaikan secara panjang lebar.

[1] Kata “merangkul” menerjemahkan kata yang berarti “berada di sekitar”. Tafsiran tradisional mengartikannya sebagai nubuatan Maria mengandung Yesus. Dari perspektif PB tafsiran itu masuk akal, tetapi tidak ada petunjuk bahwa kalimat ini adalah nubuatan Mesias. Ada juga yang mengaitkan perempuan dengan Rahel (31:15) yang dapat kembali merangkul anak-anaknya yang dibuang (yaitu, Efraim, Manasye dan Benyamin) karena sudah pulang. Satu alternatif lagi beranjak dari kemiripan “tidak taat” dan “merangkul” dalam bahasa aslinya, sehingga mungkin ada permainan kata. Dengan demikian, anak dara Israel yang tidak taat adalah perempuan yang kembali merangkul Tuhan sebagai pahlawan yang sudah menyelamatkannya (kata geber sering berarti laki-laki yang gagah perkasa, dan dalam rangka itu dapat dipakai untuk Tuhan). Tidak satupun tafsiran tanpa kelemahan yang signifikan.

Pos ini dipublikasikan di Yeremia dan tag , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s