Gal 3:10-14 Kristulah yang membuka jalan iman dengan menanggung kutuk hukum Taurat

Dalam suratnya kepada jemaat-jemaat di Galatia, Paulus menghadapi ancaman yang besar terhadap Injil yang dia beritakan, yaitu kelompok yang mau supaya anggota-anggota jemaat menyunatkan diri dan menanggung hukum Taurat (HT). Paulus melihat bahwa hal itu mengancam kebenaran Injil. Kristus “telah menyerahkan diri-Nya karena dosa-dosa kita, untuk melepaskan kita dari dunia jahat yang sekarang ini” (1:4), tetapi mereka “begitu lekas berbalik” dari Injil anugerah itu (1:5), sehingga anugerah Allah ditolak (2:21) dan kelimpahan Roh Kudus diganti dengan usaha kekuatan sendiri (3:2-5). Alhasil, mereka saling membinasakan (5:15, bnd. 5:26) dan terancam binasa kekal (6:8).

Intisari penguraian Paulus melawan ajaran sesat itu terdapat dalam p.3 ini, di mana dia membuktikan bahwa “jikalau kamu adalah milik Kristus, maka kamu juga adalah keturunan Abraham dan berhak menerima janji Allah” (a.29). Abraham penting karena dia diakui, oleh kelompok pengacaupun, sebagai asal usul orang Israel dan penerima janji yang mendasari perjanjian-perjianjian berikutnya dalam PL. Menjadi anak Abraham berarti berada dalam rencana Allah untuk memberkati dunia ini, menanggapi kutuk yang didatangkan oleh kejatuhan manusia ke dalam dosa. Makanya, alur penguaraian Paulus mulai dengan Abraham dibenarkan oleh iman (a.6) sehingga berkat datang kepada orang-orang beriman (a.9). Sebaliknya, HT mendatangkan kutuk (aa.10-12), yang daripadanya Kristus meraih penebusan (a.13), sehingga berkat itu datang dalam Kristus (a.14). Janji kepada Abraham itu mendahului HT (aa.15-8), dan fungsi HT terkait dengan mengekang pelanggaran sampai Kristus datang (aa.19-22), seperti fungsi pengawal (a.23) atau penuntun bagi anak-anak (a.24-25). Makanya, cara sekarang menjadi anggota keluarga Allah bukan dalam HT melainkan dalam Kristus (aa.26-28).

Jadi, unsur baru yang dikembangkan dalam perikop kita ialah bahwa Kristulah yang membuka jalan iman itu dengan menanggung kutuk HT. Kutuk HT dijelaskan dalam aa.10-12. Frase “yang hidup dari pekerjaan hukum Taurat” (a.10a) merujuk pada orang yang menjadikan HT dasar kehidupannya. Kelompok ini menganggap bahwa yang menjadi anak-anak Abraham adalah orang yang bersunat dan berusaha untuk menaati seluruh HT, termasuk menghindari makanan yang najis. Ada dua masalah pokok dengan pendirian mereka. Yang pertama ialah bahwa mereka tidak menaati HT secara menyeluruh (a.10b). Hal itu tidak berarti bahwa orang-orang Yahudi hampir sempurna tetapi gara-gara satu dua cacat HT mengutuk mereka. HT menyediakan penghapusan dosa melalui kurban-kurban untuk pelanggaran-pelanggaran kecil. Masalahnya bahwa ada maksud-maksud pokok dari HT yang diabaikan saja. Khususnya, dalam konteks surat ini, semangat dalam janji Allah supaya berkat-Nya sampai pada bangsa-bangsa alpa di antara mereka. Hal itu nampak dalam 2:11-14, di mana makanan menjadi pemisah antara orang-orang Yahudi dan orang-orang non-Yahudi. Contoh paling parah ialah Paulus sendiri yang sebagai orang yang dulu begitu bersemangat dalam agama Yahudi justru mau membinasakan gereja yang mencakup bangsa-bangsa (1:13-14). (Bandingkan juga kritikan Yesus terhadap kaum Farisi bahwa mereka menyempitkan artian “sesama”, Lk 10:25-37 dan meniadakan perintah-perintah Allah demi kepentingan adat-istiadat, Mk 7:13). HT menjadikan keberdosaan sikap hati mereka kentara (bnd. 3:22), dan menyatakan kutuk Allah atas keberdosaan itu. Masalah pokok kedua ialah bahwa HT tidak dimaksud sebagai ganti iman (aa.11-12), justru karena keberdosaan manusia itu (3:21-22). Untuk orang-orang Yahudi yang beriman, HT bisa saja menjadi cara untuk menghayati iman itu (seperti orang-orang Israel yang menyambut Yesus dengan baik dalam Lukas 1-2). Tetapi kelompok penyesat menjadikan ketaatan kepada aturan-aturan HT sebagai hal pokok, bukan lagi sebagai cara untuk menyatakan iman.

Kemudian, a.13 menjawab masalah pertama, yaitu keberdosaan manusia yang diungkapkan tetapi tidak dipecahkan oleh HT. (Masalah kedua adalah contoh keberdosaan itu, yaitu mengabaikan iman, tetapi juga dikembangkan dalam 3:19-25.) Kristus dikutuk HT bukan karena sikap hati yang mengabaikan semangat HT (seperti dalam a.10b), melainkan karena pada salib itu dia dihitung sebagai pemberontak yang layak dihukum mati. Ul 21:22-23 yang dikutip Paulus di sini mungkin membatasi kebiasaan di mana orang-orang yang dianggap sungguh jahat digantung dan tidak dikuburkan, supaya jangan roh mereka mendapat istirahat. Hal itu sama seperti jika dalam adat lama Toraja upacara Rambu Solo’ tidak diadakan supaya arwah orangnya dikutuk. Kristus tergolong dengan pendosa berat dan menanggung kutuk HT itu “karena kita” atau “demi” (huper) kita. Gambarannya mungkin bahwa kutuk itu terserap oleh Kristus, sehingga tidak lagi mengancam kita yang berlindung pada-Nya. Kutuk berada dalam wilayah maut, dan termasuk semua yang melawan damai sejahtera (bnd. Ul 28:1-14 dengan Ul 28:15dst). Kutuk yang diperjelas HT itu melatarbelakangi bahasa Paulus tentang “dunia jahat yang sekarang ini” (1:4), dan Kristuslah yang menebus kita dengan menetralisir kutuk itu. Korban-korban dalam adat Toraja memiliki fungsi yang searah dengan tafsiran ini.

Hasilnya, dalam a.14, ialah bahwa berkat Abraham itu sampai kepada bangsa-bangsa, terutama dalam hadirat Roh Kudus yang melakukan mujizat (3:5), berbuah kasih, sukacita dan damai sejahtera di dalam jemaat (5:22), dan menghasilkan hidup yang kekal (6:8).

Bagaimana penguraian Paulus ini dapat diterapkan dalam konteks sekarang? (Dalam bahasa homiletika, bagaimana sampai pada amanat khotbah?) Dari pembahasan di atas, berkat Roh Kudus dapat dimaknai baik untuk kehidupan sekarang (3:5, 5:22) maupun untuk keselamatan eskatologis (6:8). Lebih rumit adalah soal HT, karena sekarang tidak banyak yang mengusulkan sunat! Tetapi hidup dari perbuatan menjadi hal yang lebih luas daripada HT saja dalam Ef 2:8-9 dan Tit 3:4, sehingga bersama dengan para Reformator kita bisa melihat semua bentuk agama yang mementingkan aturan di atas iman sebagai hal yang mengancam anugerah di dalam Kristus. Termasuk aturan gereja. Kemudian, kita juga melihat sikap-sikap pada masa kini yang menyempitkan jangkauan anugerah Allah dalam Kristus hanya pada kelompok tertentu, atau merendahkan golongan tertentu walaupun mereka sama-sama berada di dalam Kristus. Kedua hal itu bisa saja bersatu. Gereja seringkali menganggap bahwa pemberitaan Kristus bermaksud untuk menjadikan orang sama seperti kita, dalam pola bergereja yang kebarat-baratan dan mengandaikan tingkat pendidikan yang lumayan. Tetapi bisa saja iman kepada Kristus yang sejati daapt dinyatakan dalam bentuk yang lebih kontekstual. Jangan sampai kekakuan bergereja menghambat berkat iman kepada Kristus sampai pada semua bangsa.

Penebusan Kristus juga perlu dikontekskan, bukan dalam artian mencari padanannya dalam konteks sekarang melainkan mencari penjelasannya dari konteks sekarang. Penebusan Kristus bukan sebuah contoh pendamaian antara Allah dan manusia melainkan kenyataan yang kepadanya contoh-contoh pendamaian yang lain merujuk, apakah itu sistem kurban dalam HT, ataupun pemahaman tentang pendamaian dalam budaya setempat sejauh mana itu dapat membantu jemaat untuk memahami peristiwa kunci ini. Penebusan Kristus semestinya menjadi pokok amanat khotbah, dengan tujuan supaya jangan kita mengandalkan usaha kita yang lain. Paulus heran bahwa jemaat berbalik dari anugerah Allah, dan semestinya setelah mendengar bagaimana Kristus menebus kita dari kutuk HT jemaat juga menghindari apapun yang menjadikan kematian Kristus sia-sia.

Iklan
Pos ini dipublikasikan di Galatia dan tag , , , , , . Tandai permalink.

2 Balasan ke Gal 3:10-14 Kristulah yang membuka jalan iman dengan menanggung kutuk hukum Taurat

  1. Johana berkata:

    Hal ini memang jadi perdebatan yang seolah tidak ada habisnya di dalam PB khususnya dalam surat2 Paulus. Seolah2 ada dua kubu yang justru membawa pada pemisahan yang ekstrim antara HT dan Iman kepada Yesus Kristus. Harus juga dipahami kenapa orang Yahudi sangat mencintai Taurat. Taurat telah menjadi bagian hidup yang sangat penting utamanya pada zaman pembuangan. Taurat menjadi identitas dan pengikat komunitas mereka.
    jadi menurut saya yang paling penting untuk ditekankan sekarang, seperti yang bapak tulis di atas bahwa ada orang /penyesat yang berusaha mempertentangkan antara Hukum Taurat dan Iman kepada Yesus Kristus. Pada dirinya Hukum Taurat itu tidak salah. Hukum Taurat dan Injil mendapat tempat yang sama. Hukum Taura meminjam istilah bapak “Hukum Taurat adalah cara menyatakan iman”. Jadi pendekatannya, “baik ini, baik itu”. Hukum Tarat mendapat jalannya didalam Ijil.
    Bagi orang Toraja, Aluk sola Pemali menjadi pengikat ketorajaan kita di manapun, tetapi aluk sola pemali itu tidak akan sempurna kita lakoni. Ia menjadi rambu2, norma dalam menjaga nilai dan keharmonisan alam dan ciptaan sereta relasi antar makhluk, tetapi yang menyempurnakannya adalah iman dan percaya kepada Kristus yang telah mati dan bangkit untuk kita dan yang akan menyempurnakan Aluk sola Pemali tersebut.

    sekian, dan selamat mempersiapkan diri….

  2. abuchanan berkata:

    Terima kasih tanggapannya. Satu hasil dari perjuangan Paulus ialah bahwa setiap budaya bisa menjadi wadah Injil, bukan hanya budaya Yahudi. Selamat menghayati Injil dalam ketorajaan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s